KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indonesia kembali menempati posisi atas dalam peta proyeksi pasar saham Asia. HSBC menempatkan Indonesia di kategori Overweight dengan potensi kenaikan indeks sebesar 12,9% pada 2026, menjadikannya salah satu pasar paling menarik di kawasan.
Posisi ini menempatkan Indonesia di bawah China yang diproyeksikan naik 19,6% dan Hong Kong yang berpotensi tumbuh lebih dari 14%, namun jauh mengungguli negara tetangga seperti Malaysia yang hanya diproyeksikan naik 7,2%, Filipina 4,8%, hingga Singapura yang diperkirakan tumbuh 3,8%.
HSBC sendiri menargetkan IHSG mencapai level 9.450 pada akhir 2026, lebih tinggi dari target 2025 di 8.500. Sementara negara lain seperti Taiwan, Korea Selatan, Thailand, dan Jepang hanya tercatat memiliki potensi pertumbuhan di kisaran 0,5% sampai 4%.
Dengan demikian, Indonesia menjadi salah satu dari tiga pasar dengan proyeksi kenaikan tertinggi di Asia bersama China dan India.
Pasca Akuisisi, Sampoerna Agro (SGRO) Ganti Nama Jadi Prime Agri Resources
Di tengah optimisme tersebut, valuasi pasar Indonesia disebut masih memiliki ruang untuk menguat. Saham-saham berkapitalisasi besar dinilai masih tertinggal karena tidak banyak bergerak sepanjang 2025, sementara lonjakan IHSG tahun lalu lebih banyak ditopang oleh emiten konglomerasi yang aktif melakukan aksi korporasi.
Pengamat pasar modal sekaligus Co-Founder Pasardana, Hans Kwee, menegaskan bahwa kondisi tersebut justru membuka peluang. “Valuasi saham Indonesia masih rendah, terutama big cap yang tidak naik di tahun 2025,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (14/1/2026).
Ia menjelaskan bahwa pergerakan indeks pada 2025 lebih didorong oleh saham konglomerasi. “Tahun lalu kita naik lebih banyak karena saham konglo yang banyak corporate action dan rencana masa depan,” katanya.
Hans melihat potensi kenaikan big cap pada 2026 akan didukung kuat oleh aliran dana asing. Arus modal masuk diperkirakan menguat seiring prediksi pelemahan dolar AS sepanjang 2026 serta kemungkinan penyesuaian alokasi investor global ke emerging markets.
“Tahun ini Indonesia didukung aliran dana asing yang masuk ke saham dan potensi naiknya saham big cap serta saham konglo yang masih akan naik karena aksi korporasi dan pertumbuhan masa depan plus potensi masuk MSCI,” jelasnya.
Sektor-sektor yang diperkirakan menjadi penerima manfaat utama antara lain keuangan, konsumsi, teknologi, dan komoditas seperti batu bara, nikel, timah, dan emas. “Sektor untung adalah keuangan, konsumsi, teknologi dan komoditas khususnya batu bara dan nikel, timah serta emas,” ujar Hans.
Bank Mandiri (BMRI) Bayar Dividen Interim Rp 9,3 Triliun Hari Ini, Rabu (14/1/2026)
Meski prospek Indonesia relatif unggul dibanding negara kawasan, Hans mengingatkan bahwa stabilitas fiskal tetap menjadi kunci agar investor asing tetap percaya.
“Risiko Indonesia ada di defisit APBN, harus tetap dijaga agar kepercayaan asing tinggi ke Indonesia,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa efektivitas program pemerintah menjadi penentu kelanjutan momentum pemulihan. “Program pemerintah harus tepat sasaran agar ekonomi tumbuh,” kata Hans.
Dengan kombinasi valuasi yang masih menarik, potensi capital inflow yang besar, serta peluang kenaikan big cap yang belum terealisasi, pasar saham Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu tujuan investasi paling kompetitif di Asia sepanjang 2026.