Cek sektor saham unggulan saat IHSG rutin cetak rekor

Muamalat.co.id JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus mencetak rekor baru di tengah rupiah yang melemah dan hampir mendekati level Rp17.000 per dolar AS. Sejumlah sektor saham menjadi pilihan di tengah pelemahan ini.

Head of Research RHB Sekuritas Andrey Wijaya menjelaskan untuk 2026, IHSG diperkirakan tetap berada dalam tren yang konstruktif, dengan target base case di 9.400 dan optimist case di 10.200. Penguatan ini didukung oleh pemulihan laba, perbaikan margin di sektor-sektor utama, pelonggaran kondisi keuangan domestik, serta premi pertumbuhan Indonesia di antara negara emerging markets. 

“Meski volatilitas global tetap menjadi risiko, arah jangka menengah IHSG masih positif selama stabilitas makro dan kredibilitas kebijakan tetap terjaga,” ujar Andrey, Senin (19/1/2026).

: IHSG Dibuka Menguat Sentuh 9.155, Saham DCII, BRPT, hingga BUMI Melaju

Sebaliknya, lanjut dia, rupiah cenderung bergerak lebih terbatas dalam rentang tertentu. Permintaan struktural terhadap dolar AS, ketidakpastian arah suku bunga global, dan kecenderungan investor asing untuk melakukan hedging membatasi potensi penguatan Rupiah.

Dengan demikian, lanjutnya, tahun 2026 lebih tepat dipandang sebagai tahun optimisme berbasis ekuitas dengan kehati-hatian di sisi mata uang, bukan periode inflow besar yang merata ke seluruh kelas aset.

: : 100 Saham Paling Cuan Saat IHSG ATH (19/1)

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menjelaskan sektor yang akan diuntungkan dengan pelemahan rupiah adalah saham yang berbasis ekspor. Adapun saham yang berbasis impor kurang beruntung karena pelemahan rupiah akan menaikkan harga cost.

Sementara itu, Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan melihat apabila rupiah terus melemah, maka sektor berbasis ekspor dan komoditas cenderung diuntungkan, seperti pertambangan emas, nikel, dan batubara, lalu CPO, serta emiten dengan pendapatan dolar dan biaya rupiah. 

: : IHSG Menguji Level 9.150 Hari Ini (20/1), Simak Saham Jagoan BRI Danareksa Sekuritas

“Sebaliknya, sektor yang bergantung pada impor, seperti consumer goods tertentu, farmasi, dan manufaktur dengan bahan baku impor, berpotensi tertekan akibat kenaikan biaya dan tekanan margin,” tutur Ekky.

Sementara itu, kata Ekky, untuk sektor perbankan, dampaknya relatif lebih netral secara fundamental. Akan tetapi, karena porsi kepemilikan asing cukup besar, pelemahan rupiah tetap dapat memengaruhi arus inflow ke saham perbankan.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Leave a Comment