Isu independensi Bank Indonesia dan risiko APBN bikin rupiah masih rapuh

Muamalat.co.id – JAKARTA. Rupiah berupaya bangkit dari tekanan setelah sempat terpuruk ke level terlemah sepanjang sejarah. Namun, penguatan tersebut belum cukup meredakan kekhawatiran pasar, mengingat nilai tukar masih berada di bawah tekanan berat.

Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (27/1/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot menguat 0,08% secara harian ke Rp 16.768 per dolar AS. Sedangkan berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah melemah 0,13% secara harian ke Rp 16.801 per dolar AS.

Kendati demikian, rupiah sempat melemah hingga level terendah sepanjang sejarah, yakni pada pada 20 Januari 2026 yang menyentuh Rp 16.988 per dolar Amerika Serikat (AS), ini mencerminkan besarnya tekanan yang datang baik dari faktor global maupun domestik.

Kinerja Indeks Sektor Barang Baku Melesat, Cermati Prospek Saham-Saham Berikut

Dari eksternal, rupiah turut tertekan oleh menguatnya sentimen riskoff global akibat ancaman tarif AS terhadap Uni Eropa, di tengah ketidakpastian geopolitik yang mendorong penguatan dolar AS sebagai aset lindung nilai.

Namun, faktor domestik justru semakin memperberat pergerakan rupiah. Salah satu yang paling banyak disorot adalah munculnya kontroversi terkait isu penunjukan Thomas Djiwando sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) yang memiliki kedekatan politik dengan lingkar kekuasaan ke posisi strategis di BI.

Terpilihnya Thomas yang merupakan keponakan dari Presiden RI Prabowo Subianto ditakutkan dapat mengganggu independensi BI.

Selain itu,  Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2025 yang mencatat pelebaran defisit sebesar Rp 695,1 triliun atau setara dengan 2,92% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga makin meningkatkan kekhawatiran.

Meskipun usai BI menahan suku bunga acuannya di level 4,75% pada RDG BI bulan Januari ini rupiah mengalami tren penguatan, tapi nilai tukar rupiah dinilai masih berada dalam kondisi rentan.

Ekonom Bright Institute, Yanuar Rizky, bilang tekanan terhadap rupiah saat ini tidak bisa dilepaskan dari persepsi pasar terhadap keberlanjutan fiskal dan kapasitas otoritas dalam menjaga stabilitas.

Menurut Yanuar, APBN merupakan underlying utama dari Surat Berharga Negara (SBN). Dengan demikian, meningkatnya risiko fiskal akan langsung tercermin pada persepsi investor terhadap rupiah.

“APBN adalah underlying dari SBN. Suka tidak suka, BI yang terus melakukan hold SBN di neracanya akan menggerus juga kemampuan cash liquidity rasio BI untuk melakukan intervensi pasar,” ujar Yanuar, Selasa (27/1/2026).

Ini Rekomendasi Saham Pendatang Baru di Indeks LQ45, IDX30 dan IDX80

Ia menjelaskan, kondisi tersebut membuat BI menghadapi tantangan ganda, yakni menjaga stabilitas nilai tukar di satu sisi, serta mengelola kebutuhan revolving SBN jatuh tempo dan pembiayaan defisit APBN berjalan di sisi lain. “Sehingga, risiko gagal bayar bisa menjadi isu krusial,” tambahnya.

Dari sisi domestik, Yanuar juga menyoroti melemahnya kepercayaan terhadap rupiah. Hal ini mendorong pergeseran portofolio ke aset lindung nilai seperti valuta asing dan emas.

Selain itu, volatilitas pasar saham juga berpotensi meningkat akibat strategi investor yang memburu capital gain dari selisih nilai tukar. “Peralihan portofolio dalam negeri dari rupiah ke valas dan emas akan menekan juga,” jelasnya.

Terkait langkah stabilisasi, BI tercatat masih aktif melakukan intervensi, termasuk di pasar offshore, dengan nilai outstanding mencapai sekitar US$ 14 miliar dalam sebulan terakhir. Maka, nilai rata-rata harian diperkirakan mencapai sekitar US$ 700 juta.

Namun, Yanuar menilai intervensi semata tidak akan cukup efektif apabila volatilitas terus meningkat. Ia menekankan pentingnya pengelolaan isu dan komunikasi kebijakan agar tidak memperburuk persepsi pasar. Pemerintah dan otoritas dinilai perlu menghindari wacana dan kebijakan kontroversial yang dapat memicu ketidakpastian.

Selain itu, Yanuar menilai disiplin fiskal perlu menjadi nada utama kebijakan pemerintah. Ekspansi belanja di tengah penerimaan negara yang melemah dinilai berisiko dan berlawanan dengan arus.

Simak Prospek Grup Lippo di tengah Kenaikan Harga Saham

Ke depan, ia menilai stabilitas nilai tukar harus dijaga melalui pendekatan yang rasional dan konsisten. “Fokusnya stabilitas, bukan model saling serang antara otoritas fiskal dan moneter,” pungkas Yanuar.

Leave a Comment