IHSG berpeluang menguat, bergerak di kisaran 8.715-9.199

Muamalat.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berpeluang melanjutkan penguatan meski berada dalam fase konsolidasi. Sentimen global dan domestik menjadi faktor penentu pergerakan pasar saham di awal 2026.

Pengamat pasar modal Hans Kwee menilai, pujian Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap penasihat ekonominya, Kevin Hassett, menjadi sentimen positif bagi pasar. Pernyataan tersebut dinilai menutup peluang Hassett menjadi Ketua The Fed.

Pasalnya, Hassett dipandang sebagai sosok yang paling tidak independen dan cenderung dovish, sejalan dengan keinginan Trump untuk memangkas suku bunga secara agresif.

Di sisi lain, data tenaga kerja Amerika Serikat yang lebih baik dari perkiraan membuat peluang pemangkasan suku bunga The Fed mundur hingga Juni 2026. Pelaku pasar masih memperkirakan akan ada dua kali pemotongan suku bunga sepanjang tahun ini.

“Di pasar AS masih terjadi rotasi dari saham teknologi berkapitalisasi besar ke saham-saham yang dinilai masih undervalued yang berkapitalisasi menengah dan kecil,” kata Hans, Minggu (18/1).

Harga minyak dunia juga bergerak fluktuatif menyusul potensi campur tangan AS dalam dinamika unjuk rasa di dalam negeri Iran. Meski pernyataan Trump sempat meredakan potensi serangan AS dalam jangka pendek, tetapi langkah penarikan sebagian personel militer AS dari Timur Tengah serta pergerakan kapal induk AS dinilai masih membuka risiko eskalasi, meski tidak dalam waktu dekat.

Dari dalam negeri, potensi pelebaran defisit fiskal Indonesia menjadi salah satu faktor yang membebani pergerakan nilai tukar rupiah di awal tahun. Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan tingkat suku bunga acuan untuk memperkuat nilai tukar rupiah. 

“Pekan depan pelaku pasar menantikan data Inflasi AS yang diperkirakan turun tipis dan dari dalam negeri keputusan suku bunga Indonesia, yang diperkirakan ditahan atau tidak berubah. IHSG berpeluang konsolidasi menguat dengan support di level 9.000 sampai level 8.715 dan resistance di level 9.100 sampai level 9.199,” ungkap Hans.

Sementara itu, Sekretaris Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Kautsar Primadi Nurahmad menyampaikan, selama periode 12-15 Januari 2026 terdapat satu pencatatan obligasi di BEI. Pada Rabu (14/1), Obligasi Berkelanjutan V Chandra Asri Pacific Tahap I Tahun 2025 yang diterbitkan oleh PT Chandra Asri Pacific Tbk resmi dicatatkan di BEI dengan nilai pokok sebesar Rp 1,5 triliun dan memperoleh peringkat idAA- (double A minus) dari  PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO). PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk bertindak sebagai wali amanat.

Sepanjang 2026, total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat mencapai tujuh emisi dari enam emiten dengan nilai Rp 218,90 triliun. Hingga kini, BEI telah mencatatkan 665 emisi obligasi dan sukuk dengan nilai outstanding Rp 542,85 triliun dan USD 134,01 juta dari 137 emiten. Selain itu, terdapat 190 seri Surat Berharga Negara (SBN) dengan nominal Rp 6.484,29 triliun dan USD 352,10 juta, serta enam emisi Efek Beragun Aset (EBA) senilai Rp 3,99 triliun.

“Pada Kamis (15/1), IHSG dan kapitalisasi pasar bursa kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH). IHSG mencapai level 9.075,406, sementara kapitalisasi pasar menembus Rp 16.512 triliun,” paparnya.

Data perdagangan sepekan di BEI menunjukkan mayoritas indikator berada di zona positif. Rata-rata nilai transaksi harian meningkat 3,87 persen menjadi Rp 32,68 triliun dari Rp 31,46 triliun pada pekan sebelumnya. 

Kapitalisasi pasar BEI naik 1,29 persen menjadi Rp 16.512 triliun, dari Rp 16.301 triliun pada sepekan sebelumnya. “Pergerakan IHSG turut mengalami peningkatan pada pekan ini sebesar 1,55 persen dan ditutup pada level 9.075,406 dari posisi 8.936,754 pada pekan lalu,” tambahnya.

Namun, rata-rata volume transaksi harian bursa turun 2,68 persen menjadi 60,13 miliar lembar saham, dari 61,79 miliar lembar saham pada pekan sebelumnya.

Disusul penurunan frekuensi transaksi harian sebesar 3,24 persen menjadi 3,86 juta kali transaksi dari 3,99 juta kali transaksi pada pekan lalu. Investor asing pada hari yang sama mencatatkan nilai beli bersih Rp 947,45 miliar dan secara kumulatif sepanjang 2026 membukukan beli bersih Rp 7,30 triliun.

Leave a Comment