KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek indeks berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG) diproyeksikan mengalami pemulihan signifikan pada 2026 setelah melalui fase konsolidasi sepanjang tahun 2025. Indeks tematik ESG bahkan dinilai berpeluang mencatatkan re-rating valuasi seiring membaiknya kinerja fundamental emiten dan dukungan kebijakan hijau pemerintah.
Analis fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menuturkan, data awal 2026 menunjukkan tren positif pada pergerakan indeks ESG. Salah satunya terlihat dari indeks ESG Sector Leaders IDX KEHATI yang telah pulih ke level 131,2 dari titik terendah 105,3 pada tahun sebelumnya.
“Dengan target IHSG yang diproyeksikan menembus kisaran 9.002 hingga 9.450 serta proyeksi pertumbuhan laba bersih emiten yang berbalik positif sekitar 14%, indeks tematik ESG memiliki landasan fundamental kuat untuk mencatatkan performa yang lebih unggul dibandingkan indeks pasar secara umum,” kata Abida kepada Kontan, Senin (26/1/2026).
Indeks ESG Berpeluang Rebound pada 2026, Ini Saham Pilihan Analis
Ia menilai, katalis utama penguatan indeks ESG pada 2026 berasal dari implementasi kebijakan fiskal hijau, khususnya dimulainya pemungutan pajak karbon dengan tarif minimal Rp30 per kilogram CO2 ekuivalen. Kebijakan tersebut akan berjalan beriringan dengan optimalisasi Bursa Karbon Indonesia (IDXCarbon) serta peluncuran Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) yang memberikan kepastian hukum perdagangan karbon.
Selain itu, penerapan standar pelaporan keberlanjutan internasional ISSB IFRS S1 dan S2 dinilai akan semakin memisahkan emiten berkualitas tinggi dari sisi tata kelola dan efisiensi energi, sehingga memperkuat daya tarik indeks ESG di mata investor.
Seiring tren investasi hijau global, Abida melihat peluang peningkatan aliran dana asing ke saham ESG Indonesia semakin terbuka. Pertumbuhan ekonomi negara berkembang yang diproyeksikan mencapai sekitar 4% pada 2026 menjadi faktor pendukung utama.
“Indonesia dipandang sebagai salah satu pasar paling kompetitif di Asia karena daya tarik transition finance serta kebutuhan besar terhadap infrastruktur energi bersih untuk mendukung ekosistem pusat data dan kecerdasan buatan global,” jelasnya.
Dari sisi saham penopang, sektor perbankan dan energi terbarukan diperkirakan tetap menjadi motor utama indeks ESG tahun ini. Abida merekomendasikan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan target harga jangka panjang Rp10.800 serta PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) di level Rp5.500 berkat kualitas aset yang solid. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) juga diproyeksikan rebound seiring tren pelonggaran suku bunga.
Di sektor energi hijau, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) direkomendasikan beli dengan target harga Rp1.700 sebagai penerima manfaat langsung dari perdagangan karbon. Sementara PT Astra International Tbk (ASII) dengan target Rp7.450 dinilai tetap menjadi proksi utama transisi kendaraan listrik di Indonesia. Saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) juga layak dicermati karena memiliki profil risiko ESG yang rendah serta rating keberlanjutan MSCI ‘A’.
BI Lakukan Intervensi, Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 16.782 per Dolar AS Hari Ini
Adapun strategi investasi yang disarankan adalah memprioritaskan emiten dengan peta jalan dekarbonisasi yang kredibel serta strategi efisiensi energi yang jelas untuk mengantisipasi dampak pajak karbon. Investor juga dapat memanfaatkan momentum rebalancing indeks pada Mei dan November untuk menyesuaikan portofolio.
“Pendekatan akumulasi bertahap pada saham berkapitalisasi besar yang defensif namun memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang di sektor ekonomi digital dan infrastruktur hijau akan efektif menghadapi volatilitas pasar,” pungkas Abida.