Muamalat.co.id JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot menguat pada Selasa (27/1/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot naik 0,08% secara harian ke Rp 16.768 per dolar AS.
Sayangnya, berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah melemah 0,13% secara harian ke Rp 16.801 per dolar AS.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, sepekan ini rupiah masih susah bangkit, walaupun didukung oleh komitmen intervensi Bank Indonesia (BI) dan indeks dolar AS yang terus tertekan ke level terendah dalam empat bulan terakhir.
Saham Big Banks Kompak Melemah Selasa (27/1), BMRI Turun Terdalam
Di sisi lain, pasar bisa saja mulai sedikit mengabaikan perihal posisi deputi BI yang dijabat keponakan Prabowo Subianto, Thomas Djiwandono.
Namun, masih banyak faktor lain yang memberikan sentimen negatif terhadap pergerakan rupiah.
“Misalnya, kekhawatiran defisit anggaran melewati 3%, prospek pemangkasan suku bunga oleh BI, dan ketidakpastian geopolitik dan kebijakan Presiden AS Donald Trump yang umumnya negatif bagi mata uang emerging market (EM),” ujarnya kepada Kontan, Selasa (27/1/2026).
Menurut Lukman, hasil rapat FOMC sendiri penting terhadap pergerakan rupiah terhadap dolar AS. Apabila The Fed bernada hawkish dan melejitkan dolar AS, rupiah bisa semakin tertekan.
IHSG Naik Tipis 0,05% ke 8.980 pada Selasa (27/1), GOTO, SCMA, DSSA Top Gainers LQ45
“Sebaliknya, pernyataan dovish hanya sedikit mendukung rupiah dan hanya bisa meredakan tekanan,” tuturnya.
Lukman bilang, sangat sulit menentukan posisi ideal fundamental rupiah terhadap dolar AS. Sebab, faktor fundamental sendiri tidak cukup untuk menentukan nilai tukar suatu mata uang, sehingga sentimen sangat berperan.
Stabilitas rupiah juga lebih penting daripada nilai tukar itu sendiri, karena mata uang yang stabil akan mendukung perekonomian negara tersebut.
“Jika penguatan dan pelemahan yang terjadi sangat besar, keduanya tidak bagus,” ungkapnya.
Prospek rupiah untuk saat ini pun dinilai masih kurang positif. Dari sisi domestik, kesehatan fiskal, pertumbuhan ekonomi, dan tingkat suku bunga BI akan mempengaruhi pergerakan rupiah ke depan.
Harga Aluminium, Timah, dan Nikel Kompak Menguat, Pasokan Jadi Faktor Penentu
Sementara, dari sisi eksternal, geopolitik dan kebijakan perdagangan atau tarif terutama dari China dan AS, akan jadi penggerak utama.
Lukman memproyeksikan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 16.000 – Rp 17.300 per dolar AS sepanjang tahun 2026.