KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat tipis 0,82 poin atau 0,01% ke 9.134,70 pada akhir perdagangan Selasa (20/1/2026). Secara tahun berjalan, pergerakan indeks sudah melaju 5,64%.
Pergerakan indeks bahkan sempat menyentuh level tertinggi di posisi 9.174,47 sepanjang perdagangan hari ini.
Saat IHSG naik tinggi, kondisi rupiah justru mengalami pelemahan. Rupiah spot ditutup pada level Rp 16.956 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Selasa (20/1/2026), melemah tipis 0,006% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 16.955 per dolar AS.
Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menilai pergerakan nilai tukar rupiah yang nyaris menembus Rp 17.000 per dolar AS berkaitan erat dengan tekanan fiskal yang membayangi Indonesia pada tahun 2026.
Valas Global Bergerak Beragam Usai Ancaman Tarif Trump ke Eropa soal Greenland
Ia memperkirakan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 bisa mencapai 3%, meskipun Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berkomitmen menjaga defisit tetap di bawah ambang batas tersebut.
Dengan proyeksi defisit yang melebar, pemerintah diperkirakan akan kembali meningkatkan penerbitan surat utang untuk menutup kebutuhan pembiayaan, terutama di tengah besarnya kebutuhan belanja, seperti anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mencapai Rp 355 triliun.
Di sisi lain, penerimaan negara dari sektor perpajakan dinilai belum optimal, karena realisasinya dalam tiga tahun terakhir konsisten tidak mencapai target. Kondisi ini tercermin dari langkah pemerintah yang baru-baru ini menerbitkan global bond berdenominasi dolar AS senilai US$ 2,7 miliar untuk pembiayaan APBN.
Liza pun menyoroti dinamika menarik di pasar keuangan domestik. Meski rupiah tercatat sebagai mata uang terlemah di kawasan Asia, IHSG justru terus mencetak rekor. Fenomena ini didorong oleh arus dana asing yang masih masuk, setidaknya hingga dua hari terakhir, baik ke pasar saham dengan nilai sekitar Rp 6,6 triliun, maupun ke instrumen SRBI.
“Indeks dolar AS memang sedang melemah secara global, jadi disini ada faktor penyeimbang,” kata Liza dalam risetnya, Selasa (20/1/2026).
Liza menambahkan saat ini, yield SUN tenor 10 tahun telah membentuk pola golden cross dan berpotensi melanjutkan kenaikan, selama bertahan di atas level 6,30%. Dalam skenario tersebut, yield diperkirakan bergerak menuju kisaran 6,51%, 6,74%, hingga 7%–7,2%.
Kenaikan yield ini berimplikasi pada penurunan harga obligasi, yang pada akhirnya dapat mempersempit minat investor terhadap obligasi pemerintah dan meningkatkan risiko defisit APBN menembus 3%.
Dalam kondisi tersebut, ruang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga dinilai sangat terbatas, demi menjaga rupiah dan pemanis untuk obligasi pemerintah. Konsekuensinya, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 diperkirakan cenderung melambat.
“Dengan kombinasi faktor tersebut, rupiah dinilai belum memiliki daya tawar yang kuat dibandingkan mata uang utama kawasan ASEAN seperti baht Thailand, ringgit Malaysia, dan dolar Singapura,” pungkasnya.
Akses Internet Merata Rp100 Ribu/Bulan: Ini Strategi WIFI dan Pospro
Pergerakan Teknikal IHSG
Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menyampaikan sepanjang sesi perdagangan, pergerakan IHSG cenderung terbatas dan mulai terlihat tertahan oleh aksi profit taking, terutama setelah indeks mencatatkan rekor tertinggi dalam beberapa hari terakhir.
Dari sisi sentimen, tekanan datang dari pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati level psikologis Rp 17.000 per dolar AS, meningkatnya tensi geopolitik global khususnya terkait isu Amerika Serikat dan Eropa, serta sikap pelaku pasar yang cenderung wait and see menjelang keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia.
Sementara itu, aktivitas transaksi pasar relatif didominasi oleh saham-saham berkapitalisasi besar dan konglomerasi, seperti BUMI, DEWA, BRMS, dan BUVA, yang menjadi penopang likuiditas perdagangan hari ini.
Secara teknikal, meskipun penguatan hari ini relatif terbatas, IHSG masih berada dalam tren bullish dan bahkan sempat mencatatkan all time high secara intraday di level 9.174. Kondisi ini menunjukkan bahwa momentum kenaikan masih terjaga.
“Namun demikian, kami melihat adanya potensi koreksi sehat menuju area support di level 9.110, dengan resistance terdekat di kisaran 9.170,” ucap Reza kepada Kontan, Selasa (20/1/2026).
Potensi koreksi ini sejalan dengan tekanan dari nilai tukar rupiah yang melemah, ekspektasi penahanan BI Rate di level 4,75%, dinamika faktor makro global seperti geopolitik dan pergerakan harga komoditas yang masih perlu dicermati sebagai sentimen lanjutan pasar.
Rekomendasi Saham
Reza membagikan sejumlah rekomendasi saham pilihan yang menarik untuk dilirik investor, antara lain:
PT Archi Indonesia Tbk (ARCI)
Rekomendasi: Buy Rp 1.960 – Rp 1.980
Resistance: Rp 2.050 – Rp 2.110
Stop loss: Di bawah Rp 1.950
2. PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR)
Rekomendasi: Buy Rp 2.030 – Rp 2.060
Resistance: Rp 2.100 – Rp 2.230
Stop loss: Di bawah Rp 2.000
3. PT Sumber Global Energy Tbk (SGER)
Rekomendasi: Buy Rp 550 –Rp 570
Resistance: Rp 610 – Rp 635
Stop loss: Di bawah Rp 520
Valas Bergerak Beragam Usai Ancaman Tarif Trump, Analis Ungkap Strategi & Peluangnya