
Muamalat.co.id JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali pekan ini dengan performa positif, dibuka menguat secara signifikan. Pada Senin (11/8/2025) pukul 9.10 WIB, IHSG tercatat naik 0,95%, mencapai level 7.605,11. Penguatan ini memberikan sinyal optimisme awal bagi investor di pasar modal.
Meskipun demikian, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Tasrul Tannar, memberikan proyeksi yang perlu diwaspadai. Secara teknikal, Tasrul memperkirakan IHSG kini memasuki zona rawan koreksi jangka pendek. Untuk pergerakan pada Senin (11/8/2025), rentang IHSG diprediksi akan berada di antara 7.470,31 hingga 7.661,69.
Kondisi teknikal IHSG saat ini menunjukkan tren positif jangka pendek yang masih terjaga, ditandai dengan Relative Strength Index (RSI) di angka 58,27 dan Chaikin Money Flow (CMO) sebesar 16,54. Angka-angka ini mengindikasikan momentum beli masih dominan, namun perlu dicatat bahwa beberapa indikator mulai mendekati area jenuh beli (overbought). Money Flow Index (MFI) yang sangat tinggi di 98,02 menegaskan adanya arus dana masuk yang signifikan ke pasar. Namun, level MFI setinggi ini seringkali menjadi sinyal peringatan akan potensi aksi ambil untung (profit taking). Senada dengan itu, William’s %R di -76,59 juga memperkuat indikasi harga yang relatif tinggi dalam rentang pergerakan terkini.
Dari perspektif tren, nilai r-squared sebesar 0,859 menunjukkan konsistensi pergerakan IHSG yang cukup kuat mengikuti pola tren dalam 30 hari terakhir. Slope positif sebesar 28,82 merefleksikan kemiringan tren naik yang cukup tajam, sementara volatilitas pasar tetap terjaga dengan standar deviasi 1,48. Kombinasi kondisi ini mencerminkan optimisme yang masih tinggi di pasar, didukung oleh berlanjutnya arus modal masuk. Namun, investor tetap perlu mengantisipasi bahwa IHSG mulai memasuki zona rawan koreksi teknikal jangka pendek. Secara teknikal, area support utama IHSG berada di 7.521,10 dan support kedua di 7.470,31, yang berfungsi sebagai penahan harga jika terjadi pelemahan. Di sisi atas, resistance terdekat berada di 7.616,79 dan resistance berikutnya di 7.661,69, menjadi target kenaikan selanjutnya. Apabila arus modal asing dan sentimen positif terus bertahan, IHSG memiliki peluang untuk menembus level resistance tersebut, namun potensi pullback atau koreksi tetap perlu diantisipasi mengingat kondisi overbought pada indikator MFI. Level kritikal yang perlu diperhatikan adalah 7.470.
Selain analisis teknikal untuk IHSG secara keseluruhan, Tasrul Tannar juga memberikan rekomendasi teknikal untuk beberapa saham pilihan. Berikut adalah rincian analisis dan rekomendasinya:
1. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS)
Saham BRIS saat ini berada dalam kondisi teknikal yang sangat tertekan, dengan indikator menunjukkan area oversold ekstrem. RSI di 6,47, William’s %R di -85,55, dan CMO di -87,06 secara kolektif mengindikasikan dominasi distribusi yang hampir total, di mana aksi jual mendominasi pergerakan harga. MFI yang sangat rendah di 7,05 menegaskan keluarnya arus dana secara masif, sehingga minat beli jangka pendek sangat minim dan potensi tekanan lanjutan tetap terbuka lebar. Dari sisi tren, r-squared sebesar 0,633 menunjukkan bahwa pergerakan harga tidak terlalu konsisten mengikuti tren, hal ini lazim terjadi saat volatilitas tinggi atau dalam kondisi panic selling. Meskipun demikian, slope positif +9,52 mengindikasikan adanya sedikit upaya pembalikan arah dari tekanan sebelumnya, meskipun sinyal ini belum cukup kuat untuk mengubah sentimen secara keseluruhan.
Dengan beta sebesar 1,113, BRIS memiliki volatilitas sedikit di atas IHSG, sedangkan korelasi 0,86 menunjukkan pergerakannya cukup sejalan dengan pasar secara umum. Secara teknikal, support utama berada di 2.650 dan support kedua di 2.600, yang menjadi area pertahanan krusial. Jika level ini ditembus, risiko penurunan lebih dalam akan meningkat signifikan. Di sisi lain, resistance terdekat di 2.770 dan resistance berikutnya di 2.830 adalah target kenaikan jika terjadi rebound teknikal. Dengan price volatility ratio sebesar 2,39 dan volume volatility ratio 4,90, pergerakan harga relatif dinamis, membuka peluang trading jangka pendek apabila ada konfirmasi pembalikan arah disertai lonjakan volume. Cut loss level disarankan di 2.580.
