
NEW YORK. Indeks-indeks utama Wall Street mengakhiri perdagangan akhir pekan lalu dengan pelemahan signifikan. Sentimen negatif ini sebagian besar dipicu oleh anjloknya saham Dell, Nvidia, dan beberapa emiten terkait kecerdasan buatan (AI) lainnya. Di sisi lain, pasar juga mencermati data inflasi terbaru yang mengindikasikan bahwa tarif impor mulai memberikan tekanan pada harga.
Menurut laporan Reuters, indeks S&P 500 mengalami penurunan 0,64%, mengakhiri sesi pada level 6.460,26. Indeks komposit Nasdaq, yang banyak dihuni saham-saham teknologi, mencatatkan pelemahan lebih tajam sebesar 1,15% menjadi 21.455,55. Sementara itu, indeks Dow Jones Industrial Average menunjukkan penurunan yang lebih moderat, terkoreksi 0,20% ke posisi 45.544,88.
Dari sebelas indeks sektor S&P 500, enam di antaranya berhasil menguat. Sektor kesehatan memimpin penguatan dengan kenaikan 0,73%, diikuti oleh sektor barang konsumsi pokok yang naik 0,64%. Namun, indeks teknologi S&P 500 justru terpukul paling dalam, merosot 1,63%, mencerminkan sentimen negatif terhadap sektor tersebut. Volume perdagangan saham di bursa AS pada hari itu mencapai 14,8 miliar saham, sedikit di bawah rata-rata 20 hari perdagangan terakhir sebesar 16,4 miliar saham.
Meskipun terjadi pelemahan pada akhir pekan, ketiga indeks utama sejatinya telah mencatatkan kinerja bulanan yang positif. Sepanjang bulan, S&P 500 menguat 1,9%, Dow Jones naik 3,2%, dan Nasdaq melaju 1,6%. Namun, pada sesi Jumat, sejumlah saham teknologi besar mengalami tekanan. Saham Dell anjlok hampir 9%, menjadikannya salah satu saham dengan penurunan terdalam di S&P 500. Kondisi ini muncul setelah tingginya biaya manufaktur untuk server yang dioptimalkan AI, ditambah ketatnya persaingan, membayangi proyeksi permintaan perusahaan yang optimistis terhadap infrastruktur kecerdasan buatan. Senada, saham Nvidia merosot 3,4%, menandai penurunan untuk hari ketiga berturut-turut, setelah laporan kuartalan raksasa AI itu pada hari Rabu gagal sepenuhnya memenuhi ekspektasi investor yang sangat tinggi, meskipun perusahaan menegaskan belanja terkait infrastruktur AI tetap solid.
“Pelemahan yang terjadi pada hari Jumat sebagian besar hanya terkonsentrasi di sektor teknologi, yang memang merupakan segmen pasar teratas saat ini,” ungkap Zachary Hill, kepala manajemen portofolio di Horizon Investments, Charlotte, Carolina Utara. Ia menambahkan, “Ini bukan kali pertama kami mengkhawatirkan adanya investasi berlebihan di sektor AI, potensi kurangnya peluang monetisasi, dan isu-isu sejenis.” Komentar ini menyoroti kekhawatiran yang terus-menerus terhadap keberlanjutan valuasi saham-saham AI.
Di tengah dinamika pasar saham, data ekonomi AS menunjukkan gambaran yang beragam. Belanja konsumen AS tercatat meningkat paling tinggi dalam empat bulan terakhir pada bulan Juli, diiringi kenaikan inflasi di sektor jasa. Namun, para ekonom tidak yakin bahwa sinyal kuat dari permintaan domestik ini akan menghalangi Federal Reserve (The Fed) untuk memangkas suku bunga pada bulan berikutnya, terutama dengan kondisi pasar tenaga kerja yang menunjukkan pelemahan. Selain itu, laporan dari Departemen Perdagangan pada hari Jumat juga mengindikasikan adanya tekanan harga yang berasal dari tarif impor. Pencabutan pembebasan tarif AS untuk impor paket di bawah US$ 800 yang juga berakhir pada hari Jumat, diperkirakan akan menaikkan biaya bagi pelaku bisnis, dan pada akhirnya, juga akan membebankan konsumen.
