OJK – BEI Tawarkan Tiga Solusi Transparasi ke MSCI, Ini Rinciannya

Muamalat.co.id JAKARTA. Upaya perbaikan pasar saham Tanah Air masih berjalan. Hari ini, Senin (2/2/2026), self regulatory organization (SRO) melakukan pertemuan perdana dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI) usai penyedia indeks global itu meminta transparansi data pemegang saham emiten.

Permintaan transparansi data kepemilikan saham emiten Bursa Efek Indonesia (BEI) di bawah 5% itu menyita perhatian lantaran MSCI turut memberikan sanksi. Yaitu, interim freeze sejumlah perubahan terkait rebalancing indeks, termasuk indeks review periode Februari 2026.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan, pertemuan secara daring hari ini dihadiri juga oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). 

TOWR Siapkan Buyback Rp 300 Miliar, Bidik 576 Juta Saham dalam 3 Bulan

Uniknya, Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara juga ikut hadir untuk memantau pertemuan tersebut. Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir mengaku hadir mewakili Danantara sebagai investor di pasar saham Tanah Air. 

Pejabat Sementara Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi mengatakan, apa yang digarisbawahi MSCI itu selaras dengan beberapa program delapan rencana aksi reformasi pasar modal Indonesia.

Delapan rencana aksi ini dikelompokkan ke dalam empat klaster besar, yakni kebijakan baru free float, transparansi, tata kelola & enforcement, serta sinergitas. Dari 8 rencana aksi itu, BEI dan KSEI mengajukan tiga proposal solusi kepada MSCI terkait dengan klaster transparansi. 

Ini terkait dengan pengungkapan ultimate beneficial ownership (UBO) dan likuiditas untuk mendorong peningkatan free float sebagai kebijakan baru di pasar modal Tanah Air.

Pertama, membuka data atas kepemilikan pemegang saham dengan porsi di bawah 5%. Ke depan, pembukaan data dapat dilakukan untuk kepemilikan saham di atas bahkan 1%.

Kedua, menghadirkan rincian klasifikasi investor pada data yang selama ini dilakukan pengelolaannya di KSEI. Saat ini, terbatas hanya di 9 tipe investor utama.

“Nantinya, akan dirinci menjadi 27 sub-tipe investor yang akan lebih memunculkan klarifikasi dan juga kredibilitas pengungkapan UBO dari kepemilikan saham tersebut,” katanya dalam konferensi pers di Gedung BEI, Senin (2/2).

IHSG Merah Lagi, Analis Menilai Saham Fundamental Sudah Menarik Diakumulasi

Ketiga, merencanakan kenaikan free float dari pengaturan saat ini di minimum 7,5% menjadi 15%.

Menurut Hasan, dibukanya data kepemilikan saham hingga 1% bisa mencegah praktik “menggoreng” saham. 

Dengan adanya pengungkapan itu, diharapkan semakin akan memperjelas data untuk keputusan investasi bagi siapa pun, termasuk indeks provider global. Misalnya, apakah mereka akan mempertimbangkan si pemilik saham itu dalam kalkulasi perhitungan bobot maupun anggota konstituen indeksnya.

“Atau mereka mungkin saja memutuskan tidak mempertimbangkannya, karena adanya aspek-aspek yang tidak memenuhi kriteria definisi free float di sisi si Indeks Provider yang dimaksud (MSCI),” ujarnya.

Hasan menegaskan, transparansi itu juga membuat semua orang tahu siapa UBO dari kepemilikan saham masing-masing emiten. Kalau dikaitkan dengan mekanisme transaksinya, sedikit banyak akan meningkatkan pencegahan terhadap upaya manipulasi harga di pasar. 

Sebab, pihak SRO juga akan menjadi lebih granular dalam melakukan pengawasan setiap transaksi yang dilakukan. “Kami jadi tahu dibalik setiap order dan transaksi beli maupun jual siapakah pihak-pihak yang melakukan kegiatan transaksi dimaksud,” tuturnya.

