Dibayangi kondisi makroekonomi global, begini prospek Bitcoin pada kuartal I – 2026

Muamalat.co.id – JAKARTA. Harga Bitcoin (BTC) kembali terkoreksi. Mengutip Coin Market Cap Kamis (22/1/2026) pukul 17.53 WIB, harga Bitcoin di level US$ 89.962, terkoreksi 7,03% dalam sepekan. 

Vice President Indodax, Antony Kusuma melihat penurunan harga Bitcoin hingga ke bawah level US$ 90.000 dipengaruhi oleh faktor global. Dari sisi faktor global, sentimen risiko (risk-off) meningkat seiring memburuknya kondisi makroekonomi dan geopolitik global, khususnya kekhawatiran terhadap eskalasi perang tarif Amerika Serikat dengan Eropa, dinamika geopolitik yang melibatkan isu Greenland, serta gejolak di pasar obligasi Jepang.

“Pasar keuangan global turut diguncang oleh lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang yang mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade terakhir,” ujar Antony kepada Kontan, Kamis (22/1/2026).  

Pencabutan Izin Agincourt Jadi Sentimen Jangka Pendek, Ini Rekomendasi UNTR dan ASII

Antony menambahkan, lonjakan tersebut mengindikasikan aksi jual di pasar surat utang dan mendorong investor global mencari aset yang lebih likuid, yang pada akhirnya memperkuat sentimen risk-off secara luas. Dampaknya, investor mengurangi eksposur ke aset berisiko, termasuk saham dan kripto, sehingga tekanan jual terjadi secara bersamaan di berbagai kelas aset. 

“Namun yang perlu digarisbawahi, koreksi ini tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekosistem Bitcoin dan kripto,” terang Antony. 

Antony menyebut bahwa kondisi ini menunjukkan bahwa Bitcoin semakin mature dan semakin terintegrasi dengan sistem keuangan global. Dengan meningkatnya partisipasi investor institusional, Bitcoin kini menjadi lebih responsif terhadap dinamika makroekonomi, suku bunga, likuiditas global, serta isu geopolitik, mirip dengan aset global lainnya seperti saham dan komoditas. 

Antony mengatakan, tren pergerakan Bitcoin menunjukkan adanya potensi pemulihan menuju level US$ 100.000, namun secara jangka pendek hal ini tetap bergantung pada kondisi pasar makro global dan kemampuan Bitcoin menembus area resistensi teknikal di kisaran tersebut. 

Dalam jangka pendek, pergerakan harga masih cenderung fluktuatif seiring tingginya sensitivitas pasar terhadap sentimen geopolitik dan kebijakan perdagangan global.

Antony melihat bahwa saat ini, Bitcoin berhasil kembali menguat ke atas level US$ 90.000 karena didorong oleh meredanya tensi geopolitik setelah adanya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Eropa terkait isu Greenland, yang diikuti pembatalan rencana kenaikan tarif. 

Meski demikian, pemulihan ini masih perlu konfirmasi lanjutan. Adapun, untuk jangka menengah, prospek Bitcoin tetap terbuka, didukung oleh fundamental yang relatif kuat dan semakin matangnya pasar kripto, terutama dengan meningkatnya partisipasi investor institusional. 

Analyst Reku, Fahmi Almuttaqin, mengatakan, dalam jangka pendek, pergerakan Bitcoin masih berpotensi fluktuatif. De-eskalasi konflik Greenland dan penangguhan tarif AS telah memicu relief rally yang membawa Bitcoin kembali ke area US$ 90.000.

“Meredanya tensi geopolitik memberikan ruang bagi pemulihan harga Bitcoin. Namun, ini masih bersifat penurunan premi risiko jangka pendek, sehingga pasar akan tetap sangat sensitif terhadap perkembangan lanjutan, khususnya terkait kebijakan perdagangan AS dan agenda geopolitik,” ujar Fahmi. 

Meski demikian, peluang Bitcoin untuk kembali menguji level psikologis US$100.000 tetap terbuka apabila sentimen global terus membaik dan tidak muncul eskalasi risiko baru dalam waktu dekat.  

Adapun terkait prospek, Antony mengatakan prospek harga Bitcoin pada triwulan pertama 2026 dapat dilihat melalui dua skenario utama, yang sangat bergantung pada dinamika makro global dan konfirmasi teknikal pasar.

Pada skenario positif, Bitcoin berpotensi bergerak stabil hingga menguat secara bertahap apabila sentimen pasar global membaik, tensi geopolitik mereda, dan likuiditas kembali mendukung aset berisiko.

Dalam kondisi tersebut, Bitcoin berpeluang mempertahankan pergerakan di atas area support kunci dan kembali menguji level psikologis di kisaran US$100.000, terutama jika didukung oleh arus partisipasi investor institusional yang tetap kuat.

Sementara itu, pada skenario yang lebih berhati-hati, Bitcoin berpotensi bergerak dalam fase konsolidasi atau mengalami tekanan lanjutan jika volatilitas global tetap tinggi dan sentimen risk-off masih mendominasi pasar. Dalam situasi ini, pergerakan harga cenderung fluktuatif, dengan investor bersikap lebih selektif dan menunggu kejelasan arah pasar sebelum mengambil posisi lebih agresif. 

“Secara keseluruhan, pergerakan Bitcoin di triwulan pertama 2026 diperkirakan tetap dinamis. Oleh karena itu, penting bagi pelaku pasar untuk mencermati perkembangan makroekonomi global, kondisi likuiditas, serta sinyal teknikal sebagai acuan dalam membaca arah pasar ke depan,” jelas Antony.

Saham Ini Tersengat Sentimen Proyek PSEL Danantara, Begini Strategis Investasinya

Leave a Comment