Kredit diproyeksi tumbuh positif, begini prospek kinerja perbankan tahun 2026

Muamalat.co.id – JAKARTA. Arah kebijakan makroekonomi menjadi penentu kinerja perbankan pada tahun 2026. Hal tersebut nantinya akan berdampak ke sejumlah indikator kinerja, salah satunya terkait pertumbuhan kredit. 

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan memproyeksikan kinerja perbankan di awal tahun 2026 relatif stabil dengan kecenderungan membaik. Hal ini ditopang oleh pertumbuhan kredit yang masih positif, likuiditas yang terjaga, serta potensi penurunan suku bunga lanjutan yang mendukung permintaan kredit.

“Sentimen kunci meliputi arah kebijakan suku bunga BI, stabilitas nilai tukar rupiah, pertumbuhan kredit (loan growth), serta tren Non Performing Loan (NPL) dan cost of credit. Selain itu, aliran dana asing juga memengaruhi pergerakan saham bank besar,” ucap David kepada Kontan, Kamis (15/1/2026). 

IHSG Berpeluang Terkoreksi Terbatas pada Senin (19/1), Simak Proyeksi sahamnya

James Stanley Widjadja, Henan Putihrai Sekuritas memperkirakan pemulihan laba per saham atau earnings per Share (EPS) didukung oleh sikap fiskal yang lebih pro-pertumbuhan, pengeluaran pemerintah yang dipercepat, langkah-langkah stimulus, dan suntikan likuiditas yang bertujuan untuk menghidupkan kembali konsumsi domestik dan meningkatkan daya beli. 

“Kami mengantisipasi hal ini akan mendorong percepatan pertumbuhan kredit dan dukungan untuk kualitas pinjaman usaha kecil dan menengah (UKM) dan konsumen. Kami memperkirakan pertumbuhan pinjaman sebesar 8,9% pada tahun 2026, meningkat dari 7,5% pada proyeksi tahun 2025,” kata James dalam risetnya pada 5 Januari 2026.  

Selain itu, biaya pendanaan diperkirakan akan turun sebesar 10 bps dengan transmisi suku bunga acuan yang lebih rendah dan kondisi likuiditas yang lebih baik. Namun, James melihat tantangan dalam imbal hasil aset dan biaya kredit. Dia memperkirakan penurunan imbal hasil aset sebesar 10 bps di keempat bank besar karena bank cenderung beralih ke pinjaman grosir dengan imbal hasil lebih rendah di tengah lingkungan suku bunga yang lebih rendah karena tingginya tingkat kredit macet konsumen dan mikro. 

Oleh karena itu, bahkan dengan peningkatan cost of funds (CoF), James memperkirakan peningkatan Net Interest Margin (NIM) yang terbatas sebesar 5 bps pada proyeksi tahun 2026. Selain itu, dengan adanya tekanan kualitas aset dan kebutuhan untuk membangun kembali penyangga provisi, James memperkirakan biaya kredit akan meningkat 10 bps menjadi 1,5% di keempat bank besar yakni BBCA, BBNI, BBRI, dan BMRI.  

“Dengan demikian, untuk bank-bank yang kami liput, kami memperkirakan kinerja pertumbuhan EPS yang berbeda, dengan masing-masing bank menghadapi tantangan tersendiri. Secara keseluruhan, kami memperkirakan pemulihan EPS tahun 2026 yang terbatas sebesar 3,6% untuk 4 Bank Besar, berkisar dari -1,6% milik BMRI hingga 9,4% milik BBNI,” jelas James. 

Head of Research OCBC Sekuritas, Budi Rustanto mengatakan, tekanan NIM diantisipasi dari penurunan imbal hasil pinjaman, yang didorong oleh persaingan ketat dan suku bunga acuan yang lebih rendah. Bank Indonesia telah memberikan insentif likuiditas makroprudensial untuk mempercepat transmisi penurunan suku bunga BI ke suku bunga pinjaman. 

Namun, hal ini akan sebagian diimbangi oleh penurunan CoF, yang didukung oleh peningkatan likuiditas dari Rp276 triliun dalam deposito pemerintah, pelonggaran kebijakan moneter, dan imbal hasil obligasi pemerintah yang lebih rendah. 

“Kami memperkirakan pertumbuhan kredit akan mencapai sekitar 8% pada akhir tahun 2025 dan 8% – 12% tahun depan, didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang membaik menyusul kebijakan fiskal ekspansif dan pelonggaran moneter yang agresif,” ujar Budi. 

Budi bilang bahwa BBCA, BBRI, dan BBNI menaikkan biaya kredit mereka untuk meningkatkan cakupan, meskipun biaya tersebut tetap berada dalam pedoman manajemen. Lebih lanjut, kualitas aset diperkirakan akan tetap solid, sebagaimana tercermin dalam rasio Pinjaman Berisiko (Loan-at-Risk/LAR) yang lebih rendah. “Sementara itu, bank-bank tersebut terus mempertahankan posisi modal yang kuat, jauh di atas minimum peraturan,” kata Budi.   

Menanti Kesepakatan Tarif, Begini Proyeksi Rupiah Senin (19/1)

Victor Stefano, Analis BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan pertumbuhan pinjaman terutama didorong oleh segmen grosir. Meskipun pergeseran ini mendukung portofolio pinjaman yang lebih stabil mengingat sifat jangka panjang pinjaman investasi, hal ini kemungkinan akan meningkatkan persaingan. Terutama di segmen korporasi unggulan dan menekan imbal hasil pinjaman. 

Dikombinasikan dengan K-Shape recovery, yang memusatkan likuiditas dan daya tawar di antara segmen korporasi dan segmen berpendapatan tinggi, Victor memperkirakan imbal hasil aset yang lebih lemah akan lebih mengimbangi peningkatan biaya dana (CoF). Sehingga mengakibatkan margin bunga bersih (NIM) yang tertekan untuk tahun 2026.

“Kami memperkirakan pertumbuhan kredit tahun 2026 sebesar 11,0%, meningkat dari proyeksi pertumbuhan kredit tahun 2025 sebesar 9,1%,” ucap Victor dalam risetnya pada 13 Januari 2026.

James merekomendasikan Buy saham BBCA, BBNI, dan PT Bank Jago Tbk (ARTO), dengan target harga masing – masing Rp 10.000 per saham, Rp 5.000 per saham, dan Rp 2.500 per saham. 

Budi merekomendasikan Buy saham BBCA, BBRI, dan BMRI dengan target harga masing – masing Rp 11.000 per saham, Rp 5.000 per saham, dan Rp 5.500 per saham.

David merekomendasikan Buy saham BBCA dengan target harga kisaran Rp 10.000 per saham dan Buy saham BMRI dengan target harga kisaran Rp 5.600 per saham.

Victor merekomendasikan Buy saham BBCA dan Bank BTPN Syariah (BTPS) dengan target harga masing – masing Rp 10.800 per saham dan Rp 1.600 per saham.

Cek Rekomendasi Saham Sektor Perbankan untuk Senin (19/1)

Leave a Comment