Laba Indo Tambangraya (ITMG) diprediksi pulih pada 2026, ini sebabnya

Muamalat.co.id – JAKARTA. PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) mencatatkan penurunan kinerja pada Januari – September 2025. Faktor cuaca menjadi salah satu penentu kinerja ITMG di kuartal I – 2026. 

ITMG mengantongi pendapatan sebesar US$ 1,37 miliar per kuartal III – 2025, menurun 17% year on year (yoy). Laba bersih ITMG juga terkoreksi 52% yoy menjadi US$ 131 juta per kuartal III-2025.    

Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand mengatakan, prospek kinerja ITMG pada kuartal I – 2026 diproyeksikan tetap stabil dengan peluang pemulihan laba bersih tahunan sebesar 6,2% menjadi US$ 296 juta. Meskipun berada di tengah kebijakan pemangkasan target produksi nasional menjadi 600 juta ton, ITMG memiliki keunggulan operasional berupa disiplin biaya yang kuat dengan target penurunan biaya tunai (cash cost) hingga US$ 43,7 per ton melalui optimalisasi strip ratio ke level 8,8x. 

“Keberlangsungan operasional pada kuartal pertama juga tetap terjaga melalui kebijakan pemerintah yang mengizinkan penambangan sementara sebesar 25% dari rencana produksi tahunan hingga 31 Maret 2026 sambil menunggu persetujuan RKAB definitif,” ujar Abida kepada Kontan, Senin (26/1/2026). 

Indeks ESG Berpeluang Pulih Bertahap pada 2026, Simak Rekomendasi Analis Berikut

Meski begitu, Abida melihat tantangan utama yang dihadapi ITMG pada periode ini meliputi faktor cuaca ekstrem seperti curah hujan tinggi dan gelombang laut yang berpotensi menghambat kelancaran distribusi batubara melalui kapal tongkang. Selain itu, adanya ketidakpastian terkait waktu persetujuan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) tahun 2026 akibat penyesuaian volume produksi nasional oleh kementerian terkait menjadi aspek regulasi yang perlu diantisipasi. 

Dari sisi internal, perseroan juga dihadapkan pada tantangan penurunan cadangan (depleting reserves) di beberapa area tambang lama, seperti pada anak usaha PT Indominco Mandiri, yang menuntut manajemen cadangan yang lebih selektif agar transisi menuju penutupan tambang di masa depan berjalan mulus. 

Adapun, sentimen pasar yang paling krusial dan perlu dicermati adalah efektivitas kebijakan pemerintah dalam menekan produksi batubara nasional guna menstabilkan harga komoditas global yang sempat tertekan. 

Selain itu, investor secara historis mencermati siklus pembagian dividen final ITMG yang biasanya diumumkan pada kuartal pertama dengan proyeksi imbal hasil (yield) yang tetap atraktif bagi pemegang saham. “Faktor eksternal seperti fluktuasi harga gas alam dunia dan permintaan energi musiman di pasar ekspor utama juga tetap menjadi indikator penting dalam menentukan arah pergerakan harga jual rata-rata (ASP) Perseroan,” kata Abida. 

Pengumuman MSCI Berpotensi Picu Arus Dana Asing Keluar, Ini Respons BEI

Arief Machrus, Kepala Riset Ina Sekuritas menyampaikan bahwa pasar batubara Indonesia semakin ketat menjelang tahun 2026 karena langkah-langkah kebijakan semakin membatasi pasokan. Rencana pungutan ekspor sebesar 1% sampai 5% mulai tahun fiskal 2026 dapat menghasilkan sekitar Rp 20 triliun (US$ 1,2 miliar) per tahun. 

Ia mencatat produksi batubara menurun sekitar 8% yoy menjadi 585 metrik ton (Mt) pada sembilan bulan tahun 2025, dibandingkan 836,1 Mt pada sembilan bulan tahun 2024. Sementara ekspor turun sekitar 5% yoy menjadi 285 Mt. 

Total produksi diperkirakan akan turun di bawah 700 metrik ton (Mt) pada tahun fiskal 2026, dibandingkan target 735 Mt – 740 Mt yang awalnya dibahas untuk tahun 2025. Meskipun permintaan domestik tetap kuat di sekitar 200 Mt – 250 Mt, naik 8% dari target tahun fiskal 2025 sebesar 229,3 Mt. Permintaan dari Asia terus menyumbang lebih dari 60% dari konsumsi global.

“Bagi ITMG, kondisi jangka pendek tetap menantang, sementara prospek jangka panjang secara bertahap membaik. Seiring pulihnya harga batubara menjelang tahun penuh 2026, pendapatan diperkirakan akan kembali normal,” ujar Arief dalam risetnya pada 8 Januari 2026. 

Pemerintah Siapkan 8 Seri SBN Ritel 2026, Segini Targetnya

Sementara itu, Rizal Rafly, Analis Ajaib Sekuritas Asia menyampaikan bahwa secara keseluruhan, pajak ekspor, disiplin produksi, dan potensi pengetatan DMO akan mendefinisikan kembali lanskap batubara Indonesia tahun 2026 dan kekuatan penetapan harganya di pasar dimana India dan Asia Tenggara mencakup sekitar 35% dari permintaan. 

“Kami memperkirakan harga batubara akan stabil atau secara bertahap pulih menuju kisaran US$ 120 – US$ 125 per ton pada tahun 2026, didukung oleh pengetatan pasokan dan permintaan impor yang kuat secara struktural dari India dan Asia Tenggara,” jelas Rizal dalam risetnya pada 12 Desember 2025. 

Arief memproyeksikan pendapatan dan laba bersih ITMG tahun 2025 masing – masing dapat mencapai US$ 1,92 miliar dan US$ 202,3 juta. Pendapatan dan laba bersih ITMG tahun 2026 diproyeksi mencapai US$ 1,93 miliar dan US$ 199,9 juta. Adapun pada tahun 2024, ITMG mengantongi pendapatan US$ 2,30 miliar dan laba bersih US$ 374,1 juta. 

Rizal dan Abida merekomendasikan buy saham ITMG dengan target harga masing – masing Rp 24.300 per saham dan Rp 27.300 per saham. Sementara Arief merekomendasikan netral saham ITMG dengan target harga Rp 24.350 per saham.

Leave a Comment