Harga emas Antam Rp2.434.671 awal 2026, saatnya beli!

Muamalat.co.id   Memasuki tahun 2026, instrumen emas batangan tetap menjadi primadona bagi para investor yang mengutamakan keamanan aset. Bahkan saat ini harga emas Antam mencapai Rp2.434.671,500/gram (1/1). 

Sebagai aset yang bersifat safe haven, emas terbukti mampu mempertahankan nilai daya beli masyarakat di tengah fluktuasi ekonomi dan tekanan inflasi global.

Bagi investor di Indonesia, pergerakan harga emas Antam maupun produk emas lainnya sering kali menjadi indikator penting dalam menyusun strategi diversifikasi portofolio.

Investasi emas bukan sekadar membeli saat harga murah dan menjualnya saat harga tinggi. Diperlukan pemahaman mendalam mengenai siklus pasar dan manajemen risiko agar keuntungan yang diperoleh bisa optimal.

Strategi Keuangan 2026: Audit, Anggaran, dan Investasi Cerdas

Memahami Cara Kerja Investasi Emas dan Harga Emas Antam Terkini 2026

Sebelum terjun lebih jauh, investor perlu memahami karakteristik dasar dari instrumen ini. Melansir informasi dari laman Sahabat Pegadaian, investasi emas bekerja dengan prinsip menjaga nilai kekayaan dalam jangka panjang.

Emas tidak memberikan dividen atau bunga layaknya saham atau deposito, namun keuntungannya berasal dari selisih harga beli dan harga jual atau capital gain.

Harga emas sangat dipengaruhi oleh kondisi geopolitik dunia, tingkat suku bunga bank sentral, dan nilai tukar Dolar AS (US$).

Sebagai contoh, jika harga emas dunia berada di level US$ 2.700 per troy ons, dengan kurs Rp 15.600 per US$, maka harga tersebut setara dengan Rp 42,12 juta per troy ons sebelum dikonversi ke satuan gram dan biaya cetak di pasar lokal.

Per tanggal 1 Januari 2026 pukul 08.30 WIB, melansir situs resi Antam, harga emas Antam terpantau di angka Rp2.434.671,500/gram. Anda bisa mulai membelinya di Pegadaian atau Galeri24. 

Strategi Investasi Emas bagi Pemula

Bagi masyarakat yang baru ingin memulai, kedisiplinan menjadi faktor kunci. Berdasarkan tips yang dikutip dari Galeri 24, ada beberapa strategi yang bisa diterapkan oleh investor pemula agar tidak terjebak dalam kepanikan pasar:

  • Tentukan Tujuan Investasi: Apakah untuk dana pendidikan, biaya naik haji, atau dana pensiun dalam 5 sampai 10 tahun ke depan.
  • Pantau Harga Secara Rutin: Lakukan pengecekan harga harian untuk memahami tren pergerakan pasar secara teknikal.
  • Gunakan Teknik Menabung Rutin: Membeli emas dalam jumlah kecil secara konsisten tanpa terlalu memusingkan fluktuasi harga harian.
  • Pilih Tempat Pembelian Terpercaya: Pastikan membeli emas di institusi yang memiliki kredibilitas dan memberikan sertifikat keaslian.
  • Fokus pada Jangka Panjang: Emas idealnya disimpan minimal selama 3 sampai 5 tahun untuk menutupi selisih harga jual kembali atau buyback.

Strategi ini membantu investor untuk menghindari spekulasi berlebihan yang justru bisa merugikan likuiditas pribadi.

Belajar dari Tokoh Bisnis: Konsistensi dalam Diversifikasi

Dunia investasi Indonesia juga sering mengambil inspirasi dari tokoh-tokoh besar dalam mengelola kekayaan.

Mengutip artikel dari EmasAntam.id, salah satu prinsip yang sering disoroti, termasuk dalam filosofi yang dijalankan mendiang Eka Tjipta Widjaja, adalah penguatan aset riil.

Meski dikenal sebagai taipan bisnis, esensi dari strategi tersebut adalah diversifikasi aset yang kuat ke berbagai sektor untuk memitigasi risiko sistemik.

Di tengah proyeksi inflasi 2026, alokasi 10%-15% ke emas semakin strategis bagi portofolio rumah tangga Indonesia.

Tonton: Test Drive Jaecoo J5, SUV Listrik Murah Tapi Rasa Sultan

Ketika pasar modal mengalami volatilitas tinggi, emas berperan sebagai penyeimbang yang mencegah nilai total portofolio merosot tajam.

Investor disarankan mengalokasikan sekitar 10% hingga 15% dari total kekayaan mereka dalam bentuk logam mulia.

Keuntungan dan Risiko yang Perlu Diperhatikan

Meski dianggap aman, emas tetap memiliki risiko yang harus dipahami oleh setiap investor. Berikut adalah ringkasan yang perlu diperhatikan:

  • Risiko Likuiditas: Meskipun mudah dijual, namun jika menjual dalam kondisi mendesak saat harga turun, investor bisa mengalami kerugian.
  • Biaya Penyimpanan: Jika memiliki emas fisik dalam jumlah besar, diperlukan biaya tambahan untuk menyewa safe deposit box.
  • Selisih Harga (Spread): Terdapat perbedaan antara harga beli dan harga buyback yang biasanya berkisar antara 10% hingga 12%.

Dilansir dari laman Sahabat Pegadaian, pemahaman terhadap spread ini sangat penting agar investor tidak terburu-buru menjual emasnya sebelum mencapai titik impas atau break even point.

Dengan kondisi ekonomi global yang masih dinamis pada tahun 2026, emas tetap menjadi instrumen yang sangat direkomendasikan untuk menjaga nilai uang dari gerusan inflasi.

Strategi yang tepat, pemilihan tempat transaksi yang legal, dan kesabaran dalam memegang aset adalah kunci sukses dalam investasi logam mulia ini.

Leave a Comment