Aktivitas IPO Asia naik tajam, Indonesia diprediksi sepi di awal 2026

Muamalat.co.id – , JAKARTA – Aktivitas penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) di Asia Pasifik melonjak tajam sepanjang 2025, namun Indonesia diperkirakan belum ikut menikmati momentum tersebut dalam waktu dekat, terutama pada paruh pertama 2026. Head of Equity Capital Markets Citigroup Rob Chan mengatakan, secara global pasar modal ekuitas mencatat kinerja sangat kuat pada 2025.

Dari sisi pasar modal ekuitas, jika dilihat secara global, 2025 merupakan tahun yang sangat kuat dengan pertumbuhan aktivitas ECM sebesar 25 persen secara tahunan, dengan total sekitar 950 miliar dolar AS.

“Di kawasan Asia Pasifik, volume penerbitan juga tumbuh sekitar 27 persen menjadi 294 miliar dolar AS, atau lebih dari 30 persen dari total volume global,” kata Rob Chan dalam Asia South Investment Banking Outlook 2026 yang diselenggarakan secara daring oleh Citi, Kamis (15/1/2026).

IPO, lanjutnya, menjadi penggerak utama, dengan lonjakan volume yang tajam. “Volume IPO Asia Pasifik meningkat 60 persen menjadi 85 miliar dolar AS,” ungkapnya.

India menjadi salah satu kontributor terbesar. Sepanjang 2025, total dana yang dihimpun melalui pasar modal di India mencapai 60 miliar dolar AS, dengan volume IPO mencetak rekor tertinggi. 

“Volume IPO mencapai rekor tertinggi, yakni 23 miliar dolar AS dari lebih 370 transaksi,” kata Chan.

Memasuki 2026, valuasi pasar yang tinggi diperkirakan mendorong berlanjutnya aktivitas ECM di India. Citi memperkirakan volume IPO India pada 2026 berada di kisaran 15 hingga 20 miliar dolar AS, dengan pipeline terbesar sepanjang sejarah dan mencakup berbagai sektor.

Sementara itu, di kawasan ASEAN, aktivitas pasar modal ekuitas juga menunjukkan peningkatan, meski tidak sekuat Asia Utara dan India. “Di ASEAN, volume ECM meningkat sekitar 20 persen menjadi 13,8 miliar dolar AS pada 2025,” kata Chan. 

Sejumlah IPO besar di Singapura, Malaysia, dan Vietnam tercatat diperdagangkan di atas harga penawaran dan berkinerja baik di pasar sekunder. Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya tercermin di Indonesia. Chan mengatakan, pada 2025 aktivitas ECM di Indonesia tercatat sekitar 1 miliar dolar AS, relatif stagnan dibandingkan tahun sebelumnya. Salah satu perhatian utama investor masih berkaitan dengan likuiditas perdagangan saham.

“Jika melihat Indonesia, pada tahun lalu kami mencatat aktivitas equity capital markets (ECM) sekitar 1 miliar dolar AS,” ujarnya. Meski demikian, ia menilai peluang tetap terbuka di sektor-sektor tertentu, terutama komoditas yang kinerjanya menguat.

Untuk jangka pendek, Citi belum melihat adanya IPO berskala besar. “Untuk aktivitas IPO dalam jangka pendek di Indonesia, kami tidak memperkirakan adanya IPO signifikan pada paruh pertama tahun ini,” kata Chan. Sejumlah rencana IPO diperkirakan baru akan terealisasi pada paruh kedua tahun atau bergeser ke tahun berikutnya.

Leave a Comment