Pada awal perdagangan Senin (11/8/2025), saham BRIS dibuka di level Rp 2.710 per saham.
Support : Rp 2.600
Resistance : Rp 2.830
Rekomendasi : Buy on Weakness
Grafik BRIS oleh TradingView
2. PT Rukun Raharja Tbk (RAJA)
Saham RAJA saat ini berada pada fase teknikal dengan tekanan moderat dan kecenderungan melemah. RSI di 37,99 menunjukkan momentum jual masih lebih dominan, meskipun belum masuk zona oversold penuh. Sementara itu, William’s %R di -86,73 sudah mendekati area jenuh jual yang berpotensi memicu peluang technical rebound. CMO sebesar -24,02 mengonfirmasi adanya tekanan distribusi, sedangkan MFI di 48,26 mencerminkan arus dana yang relatif netral tanpa indikasi masuk atau keluar besar-besaran. Dari sisi tren, r-squared sebesar 0,587 menandakan bahwa pergerakan harga kurang stabil mengikuti pola tren yang ada, kondisi ini umum terjadi pada saham dengan volatilitas tinggi. Slope positif 10,07 memberi indikasi ada sedikit kecenderungan naik dalam periode pengamatan, namun beta sebesar 2,282 menunjukkan RAJA sangat sensitif terhadap pergerakan pasar dan berisiko tinggi, dengan fluktuasi harga yang lebih dari dua kali lipat IHSG.
Korelasi sebesar 0,82 mengindikasikan bahwa meskipun terhubung dengan pergerakan pasar, pergerakan RAJA cukup independen secara individual. Secara teknikal, support terdekat berada di 2.670 dan support kedua di 2.590, yang menjadi area penting untuk menguji kekuatan pembeli. Jika level ini bertahan, peluang rebound menuju resistance di 2.830 dan 2.910 tetap terbuka. Dengan price volatility ratio 3,78 dan volume volatility ratio 3,89, RAJA tergolong saham berpotensi untuk swing trade agresif, namun memerlukan disiplin stop loss ketat karena risiko pergerakan tajam dua arah sangat tinggi. Cut loss level disarankan di 2.580.
Pada awal perdagangan Senin (11/8/2025), saham RAJA dibuka di level Rp 2.650 per saham.
Support : Rp 2.670
Resistance : Rp 2.910
Rekomendasi : Trading buy
Grafik RAJA oleh TradingView
3. PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA)
Saham SSIA saat ini berada dalam kondisi teknikal yang sangat tertekan, dengan indikasi oversold ekstrem. RSI di 7,81 mencerminkan tekanan jual yang sangat kuat, sedangkan CMO sebesar -84,38 menandakan dominasi distribusi hampir total. MFI di 21,21 menunjukkan aliran dana keluar yang cukup signifikan, meskipun belum mencapai titik ekstrem jenuh jual pada indikator tersebut. William’s %R di -62,60 berada di area lemah, namun belum menyentuh level oversold penuh. Dari sisi tren, r-squared sebesar 0,852 menunjukkan konsistensi pergerakan harga mengikuti tren jangka pendek yang ada, dengan slope positif 43,03 yang mengindikasikan upaya pembalikan arah meskipun tekanan masih dominan. Beta di 1,187 memperlihatkan volatilitas SSIA sedikit di atas pasar, sementara standar deviasi 1,45 mengindikasikan fluktuasi harga yang relatif tinggi.
Korelasi di 0,70 menandakan hubungan pergerakan harga SSIA dengan pasar cukup moderat. Secara teknikal, support utama berada di 2.440 dan support kedua di 2.390 sebagai area kritikal penahan pelemahan. Jika level ini bertahan, ada peluang rebound menuju resistance 2.550 dan 2.600. Dengan price volatility ratio yang sangat tinggi di 7,76 dan volume volatility ratio di 5,23, SSIA termasuk saham dengan potensi pergerakan tajam dua arah, sehingga peluang trading jangka pendek terbuka lebar jika terjadi konfirmasi pembalikan arah dengan dukungan volume yang signifikan. Cut loss level disarankan di 2.380.
Pada awal perdagangan Senin (11/8/2025), saham SSIA dibuka di level Rp 2.500 per saham.
Support : Rp 2.390
Resistance : Rp 2.600
Rekomendasi : Buy on Weakness
Grafik SSIA oleh TradingView