Muamalat.co.id – JAKARTA. Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (9/1). Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,13% ke 16.819 per dolar AS. berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI) rupiah juga melemah 0,20% ke Rp 16.834 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, rupiah melemah di tengah penguatan dolar AS. Survey yang menunjukkan penurunan pada kepercayaan konsumen Indonesia di bulan Desember ikut menekan rupiah. Selain itu, prospek pemangkasan suku bunga BI dan defisit APBN juga masih membebani.
“Rupiah masih dalam tekanan, secara fundamental masih sangat membebani rupiah dan tidak akan berubah dengan cepat. Terlebih masih ada data ekonomi penting yang diantisipasi minggu depan seperti inflasi AS dan penjualan ritel Indonesia,” ujar Lukman kepada Kontan, Jumat (9/1/2026).
Lukman memproyeksikan rupiah pada Senin (12/1) di kisaran Rp 16.750 – Rp 16.850 per dolar AS.
Glencore Jual Ratusan Juta Saham Trimegah Bangun (NCKL), Untung Rp 276 Miliar Lebih
Taufan Dimas Hareva, Research and Development ICDX mengatakan, rupiah yang saat ini berada di kisaran Rp16.800 per dolar AS diperkirakan masih bergerak fluktuatif namun cenderung terbatas dalam sepekan ke depan. Hal ini seiring pasar yang bersikap hati-hati menunggu kejelasan arah kebijakan moneter global.
“Pelaku pasar akan mencermati rilis data ekonomi AS dan sinyal lanjutan dari The Fed yang memengaruhi ekspektasi suku bunga global dan arah arus modal, di tengah dinamika risk appetite yang masih sensitif terhadap isu geopolitik,” ujar Taufan kepada Kontan, Jumat (9/1/2026).
Lalu, di dalam negeri, Taufan mengatakan bahwa perhatian tertuju pada kondisi inflasi, neraca perdagangan, serta komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar, termasuk melalui intervensi di pasar valas dan obligasi.
Sehingga pergerakan rupiah ke depan lebih ditentukan oleh keseimbangan antara tekanan eksternal dan daya tahan faktor domestik.
Taufan memproyeksikan rupiah pada Senin (12/1) bergerak di rentang Rp 16.650 – Rp 17.000 per dolar AS, dengan tekanan utama masih berasal dari pergerakan dolar AS dan imbal hasil US Treasury.
Sementara dari sisi domestik stabilitas fundamental dan respons kebijakan Bank Indonesia berperan meredam pelemahan yang lebih dalam.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah (12/1/2026) akan mendekati level Rp 16.900 per dolar AS karena sentimen geopolitik global.