KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dinilai masih menarik seiring rencana penyelesaian dua proyek smelter High Pressure Acid Leach (HPAL) di Pomalaa dan Morowali serta potensi kenaikan kuota produksi bijih nikel pada tahun ini.
Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer menilai proyek HPAL tersebut menjadi langkah penting bagi INCO dalam mengubah model bisnisnya, dari sekadar penjual bijih nikel menjadi pemain yang lebih terintegrasi dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik.
Menurutnya, ekspansi tersebut memang tidak langsung menghasilkan lonjakan laba dalam waktu singkat. Namun arah strateginya dinilai kuat untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang.
“Penyelesaian proyek HPAL di Pomalaa dan Morowali akan menjadi langkah besar dalam transformasi bisnis INCO menuju rantai pasok baterai kendaraan listrik,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (4/3/2026).
Bidik Potensi US$ 12 Miliar Industri Digital, Simak Strategi Anak Usaha TLKM, Nuon
Ia menambahkan, jika kuota RKAB nikel 2026 benar meningkat hingga sekitar 30%, hal itu berpotensi memberi ruang produksi dan fleksibilitas pasokan yang lebih besar bagi industri.
Meski begitu, dampak positifnya tetap akan bergantung pada stabilitas harga nikel global agar margin perusahaan tidak tertekan.
Sementara itu, Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas menilai prospek INCO semakin konstruktif karena kombinasi peningkatan penjualan bijih nikel dan kontribusi hilirisasi dari proyek HPAL.
INCO diketahui telah mengamankan kuota RKAB 2026 sekitar 22 juta wet metric ton (wmt). Kuota tersebut terdiri dari sekitar 14 juta wmt untuk kebutuhan internal di Sorowako dan sekitar 8 juta wmt untuk monetisasi penjualan bijih.
Dengan dasar tersebut, perusahaan menargetkan penjualan bijih sekitar 10 juta hingga 12 juta wmt pada 2026.
Selain itu, percepatan target penyelesaian proyek HPAL Pomalaa yang diperkirakan rampung pada kuartal III-2026 berpotensi mulai memberi kontribusi awal pada kuartal IV-2026.
Kinerja saham INCO sendiri telah naik cukup signifikan sejak awal tahun. Per 4 Maret 2026, saham ini tercatat menguat lebih dari 20% secara year to date.
Miftah menilai kenaikan tersebut menunjukkan pasar sudah cukup optimistis terhadap prospek perusahaan. Artinya, sebagian sentimen positif kemungkinan sudah tercermin dalam harga saham.
Karena itu, kelanjutan tren kenaikan saham INCO akan sangat bergantung pada perkembangan nyata proyek-proyek tersebut.
Ia menilai momentum first ore sell dari proyek Pomalaa dapat menjadi katalis penting, terutama jika diikuti dengan kontrak penjualan yang jelas.
“Jika first ore sell terealisasi dan diikuti kontrak offtake, itu akan menjadi bukti konkret bahwa ekspansi benar-benar berjalan,” katanya.
Di sisi lain, analis BRI Danareksa menilai valuasi INCO masih relatif menarik meski harga sahamnya telah naik cukup tinggi.
Dengan proyeksi laba bersih tahun fiskal 2026 sekitar US$259 juta dan estimasi rasio price to earnings (P/E) sekitar 15 kali untuk 2027, valuasi tersebut masih berada di bawah rata-rata historis lima tahun yang sekitar 24 kali.
Karena itu, Abida mempertahankan rekomendasi buy untuk saham INCO dengan target harga Rp8.000 per saham.
Sementara itu, Miftah memberikan rekomendasi hold untuk saham INCO dengan target harga yang sama di level Rp8.000.
MDKA dan EMAS Meneken Perjanjian Jual Beli Emas dengan Aneka Tambang (ANTM)