4 Tantangan Menjadi Seorang Scalper dalam Investasi Saham

Scalping merupakan salah satu strategi perdagangan saham yang memanfaatkan pergerakan harga dalam jangka waktu sangat singkat, bahkan hanya dalam hitungan menit. Teknik ini memerlukan kecepatan, ketelitian, hingga pemahaman mendalam terkait dinamika pasar yang terus berubah setiap saat.

Scalping memerlukan kesiapan mental dan teknis karena setiap kesalahan kecil dapat berakibat terhadap kerugian yang signifikan. Berikut ini merupakan beberapa tantangan menjadi seorang scalper dalam investasi saham yang tentunya wajib diwaspadai.

1. Tekanan waktu yang sangat ketat

Seorang scalper harus mampu mengambil keputusan dalam hitungan detik, sehingga tekanan waktu bisa menjadi tantangan yang sangat besar untuk dihadapi setiap harinya. Pergerakan harga yang cepat menuntut pada scalper untuk selalu berada di depan dan siap mengeksekusi transaksi sebelum peluangnya menghilang.

Di sisi lain, tekanan waktu yang intens juga akan membuat scalper mudah melakukan kesalahan pada saat sedang terburu-buru atau kehilangan fokus ketika pasar bergerak liar. Oleh sebab itu, kemampuan dalam mengelola waktu secara presisi merupakan hal yang sangat penting dalam menunjang kesuksesan dari seorang scalper.

2. Kebutuhan modal yang cukup besar untuk menutupi risiko

Scalping memerlukan modal relatif besar karena keuntungan yang diperoleh dari transaksi pada umumnya sangat kecil dan harus diulang berkali-kali. Melalui modal yang lebih besar, maka scalper pun memiliki ruang untuk bisa menghadapi adanya spread, biaya transaksi, hingga volatilitas harga yang kerap mengalami perubahan secara tiba-tiba.

Tanpa modal yang memadai, maka keuntungan dari scalping tersebut akan terkikis oleh biaya dan risiko yang mungkin muncul setiap harinya. Selain itu, para trader juga harus menghadapi adanya potensi kerugian beruntun dalam waktu singkat yang justru bisa menurunkan modal secara drastis.

3. Konsentrasi tinggi yang menguras energi mental

Scalper dituntut untuk berkonsentrasi penuh karena mereka harus membaca grafik, memantau indikator, atau bahkan memperhatikan perubahan harga setiap saat. Fokus yang terpecah bisa membuat scalper melewatkan peluang penting atau bahkan masuk ke posisi pada waktu yang keliru.

Konsentrasi yang panjang bisa menyebabkan kelelahan mental dan justru berujung pada pengambilan keputusan yang dianggap kurang akurat. Tidak heran apabila aktivitas scalping ini membutuhkan mental yang kuat dan fokus yang baik karena aktivitasnya berlangsung dengan cepat.

4. Risiko emosional yang lebih tinggi daripada strategi lain

Scalping menghadirkan tekanan emosional yang kuat karena aktivitas jual beli yang dilakukan sangat cepat dan berulang. Para trader harus mampu untuk memastikan kestabilan emosi ketika menghadapi fluktuasi harga, terutama pada saat posisi bergerak berlawanan dengan ekspektasi yang ada.

Emosi yang tidak terkontrol justru bisa menyebabkan overtrading, yaitu pada saat trader membuka terlalu banyak posisi tanpa analisis yang matang. Kebiasaan ini juga sering terjadi pada saat scalper merasa ingin membalas kerugian sebelumnya dan justru membuat keputusan yang berdasarkan pada dorongan emosi sesaat.

Walau memiliki peluang menarik, tapi tetap ada tantangan menjadi seorang scalper dalam investasi saham dan hal ini tak bisa dianggap remeh. Justru dengan melakukan beberapa hal di atas, kamu bisa lebih mempersiapkan diri apabila tertarik untuk melakukan scalping dalam investasi saham. Apakah kamu tertarik untuk melakukan scalping?

5 Saham Milik Boy Thohir, Cuan dari Energi hingga Industri Kimia Tokenisasi Saham Makin Diminati, Volume xStocks Meroket 551 Persen

Leave a Comment