HSBC: Minim IPO baru bikin pasar modal Indonesia tertinggal di Asia

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar modal Indonesia dinilai membutuhkan dorongan lebih besar untuk menghadirkan emiten-emiten baru.

Head of Equity Strategy Asia Pacific HSBC Global Research, Herald van der Linde, menilai jumlah dan variasi penawaran umum perdana (IPO) di Indonesia masih tertinggal dibanding pasar Asia lainnya. Kondisi ini berpotensi membuat kapitalisasi pasar Indonesia semakin mengecil dalam peta investasi regional.

“Di tahun 2025 dan 2026, kita melihat gelombang IPO di Korea, China, Hong Kong, dan India. Itu membuat pasar mereka tumbuh lebih besar dan memberi ruang bagi tabungan domestik untuk masuk ke pasar modal,” ujar Herald dalam paparan HSBC Outlook 2026, Senin (12/1/2026).

Rupiah Cetak Rekor Terlemah Senin (12/1), Ditutup di Rp 16.855 per Dolar AS

Herald menilai ekosistem pasar modal Indonesia relatif stagnan karena komposisi emitennya tidak banyak berubah sejak dekade 1990-an. Perusahaan-perusahaan besar yang mendominasi indeks masih sama, sementara perusahaan pertumbuhan (growth companies) belum banyak masuk ke bursa.

“Struktur pasar Indonesia hampir tidak berubah sejak saya mulai menganalisisnya di tahun 1990-an. Pemainnya masih itu-itu saja. Kita perlu lebih banyak perusahaan baru masuk, terutama yang punya model bisnis modern dan prospek pertumbuhan,” jelasnya.

Menurut Herald, tren IPO yang lambat membuat Indonesia berisiko kehilangan daya tarik di mata investor asing. Ia mencontohkan bagaimana pasar saham Filipina mulai terpinggirkan dalam alokasi portofolio global karena kurangnya pendatang baru.

“Jika tidak ada pipeline IPO yang kuat, pasar Anda akan relatif mengecil dibanding pasar lain di kawasan dan akhirnya menjadi kurang penting dalam indeks investasi Asia,” tegasnya.

Herald menambahkan bahwa regulator dan perusahaan perlu mencari keseimbangan antara proses yang cepat dan standar pencatatan yang terjaga. Regulasi harus memastikan kemudahan IPO tanpa mengorbankan kualitas, sementara perusahaan perlu memahami manfaat menjadi perusahaan publik, termasuk akses pendanaan dan penguatan citra.

“Kita butuh pasar yang berkembang. Kalau tidak, investor akan berpaling ke pasar yang menawarkan cerita baru,” pungkasnya.

Prospek Kinerja Hermina (HEAL) Dinilai Cerah Tahun 2026, Ini Rekomendasi Analis

Leave a Comment