Konsensus di kalangan pedagang pasar saat ini secara luas memperkirakan The Fed akan melakukan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan September mendatang. Jim Smigiel, kepala investasi di SEI, berpendapat, “Bahkan jika kita menyaksikan kenaikan inflasi, yang tampaknya memang terjadi, The Fed kemungkinan besar akan mempertimbangkan untuk mengabaikannya, mengingat kenaikan ini cenderung terkait dengan dampak tarif impor dan bersifat sementara.” Pandangan ini menunjukkan keyakinan pasar bahwa The Fed akan memprioritaskan kondisi pasar tenaga kerja yang melemah.
Sebagai catatan, pasar saham AS akan ditutup pada hari Senin untuk memperingati libur Hari Buruh. Terlepas dari pelemahan pekan lalu, ekspektasi pemangkasan suku bunga telah menjadi katalisator penting. Ini terlihat dari indeks acuan S&P 500 dan indeks blue-chip Dow Jones yang berhasil mencatatkan kenaikan bulanan keempat berturut-turut. Sementara itu, Nasdaq, yang didominasi oleh saham-saham teknologi, bahkan menorehkan kenaikan bulanan kelima secara beruntun, menunjukkan kekuatan fundamental jangka menengah di tengah volatilitas jangka pendek.
Di tengah gejolak pasar, saham Alibaba yang diperdagangkan di AS justru melonjak impresif sebesar 13%. Lonjakan ini menjadikannya salah satu saham yang paling banyak diperdagangkan di Wall Street, menyusul laporan pertumbuhan kuartalan perusahaan asal China tersebut yang melampaui ekspektasi dalam bisnis komputasi awannya, didorong oleh peningkatan permintaan terkait AI. Lebih lanjut, Wall Street Journal juga memberitakan bahwa Alibaba telah berhasil mengembangkan chip AI baru, menambah sentimen positif terhadap prospek perusahaan.
Dalam perkembangan terkait kebijakan moneter, Gubernur The Fed, Christopher Waller, yang disebut-sebut sebagai kandidat kuat untuk posisi puncak bank sentral, menyampaikan pada hari Kamis bahwa ia berkeinginan agar pemangkasan suku bunga dimulai pada bulan depan. Pandangan ini sejalan dengan seruan Presiden Donald Trump yang juga menginginkan penurunan suku bunga. Sementara itu, pertarungan hukum yang belum pernah terjadi sebelumnya terkait upaya Trump untuk memecat Gubernur Federal Reserve Lisa Cook berakhir pada hari Jumat tanpa putusan langsung dari hakim. Artinya, pembuat kebijakan bank sentral AS tersebut akan tetap memegang jabatannya untuk saat ini, menjaga stabilitas di tubuh The Fed.
Ringkasan
Wall Street mengalami pelemahan di akhir pekan lalu, terutama dipicu oleh penurunan saham Dell dan Nvidia serta kekhawatiran seputar sektor kecerdasan buatan (AI). Data inflasi terbaru yang menunjukkan tekanan harga dari tarif impor juga turut memengaruhi sentimen pasar. Meskipun demikian, S&P 500, Dow Jones, dan Nasdaq mencatatkan kinerja bulanan yang positif.
Sektor teknologi menjadi yang paling terpukul, sementara sektor kesehatan dan barang konsumsi pokok mengalami penguatan. Pasar juga mencermati data ekonomi AS yang beragam dan ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed. Saham Alibaba melonjak signifikan setelah laporan pertumbuhan kuartalan yang melampaui ekspektasi.