Menakar dampak pelemahan rupiah bagi emiten dari berbagai sektor

Muamalat.co.id JAKARTA. Tren pelemahan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi membawa dampak yang beragam bagi emiten-emiten di berbagai sektor. Pihak emiten pun mesti menyiapkan mitigasi agar koreksi rupiah tidak menjadi beban bagi kinerja di kemudian hari.

Sebagaimana diketahui, kurs rupiah di pasar spot berada di level Rp 18.655 per dolar AS pada perdagangan Rabu (14/1/2026), atau menguat 0,07% setelah sempat menyentuh level terendah pada hari kemarin yakni Rp 16.877 per dolar AS.

Salah satu emiten, yakni PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM) mengaku, pelemahan nilai tukar rupiah jelas memberikan tekanan terhadap biaya, khususnya terkait pembelian bahan baku impor. 

Harga Komoditas Dunia Melonjak Dorong IHSG Tembus Cetak Rekor Tertinggi Baru

“Sebagai gambaran, porsi pembelian bahan baku impor perusahaan tercatat sekitar 64% dari total pembelian bahan baku, dan meningkat menjadi sekitar 69% pada periode Januari-September 2025,” ungkap Wakil Direktur SMSM Ang Andri Pribadi, Rabu (14/1/2026).

Walau begitu, secara struktur pendapatan SMSM diperoleh dalam mata uang dolar AS, terutama dari kegiatan ekspor. Porsi pendapatan berbentuk dolar AS tersebut lebih besar dibandingkan kewajiban maupun pembelian bahan baku impor dalam valas. Alhasil, sebenarnya SMSM masih bisa menikmati dampak positif dari tren pelemahan rupiah akhir-akhir ini.

Pihak SMSM tetap menerapkan pengelolaan risiko yang konservatif dengan mengutamakan natural hedging melalui keseimbangan antara penerimaan dan kewajiban dalam mata uang asing. SMSM juga terus melakukan pengelolaan arus kas, penjadwalan pembayaran impor secara hati-hati, serta efisiensi biaya guna menjaga stabilitas kinerja di tengah volatilitas nilai tukar.

Sementara itu, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi menyampaikan, pelemahan kurs rupiah menciptakan efek yang asimetris antar sektor. Sektor yang paling tertekan adalah emiten importir dengan basis pendapatan domestik, seperti ritel, farmasi tertentu, barang konsumer berbahan baku impor, serta sebagian emiten manufaktur dengan margin tipis. 

“Kenaikan biaya bahan baku dan beban operasional dalam dolar sulit langsung diteruskan ke harga jual, sehingga menekan margin laba,” kata dia, Rabu (14/1/2026).

 IHSG Diproyeksi Cerah pada 2026, Ruang Kenaikan Mencapai Hingga 12,9%

Di sisi lain, emiten eksportir berbasis bahan baku lokal relatif diuntungkan, terutama sektor komoditas seperti batubara, nikel, maupun crude palm oil (CPO). Dalam hal ini, pelemahan rupiah meningkatkan pendapatan dalam rupiah selama biaya sebagian besar berbasis domestik.

“Namun, untuk emiten berorientasi ekspor tetapi menggunakan bahan baku impor, misalnya manufaktur tertentu, dampaknya cenderung netral,” imbuh Imam.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai, emiten yang bisa jadi pemenang di tengah gejolak kurs rupiah adalah eksportir dengan bahan baku lokal yakni biasanya adalah pulp & paper dan komoditas. Sebab, emiten tersebut berpeluang meraih kenaikan pendapatan dolar AS di saat biaya operasional tetap dalam rupiah.

Dia juga menyebut, emiten yang terpapar volatilitas rupiah dapat melakukan langkah mitigasi melalui instrumen hedging untuk mengunci risiko kurs. “Dalam jangka panjang, emiten perlu diversifikasi ke supplier non-dolar AS atau substitusi bahan baku lokal,” terang Wafi, Rabu (14/1).

Imam menambahkan, penyesuaian harga jual secara bertahap dan efisiensi biaya operasional juga bisa menjadi langkah penting bagi emiten yang terpapar volatilitas rupiah. Harapannya, margin bisa tetap terjaga.

Lebih lanjut, selama ketidakpastian global masih tinggi, maka volatilitas rupiah kemungkinan tetap berlanjut dalam jangka pendek. Menurut Imam, level rupiah saat ini sebenarnya masih relatif dapat ditoleransi oleh emiten-emiten besar yang memiliki manajemen risiko valas dan neraca yang sehat.

Di sisi lain, Wafi bilang, batas toleransi rupiah bagi emiten diperkirakan ada di level Rp 17.000 per dolar AS. Jika level ini tembus, emiten yang memiliki utang dalam denominasi dolar AS besar berisiko mengalami gangguan arus kas dan rugi kurs.

Wafi pun menyarankan investor untuk fokus ke emiten-emiten yang memiliki pendapatan dari ekspor dalam dolar AS seperti PT Indah Kiat Pulp & Paper Corp Tbk (INKP) dengan target harga di level Rp 12.200 per saham dan PT Mayora Indah Tbk (MYOR) dengan target harga di level Rp 3.100 per saham.

Sentimen Daya Beli Bayangi Kinerja MAPI dan MAPA, Intip Rekomendasi Sahamnya

“Hindari emiten yang punya currency missmatch atau utang dolar AS besar tapi pendapatan mayoritas rupiah,” tutur dia.

Imam juga mengingatkan agar investor sebaiknya lebih selektif. Fokus utama adalah pada emiten yang memiliki natural hedge, pendapatan dolar AS lebih besar daripada biaya dolar AS, serta posisi kas dan neraca yang kuat.

Leave a Comment