Hasil pertemuan dengan MSCI bisa beri sinyal awal pemulihan pasar

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Hasil pertemuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dengan penyedia indeks global MSCI menjadi sinyal awal pemulihan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia. Meski belum cukup kuat untuk meredam tekanan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam jangka pendek.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan respons positif MSCI menunjukkan otoritas merespons kekhawatiran investor global secara serius, terutama terkait isu transparansi dan tata kelola pasar.

“Hasil pertemuan yang dinilai positif merupakan sinyal penting bahwa regulator bergerak cepat dan terstruktur. Namun ini lebih tepat dibaca sebagai fondasi pemulihan kepercayaan jangka menengah, bukan solusi instan di tengah tekanan global yang masih dominan,” kata Hendra kepada Kontan, Senin (2/2/2026).

Menurutnya, gejolak eksternal masih membebani pasar, mulai dari sentimen hawkish The Fed hingga koreksi tajam harga komoditas global. Meski demikian, mulai munculnya aksi net buy investor asing di tengah koreksi IHSG mencerminkan kepercayaan yang perlahan kembali terbentuk.

OJK: Transparansi Kepemilikan hingga 1% Cegah Praktik “Goreng” Saham

Dari sisi kebijakan, penurunan ambang batas kewajiban disclosure kepemilikan saham dari di atas 5% menjadi di atas 1% dinilai sebagai lompatan besar dalam memperkuat transparansi bursa.

“Kebijakan ini mengurangi ruang abu-abu struktur kepemilikan emiten, terutama saham berlikuiditas besar yang rawan spekulasi. Bagi investor global, ini memperbaiki risk assessment dan meningkatkan kredibilitas pasar Indonesia,” jelasnya.

Hendra juga menyoroti pentingnya pengungkapan beneficial owner sebagai inti reformasi pasar modal. Dengan klasifikasi investor yang lebih rinci oleh KSEI, praktik kepemilikan tersembunyi dan potensi manipulasi dinilai bisa ditekan signifikan.

“Transparansi beneficial owner bukan hanya soal kepatuhan regulasi, tapi soal trust. Semakin jelas pengendali sesungguhnya suatu emiten, semakin tinggi kepercayaan terhadap integritas bursa,” tambahnya.

Terkait rencana kenaikan free float minimum menjadi 15%, Hendra mengakui potensi tekanan jangka pendek pada saham dengan free float rendah akibat tambahan pasokan saham ke publik. Namun secara struktural, kebijakan ini justru dinilai memperkuat likuiditas dan kualitas price discovery.

“Dalam jangka panjang, saham Indonesia akan lebih investable bagi dana institusi besar. Jika dilakukan bertahap lewat aksi korporasi, risiko guncangan harga bisa dikelola,” katanya.

Ke depan, Hendra memperkirakan pasar masih akan berada dalam fase wait and see, seiring tekanan global yang belum mereda. Meski begitu, peluang stabilisasi IHSG tetap terbuka jika reformasi berjalan konsisten dan kondisi makro domestik tetap terjaga.

“Sebagian investor melihat koreksi ini sebagai fase rebalancing, bukan krisis fundamental. Dengan transparansi yang lebih kuat, IHSG berpotensi menemukan keseimbangan baru yang lebih sehat,” kata Hendra.

IHSG Terkoreksi Dalam, Investasi Reksadana Saham Dinilai Menarik untuk Jangka Panjang

Leave a Comment