Muamalat.co.id Jakarta. Setelah libur Lebaran, aktivitas jual beli saham di pasar modal Indonesia kembali dibuka hari ini, Rabu 25 Maret 2026. Usai libur lama, investor perlu mencermati rekomendasi para analis sebelum melakukan transaksi saham.
Volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih tinggi setelah libur panjang. Sentimen utama yang membayangi pasar berasal dari ketegangan geopolitik global, khususnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Sebagai gambaran, IHSG ditutup menguat 1,2% atau naik 84,55 poin ke level 7.106,83 pada Selasa (17/3). Namun, secara year to date (ytd) sepanjang 2026, IHSG masih terkoreksi dalam sebesar 17,81%.
Selama periode libur panjang, tekanan eksternal semakin terasa. Nilai kontrak rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) bahkan sempat menembus level Rp 17.000 per dolar AS, dipicu eskalasi konflik antara AS dan Iran.
Pasar Bergejolak, Reksadana Saham Turun, Ini Strategi Manajer Investasi
Meski sempat mereda setelah Presiden AS Donald Trump memberikan tenggat waktu lima hari kepada Iran, ketidakpastian tetap tinggi. Pasalnya, Iran membantah adanya kesepakatan tersebut, sehingga pasar masih dibayangi risiko lanjutan.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai volatilitas pasar masih akan bertahan tinggi. Ia menyebut peluang koreksi IHSG masih lebih besar dibandingkan potensi penguatan dalam jangka pendek.
“Walaupun ada peluang rebound, kami melihat potensi koreksi IHSG masih dominan karena volatilitas pasar saham yang tinggi,” ujar Nico.
Menurutnya, arah pergerakan IHSG sangat bergantung pada perkembangan konflik global. Ketidakpastian perang membuat pelaku pasar cenderung bersikap wait and see.
Tonton: Breaking News: Kapal Induk Terbesar Dunia Tinggalkan Zona Perang!
Waspadai Dividend Trap di Musim Dividen
Memasuki musim RUPS dan pembagian dividen, investor diingatkan untuk tidak gegabah. Nico menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap risiko dividend trap, yakni kondisi di mana harga saham turun setelah pembagian dividen.
Sejumlah emiten besar seperti PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) telah lebih dulu membagikan dividen.
“Jangan sampai investor mengejar dividen, tetapi justru terjebak dividend trap karena harga saham terkoreksi dan tidak cepat rebound,” jelasnya.
Strategi Investasi: Buy on Weakness hingga Trading Jangka Pendek
Di tengah tekanan pasar, penurunan harga saham justru membuka peluang dari sisi valuasi jangka panjang. Namun, strategi ini hanya cocok bagi investor yang memiliki dana segar.
Investor dengan likuiditas tambahan dapat memanfaatkan koreksi untuk melakukan akumulasi bertahap (averaging down), terutama pada saham dengan fundamental kuat.
Sebaliknya, bagi investor tanpa dana tambahan, disarankan untuk menunggu hingga kondisi pasar lebih stabil.
Selain itu, strategi trading jangka pendek juga bisa menjadi alternatif untuk memanfaatkan volatilitas. Investor dapat mengambil keuntungan dari momentum kenaikan harga dalam waktu singkat.
Namun, disiplin dalam manajemen risiko tetap menjadi kunci. Penentuan batas cut loss wajib dilakukan untuk meminimalkan potensi kerugian di pasar yang fluktuatif.
Tonton: Bocorkan Rahasia Iron Dome ke Iran! Tentara Israel Ditangkap
Proyeksi IHSG dan Sentimen Global
Nico memproyeksikan IHSG akan bergerak dalam rentang 7.000 hingga 7.200 hingga akhir Maret 2026. Arah pergerakan indeks masih sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik global serta kebijakan suku bunga.
Sementara itu, analis lain seperti Hans Kwee melihat adanya peluang pergerakan terbatas. Ia menyebut bahwa narasi yang dibangun oleh Trump membuka kemungkinan meredanya konflik, sehingga strategi buy on weakness masih relevan.
Dari sisi teknikal, IHSG diperkirakan bergerak dengan level support di kisaran 7.000–7.100 dan resistance di area 7.250–7.349.
Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sendiri kembali dibuka pada Rabu, 25 Maret 2026, setelah libur panjang Hari Suci Nyepi dan Idulfitri 1447 H.
Investor disarankan untuk tetap mencermati perkembangan geopolitik global, pergerakan nilai tukar rupiah, serta harga energi dunia yang akan menjadi katalis utama bagi IHSG dalam jangka pendek.