Tangkap potensi IPO WBSA, IPOT bidik investor ritel

Jakarta, IDN Times – Pasar penawaran perdana saham alias initial public offering (IPO) 2026 kembali menggeliat seiring dengan rencana PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Dengan begitu, WBSA bakal menjadi emiten perdana pada tahun ini. Perusahaan bakal melepas sebanyak 1,8 miliar saham atau setara 20,75 persen dari total modal ditempatkan dan disetor penuh, dengan kisaran harga penawaran Rp150 hingga Rp170 per saham.

Adapun dari aksi korporasi tersebut, WBSA menargetkan perolehan dana segar hingga Rp306 miliar.

1 Penggunaan dana hasil IPO

Berdasarkan perencanaannya, alokasi dana hasil IPO akan difokuskan untuk ekspansi anorganik, termasuk akuisisi PT Bermuda Inovasi Logistik (BIL) guna memperkuat lini bisnis angkutan laut. Langkah tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi operasional dan memperkuat posisi WBSA di industri logistik nasional.

Sebagai perusahaan logistik yang telah berdiri sejak 1992, WBSA memiliki layanan end-to-end mulai dari transportasi darat, freight forwarding, pergudangan, hingga Inland Logistics Terminal (ILT).

Adapun kinerja keuangan perusahaan juga menunjukkan fundamental yang solid dengan total aset Rp1,15 triliun dan laba bersih Rp24,39 miliar per September 2025.

2. Informasi penting terkait IPO WBSA

Sebelum memutuskan untuk berinvestasi, informasi berikut penting bagi investor untuk mencatat jadwal dan struktur penawaran saham WBSA:

  • Jumlah Saham: Maksimal 1,80 miliar saham

  • Harga Penawaran:  Rp150 – Rp170 per saham

  • Target Dana: Hingga Rp306 miliar

  • Kepemilikan Publik: 20,75 persen

  • Masa Bookbuilding: 25 – 27 Maret 2026

  • Masa Penawaran Umum: 1 – 8 April 2026

  • Tanggal Listing (BEI): 10 April 2026

3. Minat investor ritel terhadap IPO semakin meningkat

Sementara itu, Chief Marketing Officer PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Sergio Ticoalu mengatakan, minat investor ritel terhadap IPO terus meningkat. Melalui aplikasi IPOT, pihaknya ingin memastikan akses yang lebih inklusif, cepat, dan berbasis teknologi agar investor dapat mengambil keputusan investasi secara lebih tepat.

“Kemudahan cara beli saham di IPOT ini dirancang untuk memangkas birokrasi bagi investor ritel. Fitur real-time indicator yang kami hadirkan juga menjadi diferensiasi penting, terutama untuk saham IPO yang belum memiliki data historis. Ini membantu investor membaca pergerakan pasar sejak awal,” tutur Sergio dalam pernyataan resminya, Jumat (3/4/2026).

Kondisi tersebut akan mempermudah akses Investor untuk dapat memantau status penjatahan secara real-time melalui aplikasi. Hal tersebut juga termasuk sistem refund dana cepat serta tampilan saham di portofolio sebelum hari pencatatan.

Mengacu pada SEOJK No. 25/2025, investor ritel kini mendapatkan jaminan penjatahan minimum 10 lot per SID untuk emisi tertentu, termasuk WBSA yang masuk dalam kategori Golongan III. Hal ini akan memperluas akses dan peluang yang lebih besar bagi para investor retail di bursa saham Indonesia.

Free Float IPO Naik ke 15 Persen, Emiten Punya Waktu 3 Tahun 3 Tahun Absen, BUMN Mulai IPO Lagi di 2027 BEI Targetkan 6 Perusahaan Lighthouse IPO Tahun Ini

Leave a Comment