Kocok ulang BUMN20 bisa buat kinerja emiten lebih prospektif

Muamalat.co.id JAKARTA. Kinerja emiten konstituen indeks BUMN20 dinilai bisa lebih prospektif usai kocok ulang di periode ini.

Asal tahu saja, indeks BUMN20 baru saja dievaluasi oleh Bursa Efek Indonesia. Jenis evaluasi ini mayor dan berlaku untuk periode 4 Februari hingga 4 Agustus 2026.

Dalam evaluasi kali ini, saham PT Timah Tbk (TINS) keluar dari indeks BUMN20. Sementara, saham PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) masuk ke dalam indeks.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai, perubahan mayor IDX BUMN20 cenderung netral, namun tetap ada potensi menjadi katalis untuk pemulihan kinerja indeks.

IHSG Anjlok 5,31% ke 7.887 pada Sesi I Senin (2/2), MDKA, BRPT, BUMI Top Losers LQ45

Rotasi dari komoditas ke sektor riil dan penyesuaian bobot emiten telekomunikasi membuat komposisi indeks menjadi sehat. 

“Valuasi BUMN20 sekarang juga menarik dan bisa menjadi sektor pertama yang pulih ketika aliran masuk dana asing kembali,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (30/1).

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah mengatakan, pasca evaluasi mayor, prospek BUMN20 masih relatif menarik meskipun pasar tengah diwarnai volatilitas global. 

Komposisi indeks tetap didominasi oleh emiten berkapitalisasi besar dan likuid, khususnya sektor perbankan (BBRI, BMRI, BBNI). Sebab sektor itu memiliki fundamental kuat, pangsa pasar besar, serta peran strategis dalam perekonomian nasional.

Di sisi lain, kehadiran emiten berbasis komoditas seperti PTBA, ANTM, dan PGAS berpotensi menjadi penopang tambahan kinerja indeks seiring tren kenaikan harga komoditas global. 

Hartadinata Abadi (HRTA) Luncurkan Aplikasi Jual Beli Emas HRTA Gold

Sentimen struktural juga datang dari potensi partisipasi investor institusi domestik dan negara yang difokuskan pada saham dengan free float minimal 15%.

“Yang mana, mayoritas konstituen BUMN20 sudah memenuhi kriteria tersebut,” ujarnya kepada Kontan, Jumat.

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas melihat, rebalancing membuat BUMN20 kurang defensif dan lebih siklikal. Ini seiring turunnya bobot TLKM dan MTEL dan perubahan komposisi sektor. 

“Penurunan harga pada saham di BUMN20 juga bisa menjadi peluang untuk membeli saham dengan kondisi diskon. Sebab, secara valuasi mayoritas harga saat ini tergolong undervalued,” ujarnya kepada Kontan, Jumat.

Ke depan, penopang kinerja IDX BUMN20 masih berasal dari emiten perbankan besar. Wafi bilang, masuknya SMBR menjadi sentimen positif sinergi infrastruktur. 

Di sisi lain, tekanan untuk saham TLKM dan MTEL karena penurunan bobot sifatnya sementara. 

“Rata-rata valuasi emiten BUMN20 masih undervalued, karena di bawah rata-rata price to book value (PBV) 5 tahun mereka,” tuturnya.

Multi Makmur Lemindo (PIPA) Rombak Jajaran Direksi dan Komisaris

Wafi pun merekomendasikan beli untuk BMRI, TLKM, dan SMBR dengan target harga masing-masing Rp 5.800 per saham, Rp 5.100 per saham, dan Rp 280 per saham.

Hari melihat, penopang utama BUMN20 ke depan masih berasal dari sektor perbankan dan komoditas.

Dari sektor perbankan, emiten yang bisa diperhatikan adalah BBRI, BMRI, BBNI, BBTN, dan BRIS. 

“Sektor diuntungkan dari pertumbuhan kredit yang berkelanjutan, perbaikan kualitas aset, serta posisi permodalan yang solid,” ungkapnya.

Dari sektor komoditas dan energi, emiten yang bisa diperhatikan adalah ANTM, PTBA, PGAS, dan PGEO.

“Sektor ini terdorong oleh tren harga global serta proyek strategis nasional terkait energi dan hilirisasi,” ungkapnya.

Dari sisi aliran dana, BUMN20 relatif menarik bagi investor asing karena likuiditas tinggi, kapitalisasi besar, dan tingkat free float yang relatif memadai. 

Namun demikian, sentimen negatif juga masih ada. Terutama, berasal dari volatilitas global, kebijakan suku bunga, serta dinamika fiskal domestik tetap perlu dicermati dalam jangka pendek.

“Secara umum, valuasi saham BUMN20 juga masih relatif mencerminkan fundamental dengan karakteristik sektoral yang beragam,” katanya.

Sukarno melihat, penopang utama IDX BUMN20 masih berasal dari emiten bank BUMN besar (BBRI, BMRI, dan BBNI) serta emiten energi/komoditas (PGEO, PGAS, PTBA, dan ANTM). Sementara, TLKM dan MTEL berperan lebih sebagai penahan volatilitas. 

Sentimen positif ke emiten konstituen BUMN20 datang dari valuasi bank yang relatif murah, potensi dividen, serta proyek hilirisasi dan transisi energi.

“Sementara risikonya berasal dari volatilitas komoditas dan perlambatan global. Emiten berfundamental kuat masih berpeluang menarik dana asing,” tuturnya.

Sukarno pun merekomendasikan beli untuk TLKM, MTEL, dan JSMR dengan target harga masing-masing Rp 4.000 per saham, Rp 735 per saham, dan Rp 5.300 per saham. Rekomendasi hold juga disematkan untuk PTBA dengan target harga Rp 2.670 per saham.

Leave a Comment