Muamalat.co.id JAKARTA. Musim dingin yang melanda belahan bumi bagian utara umumnya mendorong lonjakan konsumsi energi untuk kebutuhan pemanas, tercermin dari kenaikan harga komoditas gas alam dan batubara.
Namun, saat ini harga gas alam bergerak jauh lebih agresif dalam beberapa pekan terakhir. Sementara itu, harga batubara cenderung bergerak terbatas.
Melansir Trading Economics pada Jumat pukul 15.25 WIB, harga gas alam di level US$ 4,92 per MMBtu naik 60,67% secara mingguan dan 44,51% YoY. Ada pun harga batubara di level US$ 109,55 per ton, naik 1,06% secara mingguan, tapi turun 5,97% YoY.
Analis Komoditas dan Founder Traderindo.com Wahyu Laksono menyebut lonjakan harga gas alam terutama dipicu oleh anomali cuaca berupa gelombang dingin ekstrem di Amerika Serikat dan sebagian Eropa.
Perkasa! Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 19.820 Per Dolar AS Hari Ini (23/1)
Kondisi ini langsung meningkatkan permintaan gas untuk kebutuhan pemanas. “Gas alam sangat sensitif terhadap perubahan cuaca harian, sehingga respons harganya jauh lebih cepat dibandingkan batubara,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (23/1/2026).
Dari sisi pasokan, produksi gas di wilayah selatan AS juga terganggu akibat fenomena freeze-offs yang membekukan fasilitas produksi.
Gangguan ini terjadi bersamaan dengan rekor ekspor LNG AS yang mencapai sekitar 19,5 miliar kaki kubik per hari, sehingga memperketat keseimbangan pasokan global.
Sementara itu, pergerakan harga batubara cenderung tertahan. Wahyu menilai stok batubara yang masih melimpah di China dan India menjadi faktor utama yang menahan kenaikan harga.
Meski Indonesia berencana memangkas kuota produksi batubara (RKAB) pada 2026, dampaknya belum sepenuhnya tercermin karena permintaan Asia masih dalam fase pemulihan pasca libur awal tahun.
Jelasnya, secara struktural batubara juga tertinggal karena meningkatnya produksi domestik China dan India sepanjang 2025.
Produksi batubara China tercatat mencapai rekor sekitar 4,83 miliar ton, sehingga ketergantungan terhadap impor berkurang dan tekanan kenaikan harga global menjadi terbatas.
Selain itu, proses transisi energi turut menekan permintaan batubara secara tahunan. Peningkatan bauran energi terbarukan dan nuklir di Eropa serta Asia Utara mengurangi urgensi penggunaan batubara, meskipun musim dingin sedang berlangsung.
Faktor musiman juga berperan, di mana pembangkit listrik umumnya telah melakukan penimbunan batubara jauh sebelum musim dingin, sehingga tidak terjadi panic buying di pasar spot.
Jika berbicara dari sisi strategi buat investor, Wahyu menilai gas alam saat ini masuk kategori high risk, high reward.
Secara teknikal, harga gas alam masih berada dalam tren naik yang kuat, namun sudah mendekati area jenuh beli. Tapi koreksi harga berpotensi terjadi pada akhir Februari hingga Maret 2026, seiring meredanya puncak musim dingin.
Sebaliknya, batubara dinilai lebih defensif sebagai value play. Saat ini, menurutnya harga batubara masih relatif stabil.
Kebijakan pemerintah Indonesia yang memangkas target produksi batubara 2026 menjadi sekitar 600 juta ton, atau turun sekitar 24% dari target 2025 yang sebesar 790 juta ton, berpotensi menjadi katalis jangka menengah yang menjaga harga tidak turun di bawah US$ 95 per ton.
Untuk semester I-2026, Wahyu memproyeksikan harga gas alam bergerak di kisaran US$ 2,5 – US$ 6,0 per MMbtu.
Adapun harga batubara diperkirakan berada pada rentang US$ 95 – US$ 130 per ton.
Harga CPO: Reli Mingguan Ketiga Berpotensi Lanjut, Ini Pemicunya