Bitcoin pernah anjlok 30% usai intervensi yen, tapi ada polanya

Muamalat.co.id  Bitcoin pernah mengalami koreksi tajam hingga 30% setelah intervensi mata uang yen Jepang pada episode sebelumnya.

Namun, sejarah menunjukkan ada “jebakan menarik”: setelah penurunan tersebut, harga Bitcoin justru sempat melonjak lebih dari 100%.

Pola inilah yang kini kembali dicermati pelaku pasar, seiring meningkatnya spekulasi soal potensi intervensi yen oleh otoritas Jepang.

Gelar RUPSLB, Chandra Asri Pacific (TPIA) Merombak Jajaran Pengurus

Melansir Cointelegraph Senin (26/1/2026), harga Bitcoin (BTC) berisiko kembali tertekan apabila wacana intervensi yen benar-benar diwujudkan.

Dalam dua episode intervensi sebelumnya, langkah otoritas Jepang di pasar valuta asing bertepatan dengan koreksi sekitar 30% pada harga Bitcoin dari level tertingginya.

Intervensi yen biasanya dilakukan pemerintah Jepang dengan menjual dolar AS dan membeli yen untuk menahan pelemahan mata uang tersebut.

Akhir pekan lalu, pasar keuangan kembali siaga setelah muncul laporan bahwa Federal Reserve Bank of New York melakukan “rate checks” pada pasangan USD/JPY, yang kerap dipandang pelaku pasar valuta asing sebagai sinyal awal potensi aksi terkoordinasi.

Sinyal tersebut diperkuat oleh pernyataan pejabat yang menekankan eratnya koordinasi Amerika Serikat dan Jepang terkait stabilitas nilai tukar.

Sebagai informasi, mengutip data Coinmarketcap Senin (26/1/2026) pukul 20.35 WIB, Bitcoin berada di level US$87.944, turun 0,77% dalam 24 jam terakhir atau 5,40% dalam 7 hari terakhir.

Saham Emiten Asuransi Menguat, Simak Prospek dan Rekomendasinya

Pola “Fraktal Yen” Bitcoin

Dalam dua periode intervensi yen sebelumnya, harga Bitcoin tercatat turun sekitar 30% dari puncak lokal sebelum akhirnya membentuk dasar (base).

Penurunan ini dikaitkan dengan pembongkaran posisi yen carry trade, yakni strategi meminjam yen berbunga rendah untuk diinvestasikan ke aset berisiko.

Namun, setelah fase tekanan tersebut, harga Bitcoin justru mencatat reli lanjutan dengan kenaikan lebih dari 100%.

Analis kripto Mikybull Crypto menilai, pola serupa berpotensi kembali terulang. Menurutnya, harga Bitcoin kemungkinan akan mengalami penurunan lebih dulu sebelum kembali reli.

Jika pola tersebut berjalan, Bitcoin berisiko turun ke kisaran US$65.000–US$70.000 sebelum menemukan pijakan yang lebih kuat.

Tekanan Domestik Dominan, Yield SBN Masih Rentan Naik

Data On-Chain Masih Waspada

Sejumlah indikator on-chain turut menguatkan pandangan bahwa tekanan ke bawah belum sepenuhnya selesai.

Data dari Alphractal menunjukkan pasar Bitcoin belum mengalami fase kapitulasi penuh dan belum membentuk “dasar harga” yang solid.

Salah satu indikator yang dicermati adalah Net Unrealized Profit/Loss (NUPL), yang mengukur apakah mayoritas pemegang Bitcoin berada dalam kondisi untung atau rugi secara belum terealisasi.

Saat ini, NUPL memang menurun, tetapi masih berada di atas nol, menandakan pasar secara agregat masih berada dalam posisi untung.

Dalam siklus sebelumnya, titik terendah Bitcoin umumnya baru terbentuk setelah NUPL berubah negatif, yang menandakan sebagian besar investor berada dalam posisi rugi dan tekanan jual telah mereda.

Harga Emas Tembus US$ 5.000 per Ons, Yen Menguat karena Kekhawatiran Intervensi

Data Cointelegraph juga menunjukkan pasokan Bitcoin yang masih berada dalam kondisi untung saat ini sekitar 62%, level terendah sejak September 2024, ketika harga Bitcoin berada di sekitar US$30.000.

Selain itu, delta growth rate Bitcoin telah berubah menjadi negatif. Indikator ini membandingkan nilai pasar dengan nilai realisasi Bitcoin.

Penurunan di bawah nol mengindikasikan harga mulai mendekati atau bahkan berada di bawah biaya agregat jaringan, menandakan pasar sedang mendingin dan memasuki fase akumulasi.

Secara sederhana, data tersebut menunjukkan pasar Bitcoin masih rentan terhadap tekanan lanjutan sebelum membentuk dasar harga yang lebih tahan lama.

Meski proses ini kerap menyakitkan, Alphractal menilai fase tersebut sering kali membuka peluang beli jangka panjang yang menarik sebuah pandangan yang sejalan dengan pola historis pasca-intervensi yen.

Leave a Comment