KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan bursa saham Asia diperkirakan masih akan cenderung bervariasi pada perdagangan Rabu (18/3/2026). Tingginya ketidakpastian global membuat pelaku pasar memilih bersikap hati-hati.
Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai arah bursa Asia masih akan bergerak mixed dengan kecenderungan konsolidasi.
“Pergerakan bursa Asia cenderung mixed dengan bias hati-hati, seiring tingginya ketidakpastian global,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (17/3/2026).
Cimory (CMRY) Hadapi Tantangan Volatilitas Harga Bahan Baku, Cek Rekomendasi Sahamnya
Menurut Nafan, sentimen risk-off atau kecenderungan investor menghindari aset berisiko masih cukup dominan di pasar saat ini.
Ia menjelaskan, salah satu faktor utama yang mempengaruhi pasar adalah ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed), termasuk proyeksi ekonomi yang tercermin dalam dot plot atau panduan suku bunga ke depan.
“Ekspektasi suku bunga The Fed dan dot plot menjadi sentimen utama, karena mempengaruhi proyeksi pertumbuhan ekonomi, inflasi, hingga tingkat pengangguran di Amerika Serikat,” jelasnya.
Selain itu, pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury yield yang cenderung meningkat, serta penguatan indeks dolar AS juga turut memberikan tekanan bagi pasar saham global, termasuk Asia.
Saham Big Banks Kompak Menguat, BBNI Pimpin Kenaikan Selasa (17/3)
Dari sisi geopolitik, ketegangan di Timur Tengah, khususnya konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran, turut memperbesar ketidakpastian di pasar keuangan.
“Belum lagi dinamika hubungan Amerika Serikat dan China, termasuk kebijakan tarif dan stimulus dari pemerintah China, juga menjadi faktor yang diperhatikan pelaku pasar,” tambahnya.
Sejalan dengan itu, Nafan memproyeksikan indeks-indeks utama di Asia akan bergerak sideways atau cenderung mendatar dalam jangka pendek.
“Secara umum indeks di Asia masih akan bergerak konsolidasi dengan kecenderungan mixed dan hati-hati,” ungkapnya.
Sentimen serupa juga tercermin dari pergerakan pasar Asia pada Selasa (17/3/2026). Mengutip riset Phillip Sekuritas Indonesia, indeks saham di kawasan Asia ditutup bervariasi seiring kenaikan harga minyak mentah dunia.
Harga minyak jenis Brent kembali mendekati level US$ 105 per barel di tengah kekhawatiran gangguan pasokan global, terutama terkait ketegangan di Selat Hormuz.
Kondisi ini memicu kekhawatiran inflasi global yang berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi.
Dari sisi kebijakan moneter, bank sentral Australia atau Reserve Bank of Australia (RBA) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4,1%. Langkah ini diambil seiring inflasi yang masih berada di atas target.
Sementara itu, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% guna menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi.
Dengan berbagai sentimen tersebut, pelaku pasar diperkirakan masih akan mencermati perkembangan global, terutama terkait kebijakan moneter dan dinamika geopolitik, yang berpotensi mempengaruhi arah pergerakan bursa Asia dalam jangka pendek.
Sebagai informasi, pada penutupan perdagangan Selasa (17/3/2026), indeks Nikkei 225 ditutup melemah 0,094% ke level 53.700,39, sementara Hang Seng menguat 0,13% ke 25.868,54. Indeks KOSPI juga naik 1,63% ke 5.640,48, diikuti S&P/ASX 200 yang menguat 0,36% ke 8.614,30. Adapun SSE Composite Index terkoreksi 0,85% ke level 4.049,91. Sementara itu, IHSG menguat 1,20% ke level 7.106,84.