KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sentimen daya beli masih menjadi faktor yang membayangi prospek kinerja emiten ritel, termasuk dua emiten konstituen LQ45 yakni PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) dan PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA).
Research Analyst Henan Putihrai Sekuritas Irsyady Hanief mengatakan, konsumen Indonesia, khususnya di segmen menengah ke bawah telah menghadapi pelemahan daya beli selama dua tahun terakhir. Ini disebabkan oleh belanja pemerintah yang lemah dan berkurangnya lapangan pekerjaan.
Namun, kondisi ini menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Penjualan ritel nasional tumbuh 6,3% secara tahunan (Year on Year/YoY) pada November 2025, tertinggi sejak Maret 2024. Ini didukung oleh belanja pemerintah yang tinggi sepanjang 2025 senilai Rp 3.451,4 triliun melalui program seperti makan bergizi gratis, subsidi energi dan Koperasi Desa Merah Putih.
“Kebijakan fiskal yang ekspansif ini diperkirakan berlanjut di tahun 2026, sehingga akan mendukung pemulihan daya beli dan belanja konsumen kedepannya,” kata Irsyady kepada Kontan, Rabu (14/1/2026).
Simak Prospek SGRO Usai Berganti Nama Jadi Prime Agri Resources Pasca Akuisisi
Dengan kondisi tersebut, Irsyady menilai, emiten ritel seperti MAPI dan MAPA berpeluang memetik manfaat. Kedua perusahaan dinilai telah meningkatkan efisiensi operasional melalui penerapan disiplin biaya yang ketat, serta kinerja bisnis internasional yang kian mendekati titik profitabilitas.
Pada tahun 2026, Irsyady memproyeksikan pertumbuhan kinerja akan didorong oleh penjualan iPhone 17 serta ekspansi gerai baru, khususnya di segmen Active.
Selain itu, dukungan domestik datang dari penambahan jaringan gerai dan diversifikasi portofolio melalui Ace Hardware AS, serta penguatan pasar global lewat peningkatan ekspor ke negara-negara utama seperti Malaysia dan Filipina dengan mengandalkan kekuatan portofolio jenama.
Head of Retail Research Sinarmas Sekuritas Ike Widiawati menambahkan, kondisi ekonomi 2026 diperkirakan lebih positif dibandingkan tahun 2025. Prospek ini ditopang oleh iklim investasi dan kondisi politik dalam negeri yang lebih stabil. Kondisi daya beli juga diperkirakan optimis dibandingkan tahun 2025.
Dengan demikian untuk prospek MAPI dan MAPA diperkirakan lebih baik di tahun 2026 dan berpotensi membukukan laba bersih yang jauh lebih solid.
“Untuk MAPA dan MAPI memiliki potensi fundamental yang positif dan berpeluang membukukan pertumbuhan laba bersih double digit di tahun 2026,” ucap Ike kepada Kontan, Rabu (14/1/2026).
IHSG Berpotensi Menguat Usai Cetak Rekor, Cek Saham Pilihan Analis, Kamis (15/1)
Tak hanya itu, Ike juga melihat prospek kinerja MAPA dan MAPI memiliki peluang yang sama bagusnya, didukung oleh tren gaya hidup lebih sehat sehingga permintaan produk untuk penunjang olahraga masih akan bertumbuh dalam rentang yang moderat.
“Katalis pendukung kinerja MAPI dan MAPA berasal dari gaya hidup masyarakat yang lebih sehat, angka spending yang lebih baik serta optimisme ekonomi tahun 2026 yang lebih baik dibandingkan tahun 2025,” tambah Ike.
Namun, Irysady mengingatkan risiko utama yang perlu diwaspadai adalah depresiasi nilai tukar rupiah. Pasalnya, MAPI dan MAPA masih mengimpor sebagian besar produknya dalam denominasi dolar Amerika Serikat.
“Pelemahan rupiah yang signifikan dapat memberikan tekanan pada margin keuntungan perusahaan,” tambah Irsyady.
Rekomendasi Saham
Secara teknikal, Henan Putihrai Sekuritas merekomendasikan beli saham MAPI dengan area masuk di kisaran Rp 1.150–Rp 1.160, target harga Rp 1.240–Rp 1.250, serta stop loss di level Rp 1.110–Rp 1.115.
Ike menambahkan saham MAPI dan MAPA saat ini masih dalam kondisi downtrend sehingga diharapkan investor dapat mempertimbangkan untuk melihat dan memantau kedua saham ini. Ia menyarankan untuk melakukan strategi buy on weakness untuk saham MAPI dan MAPA.
Hingga akhir perdagangan Rabu (14/1/2026), saham MAPI menguat 2,61% ke level Rp 1.180 per saham. Tapi, saham ini masih terkoreksi 18,34% dalam setahun perdagangan terakhir. Sementara itu, saham MAPA hanya mencatatkan penguatan tipis 0,8% ke posisi Rp 630. Pada setahun perdagangan terakhir, pergerakan harga saham ini turun dalam hingga 38,54%.
Menilik Prospek Emiten BUMN Karya Jelang Merger dan Rekomendasi Analis