PT Pertamina (Persero) melakukan merger tiga subholding yaitu PT Pertamina Patra Niaga (PPN), PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan PT Pertamina International Shipping (PIS). Selanjutnya, PT KPI dan PT PIS akan berada di bawah PT Pertamina Niaga.
Perusahaan akan berada di bawah PT Pertamina Patra Niaga (PPN). BUMN sektor energi ini memang berencana menggabungkan tiga subholding atau anak usahanya yakni PPN, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan PT Pertamina International Shipping (PIS) pada akhir 2025.
“PT PPN selaku Perusahaan Hasil Penggabungan berencana untuk mengembangkan dan memperluas kegiatan usahanya di bidang pengolahan dan penyimpanan,” kata Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron kepada Katadata.co.id, Jumat (2/1).
Baron tidak menjelaskan apakah penggabungan tiga unit usahanya Pertamina ini sudah efektif per 1 Januari 2026 atau belum. Menurutnya waktu pelaksanaan merger ini masih mempertimbangkan kondisi operasional dalam momentum Natal dan Tahun Baru 2026.
Baca juga:
- Harga BBM Turun Serentak Awal 2026 di Pertamina, Shell, BP, Vivo: Ini Daftarnya
- Harga Pertamax Turun Mulai 1 Januari 2026, Cek Daftar Harga Baru BBM Pertamina
- Pertamina Patra Niaga Hadirkan Serambi MyPertamina di Bandara Bali
Meski PT PPN menjadi perusahaan hasil penggabungan, namun subholding ini akan tetap menjalankan kegiatan usahanya saat ini, yang mengelola bidang niaga sektor migas.
“Pertamina memastikan operasional dan layanan kepada masyarakat tetap berjalan normal, serta seluruh kewajiban kepada pelanggan dan mitra usaha dipenuhi sesuai ketentuan,” ujarnya.
Menurutnya, seluruh proses penggabungan ini dijalankan dengan prinsip kehati-hatian, transparansi, dan tata kelola yang baik. Dia menyebut penataan ulang sub-holding ini dilakukan untuk menyelaraskan struktur usaha dengan mandat pemerintah. Khususnya swasembada dan ketahanan energi nasional, serta mengurangi kompleksitas operasional.
Margin Berkurang
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri sebelumnya mengatakan perusahaan menargetkan penggabungan tiga anak usaha dapat rampung pada 2025.
“Prosesnya masih berjalan sekarang, jadi kami meminta arahan serta melaporkan ke Danantara. Memang targetnya sebelum akhir Desember 2025 sudah restrukturisasi, sudah berjalan,” kata Simon saat ditemui di Sarinah, Selasa (7/10).
Dalam pernyataan terpisah, Simon menjelaskan bahwa saat ini kondisi dunia menyebabkan penurunan keuntungan Pertamina. Kondisi global menyebabkan permintaan terhadap minyak menurun, sedangkan produksi kilang semakin meningkat karena banyaknya kilang baru.
“Dengan kondisi yang kurang menguntungkan bagi kami, kilang ini marginnya semakin kecil,” kata Simon dikutip dari Antara.
Ia mengatakan mengecilnya margin keuntungan yang diperoleh Kilang Pertamina Internasional berpengaruh kepada perusahaan Pertamina secara keseluruhan. Karena itu, ia mengatakan telah mengambil keputusan untuk menggabungkan tiga sub-holding agar dapat beroperasi dengan lebih efektif.
“Iya, nanti akan digabungkan. Mungkin bisa saja (penggabungan dengan nama baru). Bisa jadi Patra Kilang Shipping,” ujar Simon.