Muamalat.co.id Jakarta. Bursa saham Indonesia masih tertekan hingga akhir Maret 2026. Meski demikian, ada potensi cuan untuk investor dengan memilih sejumlah saham.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 67,034 poin atau 0,61% ke level 7.048,22 pada akhir perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (31/3/2026).
Tekanan terhadap IHSG terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global serta aksi net sell investor asing. Kondisi ini mendorong pelaku pasar untuk lebih selektif dalam memilih sektor investasi.
Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menyarankan investor untuk beralih ke sektor yang diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas serta aset safe haven.
“Kenaikan harga minyak mentah, di mana WTI sempat melonjak di atas US$112 per barel, memberikan sentimen positif bagi emiten sektor migas dan jasa penunjang energi,” ujar Harry, Selasa (31/3).
Minta Restu Pemegang Saham SMAR dan Panigoran Siap Merger, Ini Jadwal dan Dampaknya
Untuk sektor energi, saham yang direkomendasikan antara lain PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA). Harga saham MEDC pada perdagangan Selasa 31 Maret 2026 ditutup di level 1.825 turun 105 poin atau 5,44% dibandingkan seehari sebelumnya. Sebulan terakhir, harga saham MEDC telah turun 170 poin atau 8,52%.
Selain itu, emas tetap menjadi pilihan utama saat pasar berada dalam kondisi risk off. Oleh karena itu, saham tambang emas yang dinilai menarik antara lain PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), dan PT Archi Indonesia Tbk (ARCI).
Harga saham BRMS pada perdagangan Selasa 31 Maret 2026 ditutup di level 730, turun 35 poin atau 4,58% dibandingkan sehari sebelumnya. Sejak awal tahun 2026, harga saham BRMS terakumulasi turun 450 poin atau 38,14%.
Memasuki April 2026, pergerakan IHSG diperkirakan masih akan dibayangi tekanan eksternal, termasuk tensi geopolitik global yang berpotensi memicu kenaikan inflasi serta mempertahankan volatilitas pasar.
Dari sisi kebijakan moneter, peluang penurunan suku bunga oleh bank sentral seperti Federal Reserve dan Bank Indonesia diperkirakan semakin terbatas hingga kuartal II-2026. Otoritas moneter cenderung fokus menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi, terutama dari sektor energi.
Tonton: Pidato Tegas Prabowo di Jepang: Indonesia Sudah Berubah Total!
Harry memproyeksikan bahwa dalam skenario tekanan global berlanjut, IHSG berpotensi bergerak di kisaran support kuartal II-2026 di level 6.800–7.100.
Ia juga menyarankan investor ritel untuk melakukan diversifikasi portofolio ke aset yang lebih aman seperti emas dan obligasi pemerintah, serta menerapkan strategi buy on weakness pada saham-saham berbasis komoditas saat terjadi koreksi tajam.
Strategi ini dinilai dapat membantu investor menghadapi volatilitas pasar sekaligus memanfaatkan peluang dari tren kenaikan harga komoditas global.