Muamalat.co.id JAKARTA. Prospek kinerja PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) pada 2026 dinilai tetap positif meski dampak ekspansi rumah sakit baru belum sepenuhnya tercermin dalam laba jangka pendek.
Emiten rumah sakit ini menargetkan pembukaan tiga rumah sakit baru pada 2026 sebagai bagian dari rencana jangka panjang untuk memiliki total 70 rumah sakit pada 2030.
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty menilai, rencana HEAL membuka tiga rumah sakit baru pada 2026 mencerminkan strategi ekspansi yang konsisten dan terukur untuk memperkuat posisi Hermina sebagai salah satu jaringan rumah sakit terbesar di Indonesia.
Menurutnya, secara prospek ekspansi ini positif karena menambah kapasitas layanan, memperluas jangkauan geografis, dan menopang pertumbuhan pendapatan jangka menengah hingga panjang.
“Namun dampak langsung terhadap kinerja keuangan di 2026 kemungkinan masih terbatas,” jelas Arinda kepada Kontan, Senin (19/1/2026).
Prajogo Pangestu Borong 3 Juta Saham Barito Pacific (BRPT): Investor Cuan atau Cemas?
Arinda menambahkan, rumah sakit baru umumnya membutuhkan waktu sekitar 6 bulan-12 bulan untuk mencapai tingkat utilisasi dan profitabilitas optimal.
Pada fase awal operasional, HEAL justru berpotensi menghadapi kenaikan biaya operasional, depresiasi, hingga beban bunga.
“Dengan demikian, ekspansi 2026 lebih berperan sebagai fondasi pertumbuhan berkelanjutan dibandingkan sebagai pendorong laba instan,” ujar Arinda.
Dari sisi katalis, Arinda menilai potensi pemulihan volume pasien, khususnya layanan rawat inap dan non-emergency, menjadi pendorong utama kinerja HEAL pada 2026.
Selain itu, kontribusi bertahap dari rumah sakit baru, peluang akuisisi, serta langkah efisiensi melalui sentralisasi pengadaan, optimalisasi sumber daya manusia, dan pengembangan layanan spesialis bernilai tambah berpotensi memperbaiki margin.
Namun, sejumlah sentimen negatif masih perlu diwaspadai. Tekanan margin akibat dominasi pasien BPJS Kesehatan dengan tarif relatif rendah, kenaikan biaya operasional dan bunga pinjaman seiring ekspansi, serta risiko keterlambatan perizinan atau rendahnya utilisasi rumah sakit baru dapat membebani kinerja.
“Sentimen terhadap HEAL cenderung selektif dan sangat bergantung pada keberhasilan efisiensi serta pertumbuhan volume pasien,” kata Arinda.
Bakrie & Brothers (BNBR) Akan Rights Issue 90 Miliar Saham, Ini Rencana Penggunaannya
Sebagai catatan, HEAL membukukan laba bersih sebesar Rp 356,02 miliar hingga September 2025, turun 23,95% secara tahunan. Menurut Arinda, 2025 berpotensi menjadi periode tekanan profitabilitas akibat kenaikan biaya dan margin yang tertekan.
Untuk 2026, prospek laba bersih HEAL diperkirakan mengarah pada stabilisasi hingga pemulihan bertahap, seiring perbaikan volume pasien, mulai terasa dampak efisiensi, serta kontribusi rumah sakit baru. Meski demikian, pertumbuhan laba diproyeksikan masih moderat karena beban ekspansi belum sepenuhnya hilang.
“2026 berpotensi menjadi fase awal pemulihan laba, dengan akselerasi yang lebih jelas pada tahun-tahun berikutnya karena utilisasi dan margin kembali optomal,” jelasnya.
Atas dasar tersebut, Arinda merekomendasikan investor untuk buy saham HEAL dengan target harga Rp 1.700 per saham.
HEAL Chart by TradingView