Muamalat.co.id Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu pagi bergerak melemah seiring dengan ekonomi domestik yang stabil, namun risiko di tingkat global meningkat.
IHSG dibuka melemah 40,27 poin atau 0,44 persen ke posisi 9.094,43. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 8,44 poin atau 0,95 persen ke posisi 875,94.
“Kombinasi sentimen domestik yang relatif stabil dan risiko eksternal yang meningkat seperti ancaman tarif Trump terhadap negara-negara Eropa, tekanan di pasar obligasi global, serta volatilitas pasar saham AS, membuat pasar Indonesia hari ini berpotensi bergerak volatil, dengan arus modal asing dan respons pasar terhadap keputusan BI menjadi kunci arah pergerakan,” sebut Tim Riset Lotus Andalan Sekuritas dalam kajiannya di Jakarta, Rabu.
Dari dalam negeri, pelaku pasar tengah mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang diumumkan hari ini, yang akan menetapkan BI-Rate di tengah Rupiah yang masih berada di level terlemah sepanjang sejarah.
Konsensus secara kuat memproyeksikan BI akan menahan suku bunga di level 4,75 persen demi menjaga stabilitas nilai tukar dan daya tarik aset Rupiah.
IHSG Berpeluang Menguat, Bergerak di Kisaran 8.715-9.199
Dari mancanegara, bursa saham Amerika Serikat (AS) dan Eropa kompak melemah pada Selasa (20/1), dipicu oleh meningkatnya retorika Presiden AS Donald Trump terkait Greenland, termasuk ancaman tarif bertahap 10-25 persen terhadap delapan negara NATO, tarif 200 persen untuk anggur Prancis, serta kecaman terhadap Inggris, yang memicu lonjakan volatilitas.
Selain itu, pelemahan Bursa AS juga dipicu oleh pelemahan indeks dolar AS, dan tekanan jual pada aset-aset AS.
Lebih lanjut, kekhawatiran pelaku pasar diperparah oleh sinyal arus keluar dari obligasi AS, termasuk keputusan dana pensiun Denmark untuk melepas U.S. Treasurys, serta meningkatnya risiko perang modal sebagaimana disorot oleh Ray Dalio.
Pelaku pasar menilai kebijakan tarif sebagai instrumen non-ekonomi jangka pendek menambah ketidakpastian, di sisi lain, Eropa mempertimbangkan langkah balasan, yang membuat sentimen global semakin rapuh menjelang komunikasi Trump dengan para pemimpin Eropa di Davos, Swiss.
Selain itu, pelaku pasar cenderung menggeser dana ke aset aman seperti emas yang kembali mencetak rekor. Tekanan juga datang dari pasar obligasi global, terutama Jepang, yang mana lonjakan yield obligasi tenor panjang memperkuat sikap hati-hati investor.
IHSG Fluktuatif usai Dibuka di Level 9.098, Ini Rekomendasi Tiga Saham untuk Trading Pekan ini
Di sisi lain, data ketenagakerjaan AS menunjukkan perlambatan momentum perekrutan, menambah kehati-hatian pasar terhadap prospek pertumbuhan ekonomi global.
Pada perdagangan Selasa (20/1), bursa saham Eropa kompak melemah, diantaranya Euro Stoxx 50 melemah 0,52 persen, indeks FTSE 100 Inggris melemah 0,67 persen, indeks DAX Jerman melemah 1,03 persen, serta indeks CAC Prancis melemah 0,61 persen.
Bursa AS di Wall Street juga kompak melemah pada Selasa (20/1), diantaranya Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,76 persen ditutup di level 48.488,59, indeks S&P 500 melemah 2,06 persen ke level 6.796,94, serta indeks Nasdaq Composite melemah 2,12 persen ditutup di 24.987,57.
Bursa saham regional Asia pagi ini, antara lain indeks Nikkei melemah 176,10 poin atau 0,33 persen ke 52.815,00, indeks Shanghai menguat 12,53 atau 0,32 persen ke 4.127,64, indeks Hang Seng menguat 57,99 poin atau 0,22 persen ke 26.542,11, dan indeks Strait Times melemah 21,99 poin atau 0,46 persen ke 4.804,04.