Muamalat.co.id – JAKARTA. Memasuki tahun 2026, emiten sektor minyak dan gas (migas) menghadapi potensi tantangan yang akan mempengaruhi kinerja. Di antaranya fluktuasi harga minyak dan gas dunia hingga pengaruh sentimen geopolitik global.
Head of Equity Research DBS Vickers Sekuritas Indonesia, William Simadiputra mengatakan, harga minyak sebagian besar tetap berada dalam kisaran yang terbatas, namun risiko geopolitik semakin meningkat.
Kombinasi fundamental penawaran-permintaan, faktor makroekonomi global seperti pemotongan suku bunga dan tarif, serta geopolitik secara kolektif berkontribusi pada volatilitas harga minyak sepanjang tahun 2025, meskipun dalam kisaran perdagangan yang relatif ketat.
Emiten BUMN Ramai-Ramai Jadi Persero, Begini Rekomendasi Sahamnya
Sejak semester II – 2025, kekhawatiran mengenai kelebihan pasokan telah meningkat. Sebagian besar disebabkan oleh pelonggaran pemotongan produksi OPEC+ yang lebih cepat dari perkiraan.
Namun, selama pertemuan bulanan terakhirnya, OPEC+ mengumumkan jeda dalam peningkatan produksi untuk kuartal pertama tahun 2026, dengan alasan kondisi pasar yang lebih lemah secara musiman.
“Tindakan ini menunda pembalikan penuh penyesuaian sukarela hingga akhir tahun 2026 dan memberikan sedikit keringanan bagi pasar, sehingga meningkatkan sentimen harga minyak sampai batas tertentu,” ujar William dalam risetnya pada 22 Januari 2026.
Menurutnya, jeda ini juga memberi waktu kepada kelompok tersebut untuk menilai dampak sanksi Barat yang lebih ketat terhadap perusahaan minyak besar Rusia.
DBS Vickers Sekuritas memperkirakan sanksi Barat yang baru-baru ini diperketat terhadap perusahaan minyak Rusia akan memiliki beberapa efek jangka pendek pada pasokan. Meskipun kemungkinan besar tidak akan menyebabkan gangguan pasar jangka panjang yang signifikan, mengingat pasokan selalu dapat dialihkan melalui berbagai lapisan perantara.
“Oleh karena itu, kami mempertahankan perkiraan harga minyak moderat kami untuk tahun 2026, memproyeksikan rata-rata US$ 62 – US$ 67 per barel untuk minyak Brent. Jika bukan karena gejolak geopolitik yang sedang berlangsung, perkiraan kami untuk tahun 2026 akan sedikit lebih rendah, berdasarkan fundamental saja,” jelas William.
Aktivitas IPO 2026 Diprediksi Lebih Selektif di Tengah Tekanan Sentimen Global
William mencatat bahwa OPEC+ akan menghentikan sementara peningkatan produksi pada kuartal pertama tahun 2026. Pada pertemuan bulanan terbarunya, kelompok negara sukarela 8 (V8), yang dipimpin oleh Arab Saudi dan Rusia, memutuskan untuk menghentikan sementara peningkatan produksi pada kuartal pertama tahun 2026, dengan alasan kondisi pasar yang lebih lemah secara musiman.
Tindakan ini menunda pembalikan penuh penyesuaian sukarela sebesar 1,65 juta barel per hari ke bagian akhir tahun 2026 dan memberikan sedikit kelegaan bagi pelaku pasar, yang telah memperkirakan kelebihan pasokan yang signifikan pada tahun 2026.
Ada beberapa poin penting dari strategi ini. Pertama, ini merupakan indikasi pertama dari OPEC+ bahwa kelebihan pasokan mungkin akan segera terjadi, menandai sedikit penyimpangan dari sikap optimistis mereka sejauh ini. Kedua, ini memungkinkan pendekatan wait and see mengenai dampak sanksi Barat terhadap perusahaan minyak besar Rusia dalam beberapa bulan ke depan, dan bagaimana sanksi ini dapat mempengaruhi kemampuan Rusia untuk meningkatkan produksi lebih lanjut.
Managing Director Research dan Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su mengatakan, tantangan yang perlu dicermati investor terhadap emiten migas adalah penurunan volume alami pada bisnis gas sejauh sekitar 1% sampai 2% setiap tahunnya. Oleh karena itu, emiten migas yang cukup lemah dalam melakukan inisiatif ekspansi memiliki risiko penurunan pendapatan akibat volume yang lebih rendah.
Harry menyebut, harga minyak yang menguat berdampak positif pada emiten migas menimbang kontrak yang relatif sangat pendek, di bawah 1 tahun. Sedangkan gas, harga cenderung lebih stabil karena durasi kontrak biasanya mencapai 10 tahun.
“Jadi, untuk kuartal I – 2026 harusnya positif untuk emiten migas Indonesia,” ucap Harry kepada Kontan, Jumat (20/2/2026).
Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas mengatakan, prospek emiten migas masih berpeluang untuk tetap positif. Ditopang harga minyak yang masih relatif tinggi sehingga menjaga revenue dan cash flow produsen minyak.
Data PDB AS Melemah, Begini Proyeksi Rupiah untuk Senin (23/2/2026)
“Aktivitas jasa migas cenderung stabil mengikuti belanja eksplorasi, sementara segmen gas masih tertahan sehingga pertumbuhan sektor tidak merata,” ucap Sukarno kepada Kontan, Jumat (20/2/2026).
Sukarno menambahkan potensi risiko yang dihadapi emiten sektor migas berasal dari potensi surplus pasokan minyak global, volatilitas harga gas, penurunan produksi lapangan tua domestik. Serta ketidakpastian kebijakan energi dan geopolitik yang dapat memicu fluktuasi harga komoditas.
Terkait rekomendasi saham, William merekomendasikan buy saham Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dengan target harga Rp 1.800 per saham.
Harry Su merekomendasikan buy saham Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dengan target harga Rp 2.300 per saham dan saham MEDC dengan target harga Rp 2.000 per saham.
Sedangkan Sukarno merekomendasikan buy saham ENRG dengan target harga Rp 2.000 per saham.