Muamalat.co.id JAKARTA. Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam sepekan. Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,05% secara harian ke Rp 16.836 per dolar AS pada Jumat (13/2/2026). Dalam sepekan, rupiah menguat 0,23% dari posisinya di Rp 16.876 per dolar pada Jumat (6/2/2026).
Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah melemah 0,10% secara harian ke Rp 16.844 per dolar AS pada Jumat (13/2/2026). Dalam sepekan, rupiah jisdor menguat 0,25% dari posisinya di Rp 16.887 per dolar AS pada Jumat (6/2/2026).
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan rupiah dipengaruhi berbagai sentimen dalam dan luar negeri. Antara lain, data penjualan ritel AS untuk bulan Desember yang lebih lemah dari yang diperkirakan. Angka tersebut menunjukkan bahwa pengeluaran konsumen secara luas di ekonomi terbesar dunia sedang mendingin di tengah inflasi yang tinggi dan tekanan pada pasar tenaga kerja.
IHSG Melemah 0,64% ke 8.212, Top Losers LQ45: SMGR, EXCL dan PGAS, Jumat (13/2)
Kemudian, laporan data ketenagakerjaan AS untuk bulan Januari menunjukkan pasar tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan. Nonfarm Payrolls (NFP) naik 130.000, mengalahkan ekspektasi pasar sekitar 70.000.
Sementara, tingkat pengangguran sedikit menurun menjadi 4,3% dari 4,4%.
Dari sisi pendapatan, pendapatan per jam rata-rata meningkat sebesar 0,4% secara month on month (MoM) pada Januari, meningkat dari 0,1% pada bulan sebelumnya dan melampaui perkiraan pasar sebesar 0,3%. Sementara laju tahunan tetap stabil di 3,7% secara year on year (yoy), juga melampaui ekspektasi sebesar 3,6%.
“Dari dalam negeri, tekanan fiskal Indonesia makin terasa seiring membengkaknya belanja negara dan besarnya kewajiban pembayaran utang pemerintah, di tengah penerimaan yang belum sepenuhnya pasti,” ujar Ibrahim, Jumat (13/2/2026).
Ibrahim bilang, dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, belanja negara ditetapkan sebesar Rp 3.842,7 triliun. Angka ini melonjak Rp 391,3 triliun dibandingkan realisasi belanja 2025 yang mencapai Rp 3.451,4 triliun.
Ibrahim memproyeksikan rupiah dalam sepekan kedepan bergerak dikisaran Rp 16.770 – Rp 16.960 per dolar AS.
Research and Development ICDX, Taufan Dimas Hareva memperkirakan pergerakan rupiah dalam sepekan ke depan masih fluktuatif dengan kecenderungan bergerak pada rentang Rp 16.780–Rp16.950 per dolar AS.
Taufan melihat ruang penguatan relatif terbatas tanpa katalis positif yang kuat dari global. Sementara potensi pelemahan juga cenderung tertahan oleh stabilisasi pasar dan langkah antisipatif otoritas moneter.
“Volatilitas tetap terbuka, terutama jika terjadi perubahan sentimen yang cepat di pasar keuangan internasional,” ucap Taufan.
Sentimen yang perlu dicermati sepekan kedepan antara lain arah pergerakan dolar AS dan yield obligasi Amerika Serikat, rilis data ekonomi AS seperti inflasi dan ketenagakerjaan. Serta dinamika ekspektasi suku bunga The Fed.
Dari domestik, pelaku pasar akan memperhatikan kebijakan dan komunikasi Bank Indonesia, pergerakan arus modal asing. Serta data fundamental seperti neraca perdagangan dan posisi cadangan devisa.
“Kombinasi faktor eksternal dan internal tersebut akan menjadi penentu utama arah rupiah dalam jangka pendek,” jelas Taufan.
Ciputra Development (CTRA) Catatkan Marketing Sales Rp 9,5 Triliun Sepanjang 2025