BI genjot kredit lewat Pinisi, Superbank (SUPA) soroti permintaan yang masih lesu

Muamalat.co.id , JAKARTA — PT Super Bank Indonesia Tbk. (SUPA) menyoroti lesunya permintaan kredit, di tengah upaya regulator menggenjot fungsi intermediasi perbankan Tanah Air melalui program Percepatan Intermediasi Nasional (Pinisi).

Presiden Direktur Superbank Tigor M. Siahaan menyampaikan penyaluran kredit bergantung pada dua sisi yaitu penawaran dan permintaan. Dari sisi penawaran, dia menyebut bahwa baik Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan perbankan sebenarnya terus berupaya agar fungsi intermediasi berjalan lancar. 

“Tapi yang harus kita waspadai juga dan harus kita teliti, demand side-nya bagaimana nih? Kenyataannya memang banyak orang wait and see,” ujar Tigor usai menghadiri Konferensi Pers RUPS Superbank 2026 di Jakarta Selatan, Senin (27/4/2026).

: Bank Indonesia Luncurkan Program Pinisi, Dorong Percepatan Pembiayaan Swasta

Tigor menuturkan, kondisi geopolitik global membuat banyak pelaku usaha berhati-hati. Pasalnya, pelaku usaha masih menunggu kepastian mengenai situasi ekonomi dalam tiga hingga enam bulan ke depan. Menurutnya, hal ini wajar lantaran pengusaha tentu tidak ingin mengambil risiko terlalu besar tanpa perhitungan matang. 

Di Superbank sendiri, dia menyebut bahwa pertumbuhan kredit masih cukup baik. Hal itu tecermin dari pertumbuhan kredit yang tumbuh 50% pada 2025. Bahkan untuk tahun ini, perseroan menargetkan pertumbuhan kredit pada rentang 50—60%.

: : Aturan RBB Bakal Diarahkan untuk Dukung Program Prabowo, Begini Kata Bos Superbank

Namun secara umum, Tigor mengakui bahwa permintaan kredit memang masih cenderung tertahan lantaran banyak nasabah masih menahan ekspansi akibat ketidakpastian global. 

Meski begitu, lanjut dia, pertumbuhan kredit secara industri sebenarnya masih cukup baik. Sebagai catatan, Bank Indonesia mengungkapkan bahwa kredit bank pada Maret 2026 tumbuh 9,49% secara tahunan (year on year/YoY). 

: : Superbank (SUPA) Putuskan Belum Bagi Dividen Lewat RUPST Perdana Usai IPO

Menurutnya, kondisi ini menunjukkan bahwa likuiditas perbankan masih sehat dan bank masih punya amunisi untuk menyalurkan kredit. Dengan demikian, kata dia, masalah utama bukan pada kesiapan bank, melainkan permintaan dari dunia usaha dan masyarakat yang belum sepenuhnya stabil.

“Cuma demand side-nya ini memang enggak bisa dipaksa. Kita harus lihat, karena mereka lihat secara makro, secara mikro, dan secara keseluruhannya juga,” pungkasnya.

Leave a Comment