Muamalat.co.id Coinbase menegaskan strategi “everything exchange” untuk 2026, dengan fokus pada stablecoin, Ethereum layer-2 Base, dan pengembangan produk pertukaran yang melampaui sekadar cryptocurrency.
Melansir Cointelegraph Jumat (2/1/2026), CEO Brian Armstrong mengungkapkan, strategi ini mencakup perdagangan saham, komoditas, dan pasar prediksi, menjadikan Coinbase sebagai platform serba bisa atau “super app” bagi pengguna.
Chandra Asri Pacific (TPIA) Akuisisi SPBU Esso di Singapura, Begini Pandangan Analis
Pada konferensi akhir tahun 2025, Coinbase meluncurkan perdagangan saham dan pasar prediksi.
Selain itu, aplikasi wallet Coinbase direbranding menjadi “everything app,” menambahkan fitur sosial dan onchain.
Armstrong menekankan bahwa langkah ini memungkinkan pengguna mengakses saham, ETF, dan crypto dari satu antarmuka 24/7.
Stablecoin menjadi pilar kedua rencana Coinbase di 2026, dijadikan infrastruktur keuangan untuk remitansi, gaji, dan settlement. Armstrong memperkirakan di masa depan bank akan menuntut produk stablecoin berbunga.
Namun, strategi “everything exchange” ini juga menghadapi tantangan. Base mendapat kritik terkait creator coins, sementara keamanan dan layanan pelanggan Coinbase menjadi sorotan.
Menilik Potensi January Effect pada Awal Tahun 2026
Pada 2025, perusahaan mengungkap kasus cybercrime di mana agen customer service luar negeri disuap untuk mencuri data pelanggan, memicu kekhawatiran terkait praktik KYC dan keamanan data.
Dengan langkah ini, Coinbase bersaing ketat dengan OKX, Binance, dan bursa lain yang berupaya menjadi “super app” untuk layanan crypto, perdagangan saham, dan produk keuangan digital lainnya.