Muamalat.co.id JAKARTA. Dewan Pengurus Daerah Real Estat Indonesia DKI Jakarta menggandeng PT Bursa Efek Indonesia menggelar workshop untuk mendorong pengembang memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pembiayaan jangka panjang.
Ketua DPD REI DKI Jakarta Arvin F. Iskandar mengatakan, pascapandemi perbankan makin selektif menyalurkan kredit ke sektor properti. Persetujuan KPR dan KPA pun lebih ketat. Padahal, struktur pembiayaan pengembang selama ini sekitar 30% modal sendiri dan 70% pinjaman bank.
“Siklus proyek properti yang panjang dan kebutuhan modal besar membuat ketergantungan pada bank tidak lagi cukup, terutama di tengah pasar yang fluktuatif,” kata Arvin dalam keterangannya, Selasa (24/2).
Bocoran BEI, 8 Calon Emiten Segera IPO di 2026, 5 Beraset Jumbo
Melalui workshop tersebut, REI DKI Jakarta mendorong pengembang menjajaki alternatif pendanaan, baik lewat penerbitan saham maupun surat utang seperti obligasi dan EBUS.
Arvin mengakui masih ada keraguan, khususnya dari pengembang menengah, karena proses go public dianggap kompleks dan menuntut tata kelola tinggi. Padahal, BEI menyediakan tiga papan pencatatan, Papan Utama, Papan Pengembangan, dan Papan Akselerasi, dengan dua papan terakhir lebih adaptif bagi perusahaan menengah.
REI DKI Jakarta menargetkan sekitar 5% atau 25 pengembang menengah anggotanya masuk proses menuju pasar modal pada 2026–2028. Jika tiap perusahaan menghimpun Rp 100 miliar–Rp 200 miliar, potensi dana yang terkumpul bisa mencapai sedikitnya Rp 5 triliun. Saat ini terdapat sekitar 92 perusahaan properti tercatat di BEI.
Listyorini Dian Pratiwi, Kepala Divisi Pengembangan Perusahaan Tercatat PT Bursa Efek Indonesia, menegaskan sektor properti berperan strategis dalam perekonomian dan menjadi indikator kepercayaan ekonomi. Pertumbuhan sektor ini mendorong pembiayaan, menciptakan lapangan kerja, serta memicu efek berganda ke konstruksi, perbankan, dan industri bahan bangunan.
Aktivitas IPO 2026 Diprediksi Lebih Selektif di Tengah Tekanan Sentimen Global
Saat ini terdapat 956 perusahaan tercatat saham dan 131 penerbit obligasi di BEI, dengan 92 emiten berasal dari sektor properti dan real estate. “Potensinya masih besar. Banyak pengembang siap scale up, tetapi terkendala akses pembiayaan. Pasar modal dapat menjadi katalis,” ujarnya.
Ia mencontohkan Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) yang memanfaatkan pasar modal sebagai strategi pendanaan jangka panjang. Sebelum IPO, BSDE menerbitkan obligasi dan setelahnya tetap aktif melakukan aksi korporasi, termasuk obligasi lanjutan dan pemanfaatan DIRE/REITs.
BEI, bersama REI DKI Jakarta, berkomitmen memperkuat kolaborasi melalui pendampingan dan edukasi agar pengembang lebih mudah mengakses pasar modal. Transformasi pembiayaan dinilai penting untuk membangun industri properti yang lebih sehat, transparan, dan berkelanjutan.