Efektif rebalancing LQ45, saham CUAN dan DEWA kerek laju indeks

Muamalat.co.id JAKARTA – Pergerakan indeks 45 saham terlikuid LQ45 terpantau menguat usai rebalancing dengan komposisi pergantian sebanyakan 5 konstituen baru yang efektif pada hari ini (4/5/2026).

Saham konstituen baru yakni CUAN dan DEWA terpantau masuk dalam jajaran saham yang memimpin penguatan indeks prestisius pada hari ini.

Berdasarkan data IDX Mobile hingga pukul 09.05 WIB, Indeks LQ-45 dibuka di zona hijau pada level 671,56 atau naik 1,01%. Terpantau sebanyak 32 saham menghijau, 10 saham memerah, dan 3 saham sisanya stagnan.

Saham PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) naik 6,54% ke level Rp1.955, disusul saham PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) melonjak 3,70% ke level Rp1.260 dan saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) menguat 3,33% ke level Rp248.

Berikutnya saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) ikut naik sebesar 2,92%   ke level Rp1.235, dan saham PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) naik 2,82% ke level Rp510.

: Terdepak dari Indeks LQ45 dan IDX80, Saham BREN-DSSA Justru Melaju Hijau

Sementara itu, saham yang menahan laju penguatan indeks dan cenderung melemah dalah PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) melemah 5,60%, saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO)  melemah 5,56%, diikuti saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO).

Saham konstituen penghuni baru yakni PT Essa Industries Indonesia Tbk. (ESSA)  melemah 1,72% ke level Rp855.

Adapun perombakan susunan indeks utama oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI) yang efektif berlaku pada 4 Mei hingga 31 Juli 2026. Dalam perombakan indeks prestisius LQ45, penerapan kriteria High Shareholding Concentration (HSC) mendepak emiten berkapitalisasi sangat besar namun berlikuiditas publik rendah, seperti PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) (97,31%) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) (95,76%).

 

Sebagai gantinya, masuknya sejumlah emiten baru yang memenuhi rasio free float. Penghuni baru yang masuk dalam daftar indeks LQ-45 adalah CUAN, DEWA, ESSA, HRTA, WIFI.

Secara umum, Tim Riset Phintraco Sekuritas menilai bahwa investor global masih akan mencermati peluang pembicaraan lanjutan antara AS dan Iran pada pekan ini. Selain itu, perhatian juga akan tertuju pada rilis data tenaga kerja AS serta indikator sektor jasa dari Institute for Supply Management (ISM).

Dari dalam negeri, sejumlah data ekonomi penting dijadwalkan rilis, mulai dari indeks manufaktur PMI, neraca perdagangan, hingga inflasi pada awal pekan. Selanjutnya, data pertumbuhan ekonomi kuartal I/2026 akan diumumkan pada 5 Mei, disusul data cadangan devisa, indeks harga properti, dan penjualan mobil pada 8 Mei 2026.

Di sisi fiskal, realisasi APBN hingga akhir Maret 2026 mencatat defisit sebesar Rp240,1 triliun atau setara 0,93% terhadap PDB. Angka ini melebar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 0,43%. Pelebaran defisit dipicu lonjakan belanja negara yang tumbuh 31,4% menjadi Rp815 triliun, sementara pendapatan negara baru mencapai Rp574,9 triliun atau 18,2% dari target.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi menjadi perhatian investor, terutama terkait disiplin fiskal dan implikasinya terhadap stabilitas ekonomi ke depan.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Leave a Comment