Banyak saham blue chip di-buyback, manakah yang layak beli?

Muamalat.co.id Jakarta. Di tengah pasar saham yang rentan bergejolak dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) memilih melakukan aksi korporasi berupa pembelian kembali saham atau buyback. Buyback juga terjadi di saham blue chip. Lalu manakah dari deretan buyback saham yang memiliki prospek cuan? 

Saham blue chip adalah saham lapis satu yang telah berpengalaman dan memiliki fundamental keuangan kuat. Di BEI, saham blue chip biasanya adalah saham-saham di indeks mayor seperti LQ45.

Salah satu saham LQ45 yang akan dilakukan buyback adalah PT Astra International Tbk (ASII). Perusahaan milik Astra Grup mengumumkan rencana buyback saham dengan nilai maksimal Rp 2 triliun.

Jumlah saham yang akan dibeli kembali tidak melebihi 20% dari modal ditempatkan dan disetor. Periode buyback berlangsung mulai 16 Maret hingga 15 Juni 2026.

Blue chip lainnya, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turut menyiapkan dana hingga Rp 5 triliun untuk membeli kembali saham perseroan di pasar. Langkah ini diambil setelah harga saham BBCA mengalami pelemahan dalam beberapa pekan terakhir. 

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) juga melakukan buyback dengan perkiraan dana Rp 905,48 miliar. Program ini berlangsung selama 12 bulan, yakni dari 9 Maret 2026 hingga 8 Maret 2027.

PT PP (PTPP) Dapat Rating idBBB+ dengan Outlook Negatif dari Pefindo

Sementara itu, PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) berencana melakukan buyback saham dengan alokasi dana Rp 448,69 miliar. Program ini dijadwalkan berlangsung pada 17 April 2026 hingga 17 April 2027.

PT Mulia Boga Raya Tbk (KEJU) juga merencanakan buyback saham dengan dana maksimal Rp 28,12 miliar. Jumlah saham yang akan dibeli kembali diperkirakan mencapai 0,90% atau sekitar 50,76 juta saham dari total saham yang telah dikeluarkan. Aksi korporasi ini akan berlangsung selama 12 bulan setelah memperoleh persetujuan melalui RUPSLB pada 23 April 2026.

Di sektor perbankan, PT Bank Nationalnobu Tbk (NOBU) melaksanakan buyback saham senilai Rp 50 miliar sejak 9 Maret hingga 8 Juni 2026.

Selain itu, PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) mengalokasikan dana Rp 1 triliun untuk buyback saham yang telah dimulai sejak 7 Maret dan akan berlangsung hingga 7 Juni 2026.

Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas harga saham sekaligus meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek bisnis perusahaan.

Tonton: KPK Amankan 27 Orang, 13 Dibawa ke Jakarta dalam OTT di Cilacap

Sinyal Optimisme Emiten

Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus menilai maraknya aksi buyback sejak awal Maret 2026 menunjukkan kepercayaan manajemen emiten terhadap fundamental dan prospek bisnis perusahaan.

Menurut dia, buyback saham memberikan sinyal positif kepada pelaku pasar bahwa emiten yakin terhadap valuasi saham dan kesehatan arus kas perusahaan.

“Buyback saham menjadi kesempatan bagi emiten untuk membeli kembali sahamnya ketika harga sedang rendah,” ujar dia, Jumat (13/3/2026).

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menambahkan, aksi buyback bertujuan menjaga stabilitas harga saham serta meningkatkan kepercayaan investor di tengah volatilitas pasar yang dipicu berbagai faktor eksternal.

Beberapa di antaranya adalah kenaikan harga energi global dan meningkatnya kekhawatiran inflasi.

Ia menyoroti langkah ASII yang mengalokasikan dana Rp 2 triliun untuk buyback setelah harga sahamnya sempat terkoreksi ke kisaran Rp 5.800 per saham.

“Buyback ini mencerminkan keyakinan manajemen bahwa valuasi saham ASII saat ini masih cukup menarik dibandingkan fundamental bisnisnya yang solid,” kata dia, Sabtu (14/3/2026).

Tonton: PLN Siagakan SPKLU dan Posko 24 Jam di Jalur Mudik Jawa–Bali

Prospek Saham Emiten Buyback

Hendra juga menilai buyback saham TOBA senilai Rp 448,69 miliar merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk menahan tekanan penurunan harga saham sekaligus meningkatkan nilai bagi pemegang saham.

Dengan berkurangnya jumlah saham yang beredar, potensi peningkatan laba per saham atau earnings per share (EPS) menjadi lebih besar sehingga secara teoritis dapat mendukung valuasi saham di pasar.

Namun demikian, Nicodemus mengingatkan bahwa buyback saham hanya berpotensi mendorong kenaikan harga saham dalam jangka pendek.

Pasalnya, pergerakan harga saham tetap sangat dipengaruhi kondisi pasar secara keseluruhan, termasuk ketidakpastian global seperti konflik geopolitik di Timur Tengah yang masih berlangsung.

“Kondisi tersebut membuat volatilitas pasar tinggi, sehingga harga saham masih berpotensi mengalami penurunan meski ada buyback,” jelasnya.

Tonton: KPK Amankan 27 Orang, 13 Dibawa ke Jakarta dalam OTT di Cilacap

Rekomendasi Saham

Managing Director Research dan Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menilai beberapa emiten di BEI masih berpeluang melakukan buyback, terutama ketika harga sahamnya mengalami pelemahan di tengah gejolak pasar.

Ia mengingatkan investor untuk mencermati perkembangan realisasi buyback emiten agar dapat menilai komitmen perusahaan terhadap program tersebut.

Dari sejumlah emiten yang melakukan buyback, Harry menilai saham TOBA dan BBNI menarik untuk dipertimbangkan dengan target harga masing-masing Rp 2.100 per saham dan Rp 5.300 per saham.

Sementara itu, Hendra merekomendasikan buy on weakness saham ASII di kisaran Rp 5.675 per saham dengan target jangka pendek di area Rp 6.000 per saham.

Ia juga memberikan rekomendasi buy on weakness untuk saham BBNI dengan potensi kenaikan menuju kisaran Rp 4.500 per saham.

Meski demikian, investor tetap disarankan bersikap selektif dan memanfaatkan momentum teknikal untuk trading jangka pendek di tengah kondisi pasar yang masih bergejolak.

Leave a Comment