Emiten semen masih hadapi tantangan bisnis yang berat pada 2026

Muamalat.co.id JAKARTA. Tantangan yang dihadapi oleh emiten-emiten produsen semen masih cukup berat pada 2026 sekalipun peluang pertumbuhan kinerja tetap terbuka.

Dalam berita sebelumnya, Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (Asperssi) mencatatkan bahwa volume produksi semen nasional menyusut sekitar 4,5% year on year (yoy) menjadi 64,7 juta ton pada 2025.

Bersamaan dengan itu, penjualan semen di pasar domestik turun sekitar 1,5% yoy menjadi 63,9 juta ton. Sebaliknya, penjualan semen ke pasar ekspor melesat 32,2% yoy menjadi 1,32 juta ton sepanjang 2025 lalu.

Lantas, Asperssi memproyeksikan penjualan semen di dalam negeri akan naik sekitar 1% – 2% pada 2026.

Pasar Masih Oversupply, Begini Prospek Kinerja Emiten Semen pada 2026

Berkaca dari situ, Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan mengatakan, prospek emiten semen pada 206 masih tergolong menantang dan tidak bisa mengandalkan pertumbuhan volume penjualan semata.

Maklum saja, industri semen nasional masih dibayangi kelebihan kapasitaS (oversupply), sehingga kompetisi harga makin ketat dan margin mudah tertekan, apalagi utilisasi pabrik semen masih rendah.

“Sentimen positifnya tetap ada, terutama kalau belanja infrastruktur dan properti benar-benar berjalan lebih aktif, plus peluang ekspor, namun ekspor juga tidak selalu mulus karena persaingan yang tinggi,” ungkapnya, kemarin.

Strategi yang paling penting diterapkan emiten semen pada 2026 adalah efisiensi biaya dan disiplin harga. Sebab, di pasar yang potensi pertumbuhannya tipis, pihak yang tahan banting biasanya produsen dengan struktur biaya paling efisien.

Kinerja Emiten Semen Masih Tersendat, Simak Rekomendasi Analis Berikut

Pada saat yang sama, emiten semen masih bisa berinovasi lewat produk bernilai tambah sekaligus memperkuat ekspor ataupun produk turunan.

“Tapi kuncinya tetap eksekusi dan  inovasi harus ujungnya terasa ke margin, bukan sekadar narasi,” imbuh Ekky.

Ekky memperkirakan, emiten semen yang berpeluang unggul kinerjanya pada tahun ini adalah mereka yang memiliki neraca keuangan kuat, biaya rendah, dan kemampuan distribusi solid.

  INTP Chart by TradingView  

Secara umum, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) kerap dipandang menarik karena posisi keuangan yang kuat dan fleksibilitas menghadapi siklus industri semen.

Pasar Domestik Lesu, Indocement (INTP) Siap Genjot Penjualan Semen ke Pasar Ekspor

Dari sisi rekomendasi, sektor semen masih layak dipertimbangkan oleh investor, meski harus selektif lantaran ini bukan sektor dengan pertumbuhan cepat.

Saham INTP dan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dapat dilirik investor dengan target harga masing-masing di level Rp 7.000–Rp 8.000 per saham dan Rp 3.000–Rp 3.200 per saham.

Leave a Comment