Pilah-pilih saham properti CTRA, SMRA, cs kala target marketing sales lebih realistis

Muamalat.co.id , JAKARTA — Sejumlah analis menilai target marketing sales emiten properti pada tahun ini masih tergolong realistis dengan prospek sektor tersebut belum sepenuhnya pulih di tengah tekanan suku bunga tinggi dan daya beli yang lemah.

Head of Research Kisi Sekuritas Muhammad Wafi mengatakan pencapaian target prapenjualan properti sangat bergantung pada optimalisasi insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) serta fokus pada segmen hunian tapak kelas menengah dengan harga di bawah Rp2 miliar, yang dinilai memiliki permintaan paling resilien.

“Target marketing sales relatif realistis, terutama jika didukung oleh insentif pemerintah dan strategi yang tepat di segmen pasar yang masih kuat,” ujar Wafi, Senin (20/4/2026).

Namun demikian, Wafi menilai prospek positif sektor properti saat ini masih tertahan dan cenderung menunggu momentum penurunan suku bunga. Dalam kondisi ini, investor disarankan untuk mencermati emiten dengan kekuatan township serta diversifikasi geografis yang solid.

: Pasar Properti Masih Menantang 2026, Emiten Pasang Target Prapenjualan Konservatif

Beberapa saham yang direkomendasikan antara lain CTRA dengan target harga Rp1.400 yang ditopang diversifikasi proyek nasional dan dominasi di segmen hunian tapak. Kemudian BSDE dengan rekomendasi beli dan target Rp1.200, didukung penjualan solid di BSD City serta cadangan lahan yang besar. Sementara itu, SMRA juga direkomendasikan beli dengan target Rp650, seiring optimalisasi pendapatan berulang dari pusat perbelanjaan terintegrasi.

Dari sisi lain, analis Head of Online Trading BCA Sekuritas Achmad Yaki menilai sejumlah emiten cenderung memasang target yang konservatif guna menjaga stabilitas kinerja dan ekspektasi investor. Ia mencontohkan BSDE yang menargetkan marketing sales sekitar Rp10 triliun, relatif sejalan dengan pencapaian tahun lalu. Sementara PANI membidik sekitar Rp4,3 triliun.

“Emiten saat ini lebih fokus menjaga performa agar tetap stabil, meski pertumbuhan cenderung moderat,” jelasnya.

Menurutnya, prospek sektor properti masih memiliki peluang positif, terutama didorong oleh kebijakan pemerintah seperti perpanjangan insentif PPN DTP, program pembangunan 3 juta rumah, serta potensi penurunan suku bunga ke depan.

Meski demikian, tantangan masih membayangi, mulai dari suku bunga yang bertahan tinggi dalam jangka waktu lebih lama atau higher for longer, pelemahan rupiah yang meningkatkan biaya material konstruksi, hingga daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya.

Dengan kondisi tersebut, Yaki menilai prospek sektor properti dalam jangka pendek masih cenderung wait and see. Namun, investor dapat mulai mencermati peluang dengan strategi selective buy on weakness, khususnya pada saham-saham tertentu seperti PANI.

“Pasar masih menunggu katalis utama, terutama dari arah suku bunga. Sampai saat itu terjadi, pendekatan selektif menjadi kunci,” pungkasnya.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Leave a Comment