Rekor! S&P 500 & Dow Cetak Rekor Tertinggi, Nvidia Jadi Jagoan

Muamalat.co.id NEW YORK. Wall Street menunjukkan performa yang sangat perkasa, dengan indeks S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average berhasil memecahkan rekor tertinggi mereka. Pencapaian luar biasa ini terjadi meskipun laporan kuartalan Nvidia tidak sepenuhnya memenuhi ekspektasi investor yang sangat tinggi, namun secara tegas mengkonfirmasi bahwa pengeluaran untuk infrastruktur kecerdasan buatan (AI) tetap kuat.

Pada penutupan perdagangan Kamis, 28 Agustus 2025, indeks S&P 500 melonjak 0,32% mencapai 6.501,86 poin. Diikuti oleh indeks Nasdaq Composite yang turut menguat 0,53% menjadi 21.705,16 poin, serta indeks Dow Jones Industrial Average yang naik 0,16% ke level 45.636,90 poin. Kenaikan Dow Jones ini secara signifikan melampaui rekor penutupan tertinggi sebelumnya yang tercatat pada 22 Agustus.

Dengan posisi tersebut, indeks S&P 500 kembali mencetak rekor penutupan tertinggi untuk hari kedua secara berturut-turut, menandakan momentum positif yang berkelanjutan di pasar. Sementara itu, bagi indeks Dow Jones, rekor baru ini menegaskan kembali kekuatan pasar, melewati puncak yang berhasil dicetak beberapa hari sebelumnya.

Pergerakan positif juga tersebar di sektor-sektor kunci. Tujuh dari 11 indeks sektoral pada S&P 500 tercatat menguat, dengan sektor layanan komunikasi memimpin kenaikan signifikan sebesar 0,94%. Disusul oleh sektor energi yang menunjukkan penguatan sebesar 0,68%, menandakan partisipasi luas dalam reli pasar.

Meskipun demikian, saham Nvidia mengalami penurunan tipis 0,8%. Pelemahan ini disebabkan oleh ketidakpastian yang meningkat dalam hubungan perdagangan antara China dan Amerika Serikat, yang mendorong perancang cip AI terkemuka ini untuk mengecualikan proyeksi potensi penjualan di China dari laporan kuartalannya pada Rabu malam. Situasi ini menunjukkan sensitivitas pasar terhadap isu geopolitik, bahkan di tengah narasi AI yang dominan.

Terlepas dari penurunan kecil tersebut, para investor secara luas memandang laporan Nvidia—termasuk lonjakan pendapatan kuartalan yang mencapai 56%—sebagai konfirmasi kuat bahwa permintaan terhadap teknologi AI masih sangat tinggi. Pandangan positif ini terus menjadi motor penggerak utama di balik reli saham-saham terkait AI yang telah mendorong Wall Street mencetak rekor-rekor baru dalam beberapa tahun terakhir.

Tren positif saham-saham AI juga tercermin pada kinerja perusahaan lain. Alphabet naik 2%, Amazon menguat 1%, dan produsen cip Broadcom melonjak hampir 3%. Antusiasme terhadap potensi AI juga terlihat pada Snowflake, perusahaan analisis data, yang melesat 20% setelah meningkatkan proyeksi pendapatan produk tahun fiskal 2026 berkat tingginya permintaan AI. Tak ketinggalan, HP Inc juga naik 4,6% setelah berhasil melampaui estimasi pendapatan kuartalan, didorong oleh permintaan kuat untuk komputer pribadi bertenaga AI.

Nvidia merupakan anomali sehingga mengatakan bahwa hasil penjualannya mengecewakan seolah bertentangan dengan standar ekspektasi yang hampir mustahil,” ujar Ross Mayfield, analis strategi investasi di Baird. Ia menambahkan, “Jelas bahwa pendorong struktural utama pasar ini, yaitu AI, tidak akan ke mana-mana atau mereda,” menegaskan keyakinan kuat terhadap masa depan teknologi AI sebagai motor penggerak pasar.

Di luar sektor teknologi, beberapa perusahaan menunjukkan pergerakan yang beragam. Saham Nike, misalnya, turun 0,2% setelah raksasa pakaian olahraga tersebut mengumumkan rencana pemotongan kurang dari 1% tenaga kerja korporatnya. Keputusan ini diambil karena kesulitan perusahaan dalam merebut kembali pangsa pasar yang berhasil direbut oleh para pesaingnya.

Kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global sedikit mereda setelah data terbaru menunjukkan klaim pengangguran mingguan lebih rendah dari perkiraan. Selain itu, laporan terpisah juga mengungkapkan bahwa laba perusahaan menunjukkan pemulihan yang signifikan pada kuartal kedua, memberikan sinyal positif bagi prospek ekonomi.

Ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan segera memangkas suku bunga guna menopang pertumbuhan ekonomi telah menjadi salah satu faktor penting yang berkontribusi pada penguatan Wall Street belakangan ini. Pelonggaran kebijakan moneter ini diharapkan dapat memberikan dorongan tambahan bagi pasar dan aktivitas ekonomi secara keseluruhan.

Fokus investor pada hari Jumat akan beralih ke rilis data Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE), yang merupakan indikator inflasi utama. Tanda-tanda peningkatan inflasi dapat berpotensi meredam ekspektasi luas terhadap pelonggaran kebijakan pada pertemuan kebijakan The Fed di bulan September, sehingga data ini akan diawasi ketat.

Menurut FedWatch dari CME Group, para pedagang memperkirakan peluang penurunan suku bunga pada bulan depan lebih dari 80%. Di sisi lain, sebuah peristiwa yang menarik perhatian adalah gugatan hukum yang diajukan oleh Gubernur The Fed Lisa Cook pada hari Kamis, menentang upaya Presiden AS Donald Trump untuk mencopotnya dari jabatannya awal pekan ini.

Sementara itu, di sektor makanan kemasan, saham Hormel Foods anjlok 13% setelah perusahaan tersebut mengeluarkan proyeksi laba kuartalan yang suram, menunjukkan tantangan yang dihadapi di beberapa segmen industri.

Ringkasan

Wall Street mencatatkan performa impresif dengan indeks S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average mencetak rekor tertinggi. Meskipun laporan Nvidia tidak sepenuhnya memenuhi ekspektasi, pertumbuhan pengeluaran untuk infrastruktur kecerdasan buatan (AI) tetap menjadi pendorong utama pasar. Data terbaru menunjukkan penguatan di sektor-sektor kunci dan pemulihan laba perusahaan.

Investor menantikan rilis data Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) yang akan mempengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed. Sentimen positif terhadap teknologi AI terus berlanjut, meskipun ada kekhawatiran mengenai perlambatan ekonomi global dan isu geopolitik. Pasar memperkirakan peluang penurunan suku bunga oleh The Fed pada bulan September mendatang.

Leave a Comment