KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sentimen negatif akibat demonstrasi besar-besaran di Tanah Air berpotensi memperlemah rupiah lebih lanjut. Ribuan massa dari berbagai elemen masyarakat turun ke jalan pada Kamis (28/8/2025) dan Jumat (29/8/2025), menyuarakan tuntutan kenaikan upah minimum 2026, penghapusan sistem outsourcing, reformasi pajak, bahkan pembubaran Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Aksi yang berlangsung hingga malam hari ini dipicu oleh beberapa faktor, termasuk besaran tunjangan DPR dan pernyataan kontroversial sejumlah anggotanya. Puncaknya, kerusuhan terjadi dan mengakibatkan korban jiwa, semakin memanaskan situasi politik dalam negeri.

Kejadian ini menimbulkan sentimen risk off yang kuat, berdampak signifikan terhadap pasar keuangan. Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan bahwa demonstrasi ini akan menekan pergerakan rupiah. “Sentimen risk off yang sangat kuat tercermin dari sell off di pasar ekuitas dan rupiah,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (29/8/2025).
Data dari Trading Economics pada Jumat (29/8/2025) pukul 12.02 WIB menunjukkan rupiah spot melemah 0,56% secara harian, berada di level Rp 16.445 per dolar AS. Secara simultan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga anjlok 2,27% di sesi I perdagangan, ditutup di angka 7.771.
Jika demonstrasi berlanjut, tekanan terhadap rupiah diperkirakan akan terus meningkat. Namun, Lukman menambahkan, Bank Indonesia kemungkinan besar akan melakukan intervensi untuk menstabilkan nilai tukar rupiah.
Meskipun demikian, Lukman memperkirakan potensi pelemahan rupiah secara teknis hingga mencapai level Rp 16.700 per dolar AS. Ketidakpastian politik yang meluas menjadi faktor utama yang perlu diwaspadai dalam perkembangan nilai tukar rupiah ke depan.
Ringkasan
Demonstrasi besar-besaran di Indonesia terkait tuntutan kenaikan upah, penghapusan outsourcing, dan isu lainnya telah memicu sentimen negatif di pasar keuangan. Aksi ini, yang dipicu oleh berbagai faktor termasuk tunjangan DPR, mengakibatkan kerusuhan dan korban jiwa, memperburuk situasi politik.
Sentimen risk off yang kuat akibat demonstrasi telah menekan rupiah dan pasar saham. Rupiah spot melemah 0,56% menjadi Rp 16.445 per dolar AS, sementara IHSG anjlok 2,27%. Analis memprediksi potensi pelemahan rupiah hingga Rp 16.700 per dolar AS jika demonstrasi berlanjut, meskipun Bank Indonesia diperkirakan akan melakukan intervensi.