Apa itu saham gorengan yang dibahas Purbaya saat IHSG anjlok?

Jakarta, IDN Times – Istilah saham gorengan kembali ramai diperbincangkan publik setelah Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi beberapa hari terakhir. Meski sebagian besar pihak menyebut anjloknya IHSG adalah pengaruh dari pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI), Purbaya juga menyoroti beredarnya saham-saham gorengan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

“Kan sudah saya ingatkan dari dulu, bersihkan bursa dari saham gorengan, tapi kan yang besar-besar, masih ada saham-saham yang blue chip itu kan naiknya belum terlalu tinggi,” tuturnya.

Lantas, apa itu saham gorengan? Dilansir dari laman idx.co.id, saham-saham bervolatilitas tinggi dan tidak didukung oleh fundamental dan informasi memadai disebut saham gorengan. Lantas, bagaimana mengenali ciri-cirinya?

1. Harga saham bergerak naik dan turun sangat cepat

Harga saham gorengan kerap naik dan turun sangat cepat. Selain itu, harga saham gorengan biasanya diperjualbelikan sangat murah. Misalnya, harga saham X yang semula Rp100 tiba-tiba bergerak ke angka Rp500. Namun, dalam hitungan jam bisa anjlok di harga Rp50 per lembar saham.

Investor perlu waspada terhadap saham-saham seperti itu. Sebab, pergerakan harganya sangat tidak wajar. Selain itu, tidak disertai analisis pasar yang jelas.

2. Harga saham digerakkan oleh rumor

Desas-desus atau rumor saham kerap diembuskan oleh para bandar. Mereka mengincar para investor untuk membeli saham tertentu agar harganya melonjak. Misalnya, muncul isu akuisisi saham perusahaan A kepada perusahaan B. Dari isu tersebut, investor ritel berbondong-bondong membeli sahamnya. Otomatis, harga saham naik drastis. Saat itulah bandar untung besar. Setelah saham dilepas, harganya kembali anjlok.

Oleh sebab itu, investor perlu mempelajari analisis teknikal dan fundamental sebelum membeli saham. Dengan demikian, investor akan terhindar dari saham gorengan. Jadi, jangan beli saham hanya sekadar dari isu saja, ya!

3. Saham tidak likuid dan kerap bermasalah

Ini juga perlu dipahami oleh para investor. Saham gorengan biasanya tidak likuid alias susah dicairkan. Berbeda dengan saham lainnya, saham gorengan juga jarang aktif dalam perdagangan sehari-hari.

Selain itu, saham gorengan juga kerap bermasalah. Misalnya, terlilit utang, disuspensi Bursa Efek Indonesia, dan tidak terbuka pada publik. Kapitalisasi saham yang dimiliki juga jauh lebih kecil dibanding saham lainnya. Misalnya, saham B kapitalisasi Rp100 miliar, sementara saham C kapitalisasi Rp1 triliun.

Dikutip dari moneysmart.id, kapitalisasi pasar yaitu jumlah saham sebuah emiten yang beredar dikalikan dengan harga saham perusahaan tersebut. Misalnya, saham yang beredar emitem B mencapai 1.000.000.000 lembar. Harganya Rp100 per lembar saham. Itu artinya 1.000.000.000 lembar x Rp 100= Rp 100 miliar.

Para analis mengkategorikan emiten mana saja yang berkapitalisasi pasar besar, menengah, dan kecil. Untuk emiten berkapitalisasi besar yaitu nilainya di atas Rp4 triliun. Emiten berkapitalisasi menengah Rp2 triliun hingga Rp4 triliun. Dan untuk emiten berkapitalisasi kecil nilainya di bawah Rp1 triliun.

Nah, saham-saham yang berkapitalisasi kecil inilah yang kerap dibidik bandar untuk digoreng. Jadi, hati-hati ya sebelum berinvestasi!

Purbaya: Sudah Saya Ingatkan Bersihkan Bursa dari Saham Gorengan Waspada Saham Gorengan: Naik Cepat tapi Berisiko Tinggi Purbaya: Direksi BEI yang Baru Mesti Bisa Berantas Saham Gorengan

Leave a Comment