Hasan menegaskan, sebenarnya hal yang diinginkan MSCI adalah tidak adanya batas pembukaan data kepemilikan saham. Namun, dengan kapasitas yang ada, SRO Tanah Air sepakat bahwa proposal yang disanggupi disampaikan ke MSCI adalah untuk membuka data kepemilikan saham sampai 1%.

Sehingga, SRO Tanah Air akan berusaha dalam action plan yang sudah dipaparkan. Proses pembukaan data kepemilikan saham hingga 1% itu akan mulai dilakukan besok (3/2/2026).

Danantara Bakal Aktif Investasi di Pasar Modal Lewat Saham dan Obligasi

“Besok kami akan mengumpulkan seluruh partisipan di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang akan terkait dengan melengkapi data granular itu,” tuturnya.

Setidaknya, ada sekitar 125 partisipan yang akan mengikuti sosialisasi pada esok hari. Proses pengisian data juga akan dimulai besok secara berkala.

Meskipun begitu, Hasan tidak menyampaikan lebih lanjut apa alasan SRO Tanah Air menyediakan data hanya sampai 1%. Ke depan, hal ini pun akan menjadi bagian prosedur baku yang diberlakukan dan akan dilakukan publikasi setiap bulannya melalui website BEI.

MSCI diakui akan menunggu dengan pasti realisasi dari strategi itu lantaran terkait dengan perhitungan indeks. Sebab, analisis untuk kocok ulang indeks MSCI itu akan dilakukan pada Mei depan dan berlaku pada Juni.

“Tapi beberapa target kami itu ada yang kita targetkan di Februari dan ada yang targetkan di Maret. Setiap minggu akan ada progres yang akan kami publikasikan, termasuk yang kami sampaikan ke MSCI,” tuturnya.

Head of Retail Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana melihat, delapan agenda reformasi pasar modal diharapkan dapat lebih menyehatkan bursa ke depannya. Sebab, pada agenda tersebut memberikan kesimpulan adanya peningkatan likuiditas, transparansi, dan perbaikan tata kelola. 

Bitcoin Sempat Anjlok ke US$74.000, Investor Besar Terus Akumulasi?

“Hal-hal tersebut juga dibutuhkan sebagai ketentuan dari apa yang diminta oleh MSCI. Diharapkan juga dengan adanya perbaikan dari agenda-agenda tersebut semakin menarik investor ke pasar modal Indonesia,” ujarnya kepada Kontan, Senin (2/2).

Merespons dinamika hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tampak ikut lesu. IHSG ditutup amblas 4,88% ke level 7.922 pada akhir perdagangan hari ini.

Investor saat ini tampaknya masih cenderung wait and see akan pertemuan dengan MSCI. “Namun, koreksi yang terjadi hari ini juga dipengaruhi oleh pergerakan harga komoditas emas dunia yang juga turun selama tiga hari berturut-turut dan berimbas ke emiten emas,” ungkapnya.

Dari sisi teknikal, Herditya mencermati masih adanya potensi koreksi dari IHSG ke depan di tengah sentimen ini. Hingga akhir semester I 2025, IHSG diproyeksikan dia akan bergerak di rentang area 6.745 – 7.140.

Menurut Herditya, jumlah free float yang lebih besar juga sebenarnya tidak menuntaskan masalah yang ada di pasar saham Tanah Air. Sebab, permasalahannya bukan pada jumlah free float yang besar atau tidak.

Hal yang diminta oleh MSCI adalah transparansi kepemilikan dan juga pengendalian suatu emiten ke depannya. Terlalu besar free float, bahkan sampai 100% misalnya, juga tidak dapat dikatakan baik.

Pasar Saham Loyo, Begini Strategi Investasi Pilihan Perencana Keuangan

“Namun, dinaikkannya free float hingga 15% diharapkan akan menjamin adanya likuiditas yang baik dan juga akan lebih menarik di mata para investor,” tutur dia.

Leave a Comment