Dana asing keluar dari pasar saham, ini dampaknya ke IHSG

Muamalat.co.id JAKARTA. Arus dana asing kembali mengalir keluar dari pasar saham Indonesia. Pada Kamis (22/1/2026), dana asing tercatat keluar di pasar reguler sebesar Rp 964,14 miliar dan di seluruh pasar Rp 1,33 triliun. Dalam sepekan, net sell asing tercatat Rp 848,15 miliar di pasar reguler dan Rp 564,54 miliar di seluruh pasar.

Sejalan dengan arus keluar dana asing, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini juga turun 0,20% ke 8.992,18. Dalam sepekan, IHSG turun 0,45%.

Sepanjang periode 20-22 Januari 2026, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) paling banyak dilego asing, dengan total Rp 2 triliun.

Lalu, disusul PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dilepas asing Rp 673,9 miliar, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp 447,4 miliar, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 415,3 miliar, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) Rp 185,9 miliar.

IHSG Masih Rawan Koreksi Pada Jumat (23/1), Ini Kata Analis

Farrell Nathanael, Equity Research Analyst OCBC Sekuritas mengatakan, masifnya dana asing yang keluar dari pasar saham Indonesia dipicu oleh kombinasi pelemahan rupiah, sentimen global yang hati-hati, serta realisasi profit-taking setelah IHSG sempat menguat. 

Sebagai catatan, IHSG tercatat masih naik 3,99% sejak awal tahun alias year to date (YTD).

Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy melihat, besar kemungkinan capital outflow terjadi karena rupiah yang melemah dan semakin tidak independennya bank sentral Indonesia.

Pertanyaan soal independensi Bank Indonesia (BI) itu muncul menyusul adanya nama Thomas Djiwandono sebagai calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI). Wakil Menteri Keuangan RI itu merupakan politisi Partai Gerindra dan keponakan dari Presiden Prabowo Subianto.

IHSG Melemah 0,20% ke 8.992 pada Kamis (22/1/2026), BUMI, BRPT, SCMA Top Losers LQ45

Sebaliknya, Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto mengatakan, aksi jual asing dalam beberapa waktu terakhir tak ada hubungannya dengan bursa calon deputi gubernur BI. Ini lantaran aksi jual paling banyak justru terjadi pada saham BBCA.

“Saat ini saham yang bisa dipertimbangkan oleh investor adalah sektor yang cenderung resilien terhadap pelemahan rupiah,” ungkapnya kepada Kontan, Kamis (22/1/2026).

Ke depan, arus dana asing juga dinilai masih fluktuatif di tengah gejolak ekonomi domestik dan konflik geopolitik global. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus melihat, sentimen negatif dari global disebabkan oleh konflik Amerika Serikat dengan Venezuela sekaligus AS dengan Uni Eropa, khususnya Denmark.

“Ketidakpastian itu akan menjadi bom waktu yang diperhatikan oleh pelaku pasar,” ujarnya kepada Kontan.

Dengan kondisi tersebut, Nico cenderung pesimis IHSG bisa menyentuh 10.000 di tahun 2026. Dia menargetkan IHSG akan bergerak di level 9.435 – 9.720 hingga akhir tahun. 

IHSG Berpotensi Lanjut Terkoreksi pada Jumat (23/1), Cek Saham Rekomendasi Analis

“Jika level 9.720 terpenuhi, mungkin IHSG baru bisa berpotensi untuk menyentuh 10.000 tahun ini,” katanya.

Sentimen positif untuk aliran dana asing ke pasar saham adalah terpenuhinya program andalan di APBN 2026 sebagai akselerasi pertumbuhan ekonomi, pemulihan konsumsi dan daya beli masyarakat, serta penyaluran kredit yang baik dengan banjirnya likuiditas di sistem keuangan.

Sementara, sentimen negatif berasal dari inflasi dan data ketenagakerjaan di AS yang belum stabil, terbatasnya ruang penurunan tingkat suku bunga The Fed, pelemahan rupiah terhadap dolar AS, terbatasnya penurunan suku bunga BI, serta potensi konflik geopolitik yang semakin memanas.

“Sektor yang akan dilirik asing adalah sektor konsumer siklikal, infrastruktur, basic industry, energi, serta properti dan real estate,” ungkapnya.

Budi bilang, ada kemungkinan arus dana asing semakin masif keluar jika MSCI serius menerapkan formula baru perhitungan free float saham-saham bursa Indonesia di indeks mereka.

“Jika benar-benar diterapkan kebijakan yang merugikan Bursa Indonesia, maka dana asing sebesar US$ 2 miliar bisa keluar dari bursa kita,” ujarnya.

Sepanjang tahun 2026, IHSG dan aliran dana asing juga masih akan digerakkan oleh saham berkapitalisasi pasar besar (big caps).

IHSG Menguat 0,55% di Sesi I Hari Ini (22/1), Bakal Melaju ke 9.100?

“Untuk saham emiten BUMN, masih kurang menarik di mata investor asing dan belum akan dilirik asing di tahun ini. Tidak berbeda dengan kondisi tahun lalu,” ungkapnya.

Sedangkan, Farrell melihat, walaupun fluktuatif, tetapi masih ada potensi inflow asing seiring stabilitas ekonomi domestik, optimisme IHSG ke level 10.000, dan kebijakan fiskal-moneter yang mendukung.

Sektor yang diperkirakan menarik minat asing meliputi perbankan, telekomunikasi, dan komoditas. 

Sentimen positif termasuk pertumbuhan ekonomi, kebijakan pro-investasi, dan arus modal regional. “Sedangkan, risiko yang membayangi berasal dari volatilitas global dan fluktuasi mata uang,” katanya.

Farrell pun merekomendasikan beli untuk BBCA, dengan target harga Rp 11.000 per saham, BBRI Rp 5.000 per saham, TLKM Rp 4.200 per saham, EXCL Rp 3.300 per saham, ISAT Rp 2.500 per saham, NCKL Rp 1.500 per saham, INCO Rp 4.500 per saham, dan MBMA Rp 750 per saham.

Leave a Comment