IPO BEI raup US$ 1,1 miliar sepanjang 2025, didorong sektor energi dan konsumer

Muamalat.co.id JAKARTA. Deloitte mencatat bahwa Indonesia berhasil mengumpulkan dana US$ 1,1 miliar dari aksi pencatatan saham perdana alias initial public offering (IPO) sepanjang tahun 2025. 

Raihan tersebut tercatat naik dari total dana terkumpul US$ 0,9 miliar di tahun 2024. Dana yang terkumpul itu berasal dari 26 IPO perusahaan sepanjang tahun lalu. Kapitalisasi pasar IPO di Indonesia tercatat sebesar US$ 9,38 miliar sepanjang 2025.

“Indonesia dan Vietnam memimpin dalam jumlah kapitalisasi pasar IPO sepanjang 2025,” ujar Deloitte dalam dokumen riset yang diterima KONTAN, Selasa (27/1/2025).

Program Co-Firing Dorong Transisi Energi Sekaligus Buka Rantai Bisnis Baru dari Desa

Sayangnya, Deloitte mencatat bahwa tren pada tahun lalu menunjukkan terjadi peningkatan fokus pada penawaran bernilai lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah transaksi. 

Lebih lanjut, sektor energi dan sumber daya tercatat memimpin dalam hal penggalangan dana IPO sepanjang 2025.

Aktivitas IPO yang mencakup perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang minyak dan gas, energi terbarukan, dan jasa pendukung pertambangan. 

“Hal ini didorong oleh pencatatan saham PT Merdeka Gold Resource Tbk (EMAS) dan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), yang masing-masing mengumpulkan dana sebesar US$ 279 juta dan US$ 144 juta,” tulisnya.

METI Bidik Percepatan 10 Proyek Strategis EBT untuk Dorong Transisi Energi Nasional

Selain sektor energi, aktivitas IPO di Indonesia pada 2025 juga didorong oleh sektor konsumer. Preferensi investor terpantau masih cenderung memilih perusahaan dengan fundamental yang solid dan prospek jangka panjang. 

“Teramati juga bahwa beberapa emiten besar berafiliasi dengan perusahaan yang sudah terdaftar di bursa atau didukung oleh investor institusi,” kata Deloitte.

Secara keseluruhan, tren IPO di wilayah Asia Tenggara mengalami pemulihan, dengan 120 IPO di enam bursa yang berhasil mengumpulkan sekitar US$6,5 miliar pada tahun 2025.

Total pendapatan IPO di kawasan ini tumbuh 76% meskipun terjadi penurunan jumlah pencatatan saham. Raihan itu didorong oleh kerjasama yang bernilai lebih tinggi, pergeseran dinamika sektor, serta kinerja pasar yang kuat di Singapura, Vietnam, Malaysia, dan Indonesia.

Kementerian ESDM Ungkap Sektor Energi Buka 6,2 Juta Peluang Kerja Baru

Hwee Ling Tay, Capital Markets Services Leader Deloitte Southeast Asia mengatakan, peningkatan jumlah IPO bernilai tinggi ada di sektor real estat, energi & sumber daya, dan jasa keuangan merupakan pendorong utama peningkatan total pendapatan IPO pada tahun 2025. 

Sebagai perbandingan, US$3,7 miliar terkumpul dari 136 IPO pada tahun 2024 dan US$5,8 miliar terkumpul dari 163 IPO pada tahun 2023. 

“Ukuran rata-rata transaksi IPO meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun 2024, naik dari sekitar US$27 juta menjadi US$54 juta, didukung oleh beberapa IPO “blockbuster” besar,” ungkapnya.

Tay bilang, IPO yang didukung oleh investor institusi muncul sebagai katalis di seluruh wilayah, sehingga mampu mempertahankan arus masuk modal yang stabil dan menarik minat investor yang kuat. 

HGII Andalkan Diversifikasi Energi dan Likuiditas Kuat Hadapi Paruh Kedua 2025

“Di tahun yang baru, Deloitte memperkirakan bahwa selera investor akan tetap sehat, didukung oleh terus munculnya peluang pasar baru,” tuturnya.

Leave a Comment