Muamalat.co.id Indeks S&P 500 menembus level psikologis 7.000 untuk pertama kalinya pada perdagangan Rabu (28/1/2026), sementara Nasdaq bergerak mendekati rekor tertinggi.
Penguatan pasar didorong oleh reli saham semikonduktor serta optimisme investor menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve dan rilis kinerja keuangan perusahaan teknologi besar (Big Tech).
Daaz Bara (DAAZ) Kucurkan Pinjaman ke Anak Usaha Genjot Modal Kerja
Melansir Reuters, pukul 09.32 waktu setempat, Dow Jones Industrial Average naik 140,33 poin atau 0,29% ke level 49.143,74.
Indeks S&P 500 menguat 22,45 poin atau 0,32% ke 7.001,05, sedangkan Nasdaq Composite naik 147,93 poin atau 0,62% ke 23.965,03.
Kenaikan S&P 500 mencerminkan optimisme berkelanjutan terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI), ekspektasi laba kuat dari Big Tech, serta harapan pelonggaran kebijakan moneter.
Akselerasi kenaikan indeks juga semakin cepat dalam beberapa tahun terakhir, menandakan meningkatnya kepercayaan investor terhadap ekonomi AS dan kinerja korporasi.
Dukung Efisiensi Operasional, Chandra (TPIA) Hadirkan Shared Service Center
Secara historis, S&P 500 membutuhkan sekitar tiga tahun untuk naik dari level 4.000 ke 5.000. Namun, indeks tersebut hanya memerlukan sekitar sembilan bulan untuk melonjak dari 5.000 ke 6.000, yang dicapai pada November 2024.
Optimisme terkait AI menjadi pendorong utama pasar AS, mengangkat saham-saham teknologi besar seperti Nvidia, Microsoft, dan Alphabet. Sektor teknologi kini menyumbang hampir 50% dari bobot S&P 500.
Dari sisi kebijakan, ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed turut meningkatkan minat terhadap aset berisiko.
Pelaku pasar memperkirakan dua kali pemangkasan suku bunga masing-masing 25 basis poin pada 2026, setelah bank sentral AS memangkas suku bunga tiga kali tahun lalu.
Meski demikian, The Fed diperkirakan menahan suku bunga pada pertemuan yang digelar hari ini.
Pasar saham AS juga telah pulih ke rekor tertinggi setelah sempat tertekan awal bulan ini oleh kekhawatiran terkait ketegangan AS–NATO soal Greenland, ketidakpastian tarif, serta isu independensi bank sentral AS.
Bikin IHSG Terpukul, Kenapa MSCI Bekukan Evaluasi Saham Indonesia? Begini Kata Analis
Menurut data LSEG, laba perusahaan-perusahaan anggota S&P 500 diperkirakan tumbuh 15,5% pada 2026, meningkat dari proyeksi pertumbuhan 13,2% pada 2025.
Lonjakan laba sektor teknologi yang ditopang boom AI diperkirakan menjadi motor utama pertumbuhan korporasi AS pada kuartal IV, dengan estimasi kenaikan laba sekitar 27%, dibandingkan proyeksi kenaikan 9,2% untuk keseluruhan perusahaan S&P 500.
Sementara itu, pertumbuhan pendapatan sektor teknologi pada kuartal tersebut diperkirakan mencapai 18%, jauh di atas estimasi kenaikan 7,3% untuk keseluruhan S&P 500.
Sejak menyentuh titik terendah pada April 2025, saat pasar global terguncang oleh kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump, S&P 500 telah rebound hampir 45%.