Tekanan beruntun datang di awal tahun: Defisit melebar, rupiah anjlok, IHSG jeblok
Pemerintahan Prabowo Subianto menghadapi tekanan fiskal, moneter, dan finansial awal 2026. Defisit APBN melebar, rupiah melemah, dan IHSG anjlok.
Pemerintahan Prabowo Subianto menghadapi tekanan fiskal, moneter, dan finansial awal 2026. Defisit APBN melebar, rupiah melemah, dan IHSG anjlok.
Ruang fiskal Indonesia menyempit akibat defisit APBN 2025, mendorong peran Bank Indonesia dalam menstimulasi ekonomi melalui kebijakan moneter yang lebih longgar.
IHSG menguat 0,13% ke 8.936,75 didorong saham BBCA, DSSA, dan AMMN. Penguatan ini terjadi di tengah sentimen defisit APBN dan peningkatan cadangan devisa.
Ekspansi fiskal 2025 dinilai menekan kebijakan moneter BI, memicu ketegangan dengan Menkeu Purbaya. BI harus menjaga stabilitas meski fiskal ‘reckless’.
Kemenkeu membantah isu Menkeu Purbaya terlibat dalam penyitaan uang korupsi. Uang rampasan Rp6,62 triliun diserahkan Kejagung dan Satgas PKH untuk PNBP.
Kemenkeu pastikan penerbitan surat utang jangka pendek 2026 efisien dan tak tambah utang, fokus pada pendalaman pasar dan manajemen kas.
Kemenkeu dinilai berpotensi melakukan ijon pajak karena penerimaan pajak baru mencapai 70,2% dari target, sedangkan defisit APBN diperkirakan melebar.
Bank Indonesia kembali menerapkan skema burden sharing untuk mendukung program ekonomi pemerintah di tengah defisit APBN. Kebijakan ini menimbulkan risiko terhadap independensi moneter dan stabilitas pasar.