Keperkasaan dolar AS dan tekanan domestik bikin mata uang Asia bergerak fluktuatif

Muamalat.co.id — JAKARTA. Setelah sempat melemah di pagi hari, sejumlah mata uang Asia bergerak fluktuatif pada perdagangan Rabu (14/1/2026)

Mengutip data Bloomberg, pukul 16.50 WIB yen Jepang (JPY) menguat 0,21% ke level 158,81 per dolar AS, won Korea (KRW) naik 0,25% ke 1.472,35 per dolar AS, dolar Singapura (SGD) menguat 0,11% ke 1,28 per dolar AS, dan yuan China (CNY) naik 0,07% ke 6,97 per dolar AS. Rupiah (IDR) ditutup menguat tipis 0,07% ke Rp16.865 per dolar AS. Sementara itu, peso Filipina (PHP) masih melemah 0,18% ke level 59,44 per dolar AS.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menjelaskan, pelemahan sejumlah mata uang Asia karena penguatan dolar AS serta tekanan faktor domestik masing-masing negara. “Selain dolar AS yang menguat, JPY tertekan oleh spekulasi bahwa Perdana Menteri Sanae Takaichi mungkin akan mengadakan pemilihan umum mendadak bulan depan untuk mengkonsolidasikan kekuasaan dan mempercepat kebijakan fiskal ekspansif,” ujar Lukman.

Pasar Saham Indonesia Diproyeksi Menguat pada 2026, Tantangan IPO Masih Membayangi

Menurut Lukman, won Korea masih menghadapi tekanan jangka panjang seiring pelemahan ekonomi Korea Selatan dan meningkatnya simpanan dolar masyarakat di perbankan. Sementara itu, sentimen terhadap peso Filipina dinilai masih negatif akibat defisit transaksi berjalan dan fiskal, arus keluar modal, serta prospek pertumbuhan ekonomi yang lemah.

Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo menambahkan, pelemahan mata uang Asia juga dipicu divergensi kebijakan moneter dengan Amerika Serikat. Yen tertekan oleh keraguan pasar terhadap kemampuan Bank of Japan menaikkan suku bunga, sementara won terbebani tingginya utang rumah tangga dan volatilitas sektor properti. Di Filipina, peso melemah setelah bank sentral memberi sinyal pelonggaran kebijakan demi menopang pertumbuhan ekonomi.

Dari sisi eksternal, Lukman menilai pergerakan valas Asia pada 2026 masih sangat dipengaruhi prospek kebijakan suku bunga The Fed, dinamika geopolitik, kebijakan tarif, serta arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Di tengah tekanan tersebut, sentimen kecerdasan buatan (AI) masih berpotensi menopang yen dan won selama kekhawatiran pecahnya gelembung AI belum terjadi

Sutopo menambahkan ketidakpastian transisi kebijakan The Fed dan meningkatnya persepsi dolar AS sebagai aset aman turut menahan penguatan mata uang Asia. 

Ke depan, prospek mata uang Asia sepanjang 2026 diperkirakan masih kurang solid meski dolar AS sendiri diproyeksikan cenderung melemah. Lukman menilai yuan China (CNY) berpotensi menjadi mata uang Asia yang relatif paling kuat, namun ruang penguatannya terbatas karena otoritas moneter China diperkirakan tidak akan membiarkan CNY bergerak jauh dari level 7 per dolar AS. 

Sementara itu, Sutopo melihat stabilisasi mata uang Asia baru berpeluang terjadi pada paruh kedua tahun ini, seiring menunggu kejelasan arah pelonggaran suku bunga AS dan meredanya tekanan geopolitik yang masih membayangi arus modal kawasan.

Rupiah Menguat ke Rp 16.865 pada Rabu (14/1), Cek Proyeksinya untuk Kamis (15/1)

Lukman memperkirakan USD/JPY berpeluang melewati level 160 per dolar AS, bahkan berisiko menuju 170 jika kebijakan fiskal longgar berlanjut. USD/KRW diproyeksikan bergerak di atas 1.500–1.550, sementara USD/PHP diperkirakan berada di kisaran 62–63.

Kalau Sutopo memproyeksikan USD/JPY bergerak di rentang 154–161 dengan risiko intervensi otoritas jika mendekati level psikologis 160. USD/KRW diperkirakan berada di kisaran 1.420–1.485, sedangkan USD/PHP diproyeksikan bergerak volatil di rentang 58,5–60,0 sepanjang 2026.

Leave a Comment