Harga emas diproyeksi naik, analis sebut masih bisa tembus US$ 6.000

Muamalat.co.id JAKARTA. Prospek harga emas kian moncer di tengah meningkatnya ketidakpastian global. 

Lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings, menaikkan asumsi harga logam dan komoditas tambang untuk tahun 2026, termasuk emas. Revisi ini dinilai sejalan dengan kondisi pasar saat ini yang dipenuhi sentimen risiko geopolitik dan tekanan inflasi.

Untuk komoditas emas, Fitch mencatat harga aktual 2025 sebesar US$ 3.431 per ons troi. Kemudian dinaikkan proyeksi harganya seiring derasnya permintaan di pasar global. 

Mayoritas Mata Uang Asia Termasuk Rupiah Menguat, Ini Faktor Pendorongnya

Proyeksi lama Fitch harga emas pada 2026 sebesar US$ 3.400 kini direvisi signifikan menjadi US$ 4.500 per ons troi. 

Tiffani Safinia, Research & Development ICDX, menilai revisi proyeksi harga emas oleh Fitch Ratings menjadi US$ 4.500 per ons troi pada 2026 merupakan langkah yang wajar. 

Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya permintaan aset safe haven seiring eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Menurutnya, ketegangan geopolitik tersebut turut memicu gangguan pasokan energi global, terutama di jalur strategis seperti Selat Hormuz. 

Kondisi ini berdampak pada kenaikan harga energi dan mendorong ekspektasi inflasi, sehingga memperkuat daya tarik emas sebagai instrumen lindung nilai.

“Selain itu, dukungan juga datang dari pembelian agresif bank sentral dan tren diversifikasi cadangan devisa yang menopang prospek harga emas dalam jangka menengah hingga panjang,” jelas Tiffani kepada Kontan, Rabu (1/4/2026).

Sejalan dengan kondisi tersebut, Tiffani pun memproyeksikan harga emas berpotensi melesat lebih tinggi. 

Ia memperkirakan harga emas dapat berada di kisaran US$ 5.500 – US$ 6.000 per ons troi hingga akhir 2026.

Ditanya Lonjakan Saham Rp 200 Jadi Rp 8.000 dalam Tiga Bulan, Begini Respons OJK

Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa dalam jangka pendek, harga emas masih berpotensi mengalami koreksi. Hal ini terutama jika data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan ketahanan yang kuat dan mendorong ekspektasi suku bunga tetap tinggi.

“Meskipun outlook jangka menengah cenderung bullish, volatilitas jangka pendek tetap perlu diantisipasi oleh pelaku pasar,” ujarnya.

Dalam kondisi pasar yang fluktuatif, strategi investasi emas sebaiknya dilakukan secara bertahap. Tiffani menyarankan investor melakukan akumulasi saat terjadi koreksi harga, sekaligus menerapkan diversifikasi portofolio.

Ia menambahkan, pergerakan harga emas sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik, inflasi, serta arah kebijakan suku bunga global.

Oleh karena itu, pemantauan terhadap data ekonomi AS menjadi salah satu kunci dalam pengambilan keputusan investasi.

Pendekatan yang disiplin, berbasis data, serta manajemen risiko yang baik menjadi kunci utama dalam mengoptimalkan potensi imbal hasil di tengah dinamika pasar global saat ini.

Leave a Comment